pku.unida.gontor.ac.id- Tema Pluralisme adalah salah satu topik menarik yang perlu dikaji berkaitan dengan perubahan masyarakat di suatu tempat. Didasari oleh bentuk hubungan antar manusia yang selalu berkembang senantiasa dipengaruhi oleh tempat dan waktu. Dan Tema ini juga adalah bentuk kerangka hubungan antar kelompok yang saling menghormati dan bekerjasama tanpa konflik. Kemudian akan diimplementasikan dalam konteks sosial, politik, dan budaya tempat masyarakat itu hidup. Sehingga terciptanya keharmonisan seperti yang diinginkan dalam membangun kerangka perubahan hidup bermasyarakat.

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah yang paling beranekara ragam suku dan budayanya dan lain-lain.disana semua orang hidup secara harmonis karena antarsesama saling menghormati dan bekerja tanpa konflik. Dikota ini juga banyak beragamnya kelompok-kelompok khususnya dalam ranah keagamaan. Hadirnya gerakan-gerakan keagamaan dari keanekaragaman agama di kota DIY yang bertujuan untuk mempersatukan umat. Sehingga dikota ini dengan berbagai multikulturalnya menjadi kota yang harmonis.

BACA JUGA: Orientalisme & Latar Belakang Pemikirannya

Buku ini hasil tulisan dari studi gerakan Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) dan Forum Umat Islam (FUI) dalam konteks isu toleransi dan Pluralisme. Karena ada anggapan bahwa isu tersebut sekedar kata benda tidak memberikan makna apa-apa. Sehingga penulis buku  menghadirkan buku ini sebagai salahsatu bentuk membangun kerangka kerja sehingga pluralisme menjadi sebagian sebuah kata kerja. Artinya, harus ada upaya lanjutan untuk tetap membangun dialog dan kebersamaan antarkelompok berbeda dalam rangka menciptakan Yogyakarta sebagai payung dan rumah bagi semua. Maka dengan demikian di Yogyakarta muncullah slogan “City of Tolerance” yang tengah giat dikampanyekan oleh pemerintah dan kekuatan masyarakat sipil.

Biografi Penulis

Buku ini ditulis oleh Imam Subarkhan lahir di Tegal 29 Agustus 1978. Ia menyelesaikan studi di sekolah Pascasarjana UGM dibidang Antropologi. Minat utamanya pada kajian multikulturalisme, ekonomi politik sumberdaya alam, etika bisnis dan kajian budaya. Sehari-hari bekerja di Ombudsman Swasta Yogyakarta dan LABDA Yogyakarta. Terlibat dalam berbagai penelitian dan telah menerbitkan beberapa buku dan artikel yang dimuat dijurnal serta media nasional.

Ringkasan Isi Buku

Didalam buku ini penulis tidak bermaksud untuk mengungkap berbagai upaya gerakan formalisasi syariat Islam di beberapa daerah Yogykarta, namun justru ingin melihat lebih dekat dinamika wacana dan gerakan pluralismenya. Dan tulisan ini secara khusus menjelaskan mengenai dinamika pluralisme di Yogyakarta sebagai fokusnya dengan studi kasus Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY dan Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) DIY.

Sebenarnya ada dua alasan mengapa dinamika Pluralisme di Yogyakarta perlu diungkap, pertama, Yogyakarta oleh banyak pihak dianggap sebagai representasi kebhinekaan Indonesia. Berbagai daerah, suku dan agama di Indonesia bertemu, berinteraksi secara harmonis dan terakomodasi dengan penduduk lokal yang masih kental dipengaruhi oleh budaya jawa. Jadi tidak mengherankan jika Yogyakarta menyemat dirinya sebagai City of Tolerance, kota toleransi. Toleransi yang dimaksud di sini bukan hanya toleransi agama, namun mencangkup toleransi yang lebih luas, yaitu toleransi budaya.

BACA JUGA: LGBT Di Indonesia; Perkembangan dan Solusinya

Kedua, Yogyakarta dikenal sebagai kota multikultural dengan budaya toleransi tertinggi dan didalamnya banyak lahir gerakan-gerakan yang justru banyak berseberangan dengan nilai-nilai multikultular. Beberapa gerakan itu bahkan menjadi Garda terdepan dalam upaya formulisasi syariat Islam. Gerakan-Gerakan kontra pluralisme tetap hadir dan hidup di Yogyakarta bersanding dengan gerakan yang kental mempromosikan gagasan pluralisme. Pengamatan dan pemahaman terhadap kelompok yang anti-pluralisme juga dihadirkan untuk melihat proses dialektika yang terjadi secara menyeluruh. Jadi alasan menulis buku adalah membuka selubung dan tundung dua gerakan yang selama ini berseberangan.

Tulisan ini dibagi menjadi lima Bab. Bab pertama adalah bab pendahuluan yang memberikan kerangka dan perspektif keseluruhan tulisan. Bab kedua menggambarkan secara umum setting social budaya Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai City of tolerance. Pada Bab ketiga dan keempat mulai pluralisme dan bagaimana mereka mewujudkan cita-cita gerakannya. Juga didalamnya dibahas secara historis konteks kemunculan FPUB dan FUI. Bab kelima sebagai penutup dari seluruh tulisan ini yang memaparkan perspektif penulis soal hiruk wacana dan gerakan pluralisme di Yogyakarta.[]

Judul                : Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme Di Yogyakarta
Penulis             : Imam Subkhan
Penerbit           : Kanisius-Yogyakarta
Tahun Penerbitan   : 2011
Cetakan           : 5
Tebal                : 142 halaman
Peresensi         : Rahmat Ardi Nur Rifa Da’i

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.