pku.unida.gontor.ac.id– Pada Ahad (22/09/19), Peserta PKU XIII mengikuti perkuliahan bersama Dr. Kholid Muslih MA dengan tema “Ilmu Mantiq”. Perkuliahan dilaksanakan di Ruangan 105 Gedung Pascasarjana, dari jam 20.05 WIB hingga jam 22.00 WIB. Agenda ini diadakan atas hasil musyawarah para peserta yang ingin mendalami khazanah keilmuwan Islam seperti Ilmu Kalam, Mantiq, dll. Disamping pendalaman tantangan pemikiran dan peradaban Barat.

Ust. Khalid memulai perkuliahan dengan menjelaskan pembagian ilmu menjadi dua, yaitu tashawwur (mengungkap sesuatu) dan tasdiq (menilai/menghukumi sesuatu). Dalam dialog perlu adanya persamaan tashawwur yang diawali dengan persamaan ta’rif, karena al-hukmu ‘ala al-sya’i far’un an tashawwurihi (menghukumi atas sesuatu adalah bagian dari cara mengungkap sesuatu), jika dia gagal menilai sesuatu akan berefek kegagalan dalam mengungkap sesuatu. Dari situlah perlu memahami kaedah
إن كنت ناقلا فالتصحيح وإن كنت مدعيا فالدليل
(Jika kamu penukil, maka buktikan refensinya. Jika kamu penyampai statement maka sertai dengan dalil).

Baca Juga: Kajian Kitab Prolegomena Prof. M.N al-Attas; Penjelasan Dr. Hamid Fahmy tentang Konsep Manusia

Adapaun susunan lafadz (karena ilmu mantiq sendiri berbicara tentang lafadz) tersusun dari huruf, kalimat/lafadz, jumlah, dan kalam. Di tataran kalimat/lafadz, Allah memilih lafadz yang tidak memiliki banyak arti untuk menentukan hal-hal qath’i.

Adapun lafadz memiliki dua bagian, 1)ma lahu ma’na wahid dan 2)ma lahu aksar min ma’ani. Yang pertama terbagi menjadi lafadz juz’i (lafadz yang bendanya hanya satau, terdiri dari a’lam, laqab, kunyah, milkiyah, dan musyar ilaih) dan lafadz kully (lafadz yang bermakna satu tapi bendanya banyak). Yang kedua dibagi menjadi tiga bagian yaitu musytarak, majaz, dan manqul. Ketika membahas majaz, Kaprodi Pascasarjana AFI ini menjelaskan bahwa ketika berkembang tiranisme, berkembang juga majaz, agar para sastrawan bisa tetap mengkritik penguasa tanpa kena delik hukuman. Adapun manqul sendiri terbagi menjadi dua, manqul syar’i dan manqul ‘urfi.

Ust Khalid menjelaskan lebih spesifik lagi pembagian lafadz kully. Terbagi didalamnya lafadz kully yang ada di dzihni (pikiran), kharija ad-dzihni (diluar pikiran), fi ad-dzihni wa kharija ad-dzihni (didalam dan diluar pikiran). Banyak orang yang hidup yang hidup di ranah dzihny (khayalan) tapi tidak ada dalam realita. Sehingga hidupnya penuh dengan kekhawatiran yang tidak berdasar.

Baca Juga : Paulus; Bapak Misionaris Modern

Setiap lafadz memiliki sifat, baik itu sifat dzati (inti) maupun sifat ‘aradhi (pendukung). Maka untuk menilai hakekat sesuatu, perlu dilacak apa sifazt dzati-nya. Oleh karena itu, ketika berdialog, perlu memahami sifat dzati dari setiap sesuatu, Seperti contoh dalam menjawab argument bahwa segala sesuatu itu nisbi (relative). Tentu argument ini salah karena karena antara sesuatu dengan sesuatu yang lain memiliki sifat dzati yang berbeda. Jika seseorang mengatakan bahwa Tuhan setiap agama hakekatnya sama, Ini keliru karena sifat dzati-nya Tuhan setiap agama berbeda.

Dalam penutup perkuliahannya, Ust Khalid menyampaikan bahwa hakekat manusia bukan hayawan an-natiq (definisi Yunani). Lebih tepatnya adalah khalifatullah. Makna ini lebih konferehsive karena jami’ dan mani’. “Dalam Islam, seseorang meskipun dia gila, tapi dia tetap dianggap manusia sehingga tidak boleh dianggap hina seperti binatang.” Jelas Ust. Khalid, lulusan doktor Al-Azhar yang sekarang menjadi Kaprodi AFI Pascasarjana UNIDA ini.[]

Rep. Muhammad Kholid
Ed. Admin PKU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.