Oleh: Azizah Romadhona/Peserta PKU Angkatan 15

Pandemi Covid-19 memberikan dampak di berbagai aspek, tak terkecuali pada aspek pendidikan. Sekolah-sekolah terpaksa ditutup untuk menghindari penularan virus. Pembelajaran dialihkan dari rumah masing-masing atau yang dikenal dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Peserta didik yang biasanya belajar didampingi guru di sekolah, kali ini belajar mandiri ditemani orang tua.  Permasalahan terjadi ketika orang tua sadar bahwa mereka kurang mumpuni dalam mengajari ataupun membantu anak dalam tugas-tugas yang diberikan guru. Misalnya, anak yang susah belajar dan lebih suka bermain, pekerjaan mereka yang tak dapat ditinggalkan demi menemani anak belajar. Dengan berbagai kendala, orang tua akhirnya memutuskan sistem homeschooling bagi anak.

Sistem belajar homeschooling sebenarnya telah menjadi pilihan sebagian orang tua. Pada tahun 2015, Kementeriaan Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan ada 11.000 anak yang menjalani sistem homeschooling. Pemilihan sistem homeschooling oleh orang tua juga dilatarbelakangi oleh berbagai alasan, seperti keraguan terhadap metode sekolah formal dan keinginan lebih banyak ruang kreatifitas bagi anak. Sayangnya, homeschooling sering disalahartikan hanya sekedar memindahkan kegiatan pembelajaran dari sekolah ke rumah.

Baca Juga: Gagasan Islam Liberal Nurcholis Madjid

Salah Kaprah dalam Homeschooling

Salah kaprah terhadap homeschooling terjadi jika kegiatan pembelajaran hanya memindahkan ketentuan-ketentuan sekolah ke dalam rumah. Meskipun homeschooling merupakan pendidikan alternatif di luar sekolah, bukan berarti juga menyerahkan anak ke lembaga homeschooling yang sejatinya sama saja ketentuannya dengan sekolah formal. homeschooling merupakan sistem pendidikan atau pembelajaran yang diselenggarakan di rumah yang dipopulerkan  sebagai  pendidikan  alternatif yang bertumpu dalam “suasana keluarga” dan menempatkan anak-anak   sebagai   subjek dengan   pendekatan at   home (Kembara, 2007: 34). Lebih jelasnya bahwa keluargalah yang memilih model pendidikan dan bertanggungjawab atas pendidikan anaknya. Jadi, orang tua tidak menyerahkan anak kepada sistem yang serupa juga dengan sekolah formal.

Yahya (2007) mengungkapkan bahwa homeschooling dilaksanakan oleh seluruh keluarga. Seorang ibu yang sejak anaknya kecil telah mengajarkan berbicara, menghitung, bahkan membaca, disitulah proses homeschooling telah dimulai. Sayangya proses itu tidak berlangsung lama. Orang tua setelahnya memasrahkan pendidikan anaknya ke sekolah formal.

Homeschooling sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, karena belajar dapat dimanapun juga. Dilihat dari ajaran Islam, anak merupakan karunia dan amanah Allah yang harus dijaga oleh orang tua. Secara umum inti tanggung jawab itu ialah penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak dalam keluarga. Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama. Oleh sebab itu, pendidikan bagi anak sangat diutamakan dan orang tua berkewajiban memelihara anak-anaknya dengan mendidik, menanamkan nilai keimanan, mengembangkan wawasan, dan mengajarkan akhlak mulia. (Ismail, 2016: 104-105)

Guru Keluarga

Konsep homeschooling adalah mengembalikan suatu hal mendasar yaitu mengembalikan peran orang tua dan keluarga ke tempat yang semestinya. Di sanalah peran orang tua begitu ‘sentral’ dan ‘strategis’ dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Namun lebih dari itu, seharusnya sistem pendidikan yang diterapkan untuk umat Islam menekankan pada pembentukan menjadi orang tua yang baik. Sedangkan kondisi pendidikan di Barat sendiri terbukti tidak menjadikan tujuan utamanya untuk mendidik pelajar menjadi orang tua yang baik. (Husaini, 2018: 11)

Seharusnya negara memiliki program untuk membentuk keluarga-keluarga teladan di Indonesia. Program itu dimulai dari pendidikan orang tua sebagai “guru keluarga”, sehingga rumah tangga menjadi lembaga pendidikan yang utama dan pertama bagi anak-anak. Wajib bagi orang tua untuk menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya. Kewajiban itu tetap berlaku, apakah pemerintah menyokong atau tidak program tersebut. Namun setidaknya ada enam materi pokok yang  menjadi bekal agar orang tua bisa memainkan perannya sebagai “guru keluarga”, yakni sebagai guru bagi anak-anaknya sendiri. Keenam materi itu adalah: (1) Islamic Worldview, (2) Pendidikan Anak, (3) Fiqhud Dakwah (4) Fiqih Keluarga Sakinah (5) Tantangan Pemikiran Kontemporer (6) Sejarah Peradaban Islam (Husaini, 2018: 14)

Baca Juga: Problem Framework Orientalis dalam Pengkajian Filsafat Islam

Penutup

Orang tua memberikan pendidikan bagi anaknya dengan sistem homeschooling dengan berbagai alasan baik implikasi dari pandemi atau ingin mengeksplor lebih kemampuan anak. Sayangnya banyak yang salah kaprah tentang homeschooling, karena hanya memindahkan sistem sekolah ke rumaah bahkan menitipkan anaknya ke lembaga-lembaga homeschooling dengan sistem mirip seperti sekolah formal. Dalam sistem homeschooling seharusnya orang tualah yang memiliki peranan utama sebagai pendidik, jika ada yang tak mampu ia kuasai maka bisa menyerahkannya belajar langsung kepada guru-guru yang otoritatif. Lebih dari itu, sistem pendidikan ini seharusnya menekankan umat Islam dalam pembentukan orang tua yang baik, sehingga orang tua dapat menjadi ‘guru keluarga’ dan menghasilkan generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sesuai dengan tujuan pendidikan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.