Oleh: Martin Putra Perdana

pku.unida.gontor.ac.id- Sebelumnya kita perlu mengenal lebih jauh siapa itu Ibnu Taimiyah. Ibarat kata jika ingin menjadi perenang yang handal maka hendaklah menyelam ke kedalaman air bahkan sampai air tersebut masuk ke lubang hidungpun. Dalam karya Muhammad Abu Zahrah yang karyanya berjudul “Ibnu Taimiyah; Hayatuhu wa Asruhu-Aro’uhu wa Fiqhuhu” menerangkan bahwa Syekh Ibnu Taimiyah memiliki nama lengkap Ahmad Taqiyuddin Abu Abas bin Syekh Syihabuddin Abi Muhasin Abdul Halim bin Syekh Majidudin Abi Barakat Abdussalam bin Abi Muhamad Abdullah Ibnu Abi Qosim Khidir bin Ali bin Abdullah. Beliau lahir pada tanggal sepuluh di bulan Rabiul Awwal tahun enam ratus enam puluh satu Hijriah.

Ibnu  Taimiyah sendiri dilahirkan dikalangan keluarga terpandang dan ilmuwan di bidang ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu seperti ilmu hisab, al-jabar, ilmu falak, ilmu jiwa dan lain sebagainya. Maka, tidak heran jika keilmuan Ibnu Taimiyah sendiri bisa melesat cepat dikarenakan dia bisa belajar dari keluarga terdekatnya selain juga belajar kepada para ilmuwan-ilmuwan terkemuka dizamanya. Dan warisan keilmuanya pun mengalir kepada para murid-muridnya seperti; Ibn Qayyim al-Jauziyah, al-Dhahabi, Ibnu Kathir, al-Tufi dan lain sebagainya. Dalam buku “Islam” karya Fazlur Rahman yang diterjemahkan oleh ahsin Mohammad mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah sejak kecil sudah terlihat sangat menyukai ilmu dan para ulama. Di usia yang masih kecil beliau sudah hafal al-Qur’an dan kemudian mulai mendalami hadist, fiqh, ushul dan ilmu kalam.

BACA JUGA: Dakwah Kultural Kiai Sholeh Darat

Selain itu, Ibnu Taimiyah sendiri memiliki program dasar dalam hal syari’ah untuk mempertahankan nilai-nilai agama. Syari’ah yang dimaksud disini adalah suatu konsep yang kompeherensif, mencakup kebenaran spiritual Sufi (haqiqah), kebenaran rasional (aql) para philosof theolog dan hukum. Syari’ah disini juga merupakan sesuatu yang membuat hukum menjadi mungkin dan adil. Pengaruh Ibnu Taimiyah sendiri hanya sebatas dengan murid-murid dan orang terdekatnya saja, tidak meluas menjadi suatu gerakan.

Masuk ke dalam pembahasanya mengenai wali, walayah atau kewalian sendiri merupakan produk yang dihasilkan dari doktrin ajaran sufi. Walayah sendiri dalam Islam bukanlah hal yang baru. Kata-kata awliya, awla, walaya dalam al-Qur’an dan Hadist sendiri sudah banyak termaktub. Dan dalam Qur’an istilah walayah dapat disandingkan dengan kata wali, awliya dan mawla, karena  dari kata yang sama. Kata wali dalam al-Qur ’an disebutkan sebanyak 20 kali sedangkan dalam bentuk jamaknya, Awliya, sebanyak 10 kali dan kata mawla  sebanyak 7 kali. Kata walayah dalam al-Qur’an dipahami sebagai perlindungan Allah SWT. Kata al-walayah merupakan bentuk masdar, yang subjeknya adalah wali. Secara bahasa, al-wali berarti al-qurb yaitu dekat.

Dalam tulisannya Ryandi tentang “Konsep Kewalian menurut Hakim al-Tirmizi” bahwa kata al-wali menurut al-Razi merupakan lawan kata dari al-‘aduw (musuh), jamaknya awliya.  Term wali, awliya, mawla, dan sejenisnya dapat digunakan secara setara kepada Allah atau manusia, tuan atau hamba, dan buruk atau baik. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa seluruh orang Muslim adalah awliya Allah karena ia beriman kepada Allah dan mengabdikan dirinya dalam agama Allah. Sedangkan orang-orang kafiliya setan karena bersikap sebaliknya.

Kata al-walayah sendiri memili arti al-mahabbah wa al-qurb (kecintaan dan kedekatan) yang merupakan lawan kata dari kata al-adawah yang berarti al-bughdhu wa al-bu’du (kebencian dan kejauhan). Di Indonesia sendiri fenomena wali memiliki andil penting dalam penyebaran Islam di Indeonesia. Pembahasan tentang kewalian sendiri dimunculkan perdana oleh al-Hakim al-Tarmizi yang kemudian menuai banyak hujatan atas konsep pemikiranya, tak terkecuali Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

BACA JUGA: Alam Semesta yang Mekanistik

Menurut Hakim al-Tarmizi sendiri definisi wali Allah adalah seseorang yang dekat kepada Allah dalam petunjuk, pertolongan, jiwanya. Dan selalu mengagungkan-Nya dengan penuh kesungguhan,dengan itu Allah mengangkat derajatnya karena kesungguhan-Nya tadi. Sehingga dapat memposisikan dirinya dihadapan Allah dengan penuh tunduk, patuh dan berserah diri.

Dalam tubuh sufi sendiri timbul persoalan hubungan antara wali dan nabi. Dalam konsep kewalian, Sufisme melihat adanya garis yang sejajar dengan kenabian. Hal tersebut terlihat ketika timbul beberapa statemen perihal; siapa yang berhak memegang gelar penutup para wali? bagaimana hubungan wali dengan seorang nabi? dan sebagainya. Kewalian juga menurut mereka mambawa doktrin tentang herarki wali-wali penjaga, yang mungkin berhubungan dengan doktrin Syiah tentang Imamiyahnya. Menurut mereka dunia selalu terjag dikarenakan adanya struktur wali-wali ghaib yang terdiri dari berbagai tingkatan.

Dalam struktur wali ghaib tersebut para sufisme terdahulu mempercayai bahwa ada seorang tokoh ghaib yang abadi dan tidak pernah menua yang selalu menunjukkan manusia ke jalan yang benar dari jalan yang sesat baik dalam arti kata fisik maupun spiritual). Beliau adalah al-Khidir yang banyak digambarkan para kaum sufi yang mengaku sebagai muridnya yang menerima tugas guna membing umat manusia. Nama Khidir ‘pelayan Tuhan sendir termaktub dalam al-Qur’an sebagai guru spiritual Nabi Musa dalam perjalananya menuai kebajikan. (Fazlur Rahman. Terj. Ahsin Mohammad, Islam (Bandung: Pustaka, 2010) hal.196).

Menurut Ibnu Taimiyah sendiri dalam pandanganya yang merujuk pada QS Yunus [10] ayat: 62-63 bahwa wali Allah merupakan orang yang menepati dan mengikuti apa yang dicintai dan diridhai Allah, membenci dan murka terhadap apa yang dimurkai Allah serta senantiasa melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala laranganya. Dasar pandanganya ini diambil dari al-Qur’an, yakni firman Allah Ta’ala: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Dari itu Ibnu Taimiyah menyatakan ciri utama wali Allah dapat dilihat dari kualitas iman dan takwanya. (Lihat Lilik Mursito, “Wali Allah menurut al-Hakim al-Tarmizi dan Ibnu Taimiyah”, Kalimah, vol.13 No.2 September 2015 hal.343).

Kewalian sendiri berkaitan erat dengan keimanan dan keaatan kepada Rasulullah, hal ini tertuang dalam Q.S. al-Imran: 13: “Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu.” Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa karakteristik wali menurut Ibnu Taimiyah harus memenuhi beberapa kriteria; yakni pertama, orang-orang yang beriman dan bertakwa, kedua orang yang membenci dan mencintai karena Allah, ketiga mengabdikan dirinya pada ketaatan terhadap Allah dengan memihak Muslim dan menjauhi yang kafir. Kualifikasi wali sendiri menurutnya lebih ditonjolkan dari sisi batiniah.

Yang menjadi problem disini adalah adanya orang munafik yang mengaku wali dengan alasan mereka juga bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Akna tetapi pernyataan itu hanya sebatas kalam saja tapi didalam hati tidak demikian. Mereka beranggapan Muhammad sebagai raja yang ditaati dan mengatur manusia menurut pendapatnya sendiri. (Ibnu Taimiyah. Terj. Ikhwan El-Shafwa, Wali Allah versus Wali Setan (Jakarta Timur: Pustaka al-Kausar, Oktober 2001) hal.12)

Kemakhsuman (terpelihara dari dosa) menurutnya bukan merupakan perkara yang dijadikan syarat yang mutlak dimiliki wali Allah. Karena wali juga memiliki kemungkinan keliru, sehingga tidak wajib bagi seseorang untuk memegang dan mempercayai perkataaan yang terucap dari seseorang yang mengakua sebagai wali Allah. Yang harus dijadikan landasan hukum adalah yang keluar dari Sunnah hadist-hadist Rasul. Apabila perkataan wali tadi relevan dengan sunnah bisa diambil, apabila tidak bisa ditinggalkan.

Mengenai karomah yang biasanya berkaitan erat dengan para wali, Ibnu Taimiyah tidak menjadikan kepemilikan karomah (hal yang luar biasa) sebagai syarat menjadi wali. Bisa jadi seorang wali tidak memeliki akromah sama sekali. Sebaliknya orang yang pendosa dapat mengalami hal yang luar biasa, contohnya seperti jalan diatas air, memiliki kemampuan terbang di udara. Hal seperti itu tidak bisa dijadikan parameter melihat kebenaran karena bisa saja yang mengalaminya dapat berbuat baik ataupun buruk. Jadi yang terpenting adalah mereka yang beriman dan memiliki ketakwaan sejati. Dengan standarisasi kewalian yang tinggi beliau menolak akan adanya khataman awliyah sebagai manusia dan wali yang terbaik di zaman modern saat ini. Karena Khotaman awliya terbaik adalah Rasulullah SAW. (Dr. Mustofa Hilmi, Ibnu Taimiyah wa Tasawuf (Iskandariah: Daru Dakwah) hal.343).[]

Penulis adalah peserta Program Kaderiasi Ulama (PKU XIII) Unida Gontor
Ed. admin pku

One Thought on “Ibnu Taimiyah dan Konsep Kewalian”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.