pku.unida.gontor.ac.id-Sejuknya Jakarta pagi masih terasa, saat rombongan PKU UNIDA Gontor bersiap-siap meneruskan perjalanan hari ke-2 mereka. Dibandingkan dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, mungkin ada sesuatu yang berbeda terjadi padi pagi hari ini. PKU tidak hanya akan mengadakan seminar, namun juga berkunjung ke lembaga pemikiran Islam yang masyhur di Indonesia : INSISTS.

INSISTS Saturday Forum (ISF) adalah tajuk acara yang akan didukung oleh PKU UNIDA. Forum yang diikuti tak kurang dari 100 orang ini dimulai dengan presentasi dari tiga orang pemateri. Kedua pemateri pertama adalah peserta PKU UNIDA XIII, sedangkan pemateri terakhir merupakan pemateri yang dihadirkan langsung oleh INSISTS.

Pemateri pertama, Ayu Arba Zaman, membahas problem term ‘kekerasan’ dalam RUU P-KS yang sedang hangat-hangatnya akhir-akhir ini. Berdasarkan kajian presentator, definisi Kekerasan Seksual di dalam RUU P-KS memiliki latar belakang epistemologis yang berangkat dari tesis Marx. Penindasan pada manusia terjadi karena adanya sistem relasi yang menjadikan subjek berkuasa atas objek. Perempuan dalam konteks ini ditempatkan sebagai objek. Berdasarkan hal tersebut muncul narasi otonomi tubuh, di mana manusia memiliki kebebasan mutlak atas tubuh yang dimilikinya. Konsep kebebasan demikian bersifat kedisinikinian, yang bermotif mengakomodasi segala bentuk ekspresi manusia pada zamannya (dalam hal ini seksualitas). Maka frasa Secara” Paksa” sudah otomatis akan muncul dalam RUU P-KS, karena persetujuan adalah salah satu manifestasi kebebasan seseorang dalam kepemilikan atas tubuhnya. Maka guna menanggapi hal ini, perlu untuk mendudukkan kembali apa makna kekerasan seksual berdasarkan pola pandang masyarakat Indonesia yang memiliki nilai-nilai Ketuhanan yang Maha Esa.

Pemateri kedua, Fajrin Dzul Fadli, mempresentasikan kajiannya mengenai Kritik Argumen Homoseksualitas Barat. Fajrin mengkritik American Psyciathric Association dan American Psycologhist Association. Salah satu argumen mereka yang menganggap homoseks adalah perbuatan normal disebabkan karena observasi langsung pada realitas lapangan. Namun normalitas suatu perilaku tidak bisa ditentukan dengan observasi suatu perilaku dalam masyarakat. Misal contoh seperti pada kasus kanibalisme yang sudah terjadi sejak dahulu kala. Tentu hal tersebut terap tidak bisa kita terima sebagai suatu yang normal. Kesimpulannya adalah APA dan Little APA memiliki banyak kerancuan dalam bangunan argumen mereka. Selain itu, “Task Forces” yang dibentuk APA ternyata juga memiliki kepentingan yang pendapatnya tidak dapat ditelan mentah-mentah tanpa tinjauan lebih lanjut.

Pemateri ketiga, dr. Regintha Bachtum menjelaskan Fenomena Seks Bebas dan Aborsi di Era Milenial. Seriap tahun diperkirakan ada 376 Juta perkiraan kasus yang terjadi berkaitan dengan PMS (sefilis, gonore, dsb). Khusus di Amerika terjadi kenaikan secara terus menerus dalam penyakit diatas. Terjadinya banyak kasus di atas, khususon pada LGBT, secara ilmiah dibuktikan terjadi karena adanya rectal intercourse yang tidak sesuai dengan fitrah penciptaan. Berkaitan dengan hal tersebut, muncul berbagai penyakit yang berdampak pula pada semakin tingginya kasus aborsi. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa dengan adanya fenomena seks bebas (termasuk dalam hal ini LGBT), terjadi peningkatan PMS dan aborsi. Maka dalam menanggapi hal tersebut, kita dapat kembali menilik nilai-nilai agama yang sudah secara jelas memberikan acuan kehidupan yang sesuai dengan fitrah dan keharmonisan alam.

Selepas sesi presentasi selesai, berjalanlah sesi diskusi dengan hangat. Terdapat pertanyaan dari audiens, apa kiranya kebijakan sosial politik yang diperlukan agar kasus-kasus yang berhubungan dengan LGBT bisa dikurangi. Hal menarik disampaikan oleh dr. Regintha, yang menekankan perlunya pendidikan adab dalam segala level pendidikan kita. Melalui adab, kita bisa meletakkan permasalahan LGBT pada tempatnya. Pertanyaan lain berhubungan dengan sikap yang mesti dilakukan jika kita hidup ditengah-tengah lingkungan LGBT atau penderita PMS. Fajrin menekankan pada perlunya kita untuk menolak segala perbuatan yang bertentangan dengan syariah, tapi tidak melupakan pelaku, bahkan justru berempati kepadanya agar bisa mendekatkannya kembali kepada fitrah kehidupan. Selain itu terdapat banyak lagi pertanyaan lain yang membuat ISF bersama PKU kali ini semakin menarik.

Sayang karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12, akhirnya acara harus ditutup dengan epilog dari Dr. Henri Shalahuddin, MIRKH. Salah satu pesan penting dari beliau adalah tentang adanya pendistorsian makna yang terjadi di dunia sekarang yang merugikan umat manusia itu sendiri. Contoh seperti distorsi makna dari pelacur, menjadi WTS, sampai ke PSK. Konsepsi lain seperti ‘Pemberdayaan Perempuan’ secara historis juga merupakan hal yang asing bagi warga Indonesia. Maka semoga, dengan adanya ISF dan PKU, berbagai permasalahan kebingungan umat dapat terobati nantinya di masa yang akan datang.
Aamiin.

Rep.
Arif Setya Basuki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.