Penulis Berita : Siti Tarisah/ Peserta PKU Unida Gontor Angkatan XV

Fenomena K-Pop dan Self-Love merupakan dua tema yang lekat dengan kehidupan generasi muda saat ini terutama anak-anak muda di Indonesia. Dilansir dari Kompas.com, Indonesia termasuk dalam lima besar negara yang penduduknya ialah penggemar K-POP. Mayoritas para penggemar K-Pop ini mengaku mendapat kebahagian tersendiri saat melihat idol-nya sehingga banyak diantara mereka rela menghabiskan uang demi membeli album atau menonton konser idolanya tersebut. Jika dikaitkan dengan self-love, maka perbuatan tersebut merupakan perbuatan memenuhi kebutuhan diri yang berlebihan. Dengan demikian, dua tema tadi menarik untuk dibahas lebih lanjut untuk mengetahui dampak apa saja yang timbul dari fenomena K-POP dan Self-Love ini.

Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam Program Kaderisasi Ulama (PKU) XV Universitas Darussalam Gontor bekerja sama dengan Pondok Pesantren Daarul Abror Putri dan Dea Malela Putri pada selasa, (16/11/21) ini dibuka oleh sambutan beberapa tokoh penting yaitu Ustadzah Mildayani, S. Pd, pengasuh Pondok Pesantren Daarul Abror Putri, Ustadzah Dr. Rashda Diana, Lc, M.A, pimpinan Pondok Pesantren Dea Malela Putri dan Ustadzah Tistigar Sansayto, M. Ag, pembimbing PKU XV Universitas Darussalam Gontor. Workshop ini kemudian diisi oleh Azizah Romadhana yang membawakan judul “Dampak Industri Budaya K-Pop terhadap Mentalitas Manusia: Tinjuan Kritis” dan Livi Husnia Aidatul Fitroti dengan judul “Self-Love dalam Psikologi Modern: Tinjauan Kritis.”

Baca juga : Sexsual Consent dan Konsep Berkeluarga

Azizah menjelaskan bahwa fenomena K-Pop berasal dari industri budaya yang telah difasilitasi oleh Pemerintah dan agensi Entertaiment Korea Selatan. Mengutip dari Theodor W. Adorno dalam bukunya “The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture” industri budaya dibuat agar masyarakat mengomsumsinya. Artinya industri budaya dalam Korea Selatan memproduksi kebudayaannya untuk menjadi konsumsi masyarakat secara luas.

Lalu terdapat tiga dampak dari adanya industri K-pop ini yaitu pertama, konsumerisme, menyebabkan orang-orang mencari kepuasan hanya dari konsumsi. Kedua, Celebrity Worship Syndrom dibedakan menjadi entertainment-social yang hanya sebatas mencari informasi, Intense-personal, mulai membentuk komunitas sebagai penggemar K-Pop, dan Borderline-pathological, keadaan dimana seseorang mulai berfantasi tentang idolanya bahkan berani melakukan hal-hal diluar nalar (irasional). Ketiga, hedonisme, mengarahkan tujuan hidup hanya untuk mencari kebahagiaan yang bersifat materil saja. Ketiga dampak tersebut merupakan Sensate Mentality. Sensate Mentality ialah realitas, kebutuhan, tujuan dan kepuasan hanya bersifat inderawi.

Azizah kemudian menjabarkan mentalitas dalam Islam disebut dengan jiwa inderawi. Jiwa inderawi ini hanya berpusat pada pikiran atau proses berpikir sehingga rentan mengalami gangguan atau tidak sehat.  Ada tiga tingkat letak kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan yang paling bawah ialah eksternal (Khoiriyah). Kedua, tingkat tubuh (badaniyah). Ketiga, jiwa (nafsiyah), untuk mencapai kebahagiaan tingkat jiwa ini maka perlu mendekati realita hakiki yaitu Allah. Kebahagiaan dalam fenomena K-Pop ini terletak pada tingkat eksternal dan tubuh saja bukan seharusnya dicari untuk memenuhi kebahagiaan jiwa (nafsiyah). Dengan demikian, fenomena K-Pop tidak akan pernah bisa memenuhi kebahagiaan yang hakiki.

Pada pembahasan kedua, Livi Husnia memaparkan self-love pertama kali muncul di Barat dan pada awalnya berkonotasi negatif yang disamakan dengan sifat narsisme dan egoisme. Namun seiring berjalannya waktu, istilah self-love digunakan untuk mengatasi permasalahan mental seperti keterasingan, kesepian, kehampaan, tidak mencintai dirinya sendiri dan lain sebagainya. Pada hakikatnya tujuan self-love ialah percaya diri dengan cara memenuhi kebutuhan material (jasmani, inderawi) saja. Langkah awalnya dengan berhak membuat keputusan sendiri, apapun yang terjadi ialah menjadi diri sendiri, mencintai diri sendiri harus dengan tindakan, menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan jasmani, seperti healing, self-reward dan lain sebagainya. Cara-cara tersebut menjadikan manusia sebagai pusat dan tidak adanya batasan dalam memenuhi kebutuhan material dengan dalih self-love tadi.

Baca juga : Upaya Mendudukkan Kembali Makna Moderasi Beragama

Dalam Islam sendiri, self-love tidak bertentangan dengan Islam karena untuk mengenali Allah, manusia perlu mengenali dirinya sendiri terlebih dahulu dengan mengembangkan pengatahuan tentang tujuan dan kewajibannya hidup di dunia yang orientasinya ialah mengharapkan ridho Allah. Islam juga tidak melarang untuk memenuhi kebutuhan material, namun perlu dibatasi karena sesuatu yang berlebihan bukanlah sesuatu yang disukai Allah. Salah satu cara agar tidak self-love yang berlebihan adalah mendisiplinkan diri agar tidak terbujuk dalam bujuan nafsu duniawi serta membentengi diri dengan Iman. Dapat ditarik kesimpulan bahwa self-love dalam Islam bukan terbatas tetapi menempatkan kebutuhan sesuai dengan kadarnya.

Saat sesi tanya-jawab berlangsung, terdapat dua pertanyaan yang menarik. Pertama, dari Melda Machmud menanyakan tentang anak-anak dari Pondok Pesantren malah terpengaruh temannya dan mencari tau tentang K-Pop saat pulang ke rumah “apa sih langkah-langkah atau strategi yang dapat dilakukan untuk membentengkan diri atau mendisiplinkan diri mereka dengan iman agar tidak terpengaruh oleh K-POP?” Azizah menjawab pertanyaan tersebut merupakan bentuk kekhawatiran orang tua khususnya seorang ibu, maka ada tiga cara yang orang tua harus lakukan ialah memperbaiki komunikasi antara anak dan orang tua, orang tua harus mengetahui tentang K-Pop setidaknya dampak dari fenomena K-Pop agar tidak asal saat menasehati anaknya dan orang tua harus mengerti kemampuan anaknya untuk membantu anaknya produktif karena rata-rata penggemar K-Pop merupakan anak-anak yang kesepian. Kedua, pertanyaan berasal dari santri yang menanyakan tentang hukum mendengarkan musik dalam Islam yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan self-love. Livi Husnia mengatakan hukum mendengarkan musik dalam Islam sendiri berbeda-beda pendapat ulama dan ia mengambil pendapat ulama yang membolehkan. “Boleh mendengarkan musik yang bermakna yang baik, cari lagu yang bagus karena apa yang kita dengar mempengaruhi diri kita.” Jawab Livi Husnia dengan singkat.

“Kebahagian tubuh dan jiwa itu saling berkaitan” ucap ustadzah Tistigar dalam epilognya. Beliau merangkum kedua pemaparan mengenai fenomena K-Pop dan self-love dengan menjelaskan bahwa aturan yang ada dalam Islam hadir bukan untuk mengekang manusia. Persoalan-persoalan terkait dengan jiwa manusia, fisik dan metafisik bahkan banyak orang yang merasa hampa lalu menyakiti diri mereka bahkan sampai jiwa, mungkin saja karena kurangnya rasa sabar dan syukur dalam diri manusia. Contohnya hilangnya kenikmatan dalam sholat dan mengaji disebabkan kurangnya rasa sabar dan syukur tadi. Sebagai muslimpun kita dapat melakukan self-love dengan cara berpikir betapa banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita dan mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.