pku.unida.gontor.ac.id- Kuliah Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi sudah diadakan beberapa kali. Pada pekan ini, dilaksanakan pada tanggal 16 September 2019 mulai pukul 08.00, terkait dengan persiapan masing-masing judul dan tema tugas makalah akhir.

Ustadz Hamid, demikian panggilan akrabnya, meminta perorangan peserta PKU untuk menceritakan judul dan tema makalah akhir, kemudian Ust. Hamid memberikan kritik dan masukan kepada para pesertanya secara langsung. Sehingga kuliah dilakukan secara interaktif.

Hasil kuliah ini berupa berbagai masukan yang diberikan oleh Dr. Hamid, sesuai dengan deskripsi tema yang disampaikan oleh para peserta. Ada kala nya beliau menyatakan judul peserta sudah siap dan menarik. Terdapat pula beberapa kritikan tajam yang beliau sampaikan, seperti judul terlalu berat.

Baca juga: Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Soal Disertasi Seks Di Luar Nikah

Di sisi lainnya, ia meminta mengganti judul, karena dianggap tidak sesuai. Kritik karena deskripsi tema yang disampaikan, sama sekali tidak menyinggung masalah keislaman. Ada pula wanti-wanti yang diberikan beliau, agar mematangkan lagi pendekatan teoritis.

Beberapa judul dianggap fix oleh beliau, misalnya judul tentang Radikalisasi dan tentang term Kafir.
Kedua tema itu dianggap sangat relevan dengan kondisi saat ini. Karena term radikal, diberlakukan secara semena-mena hanya ditujukan kepada umat Islam, tidak ditujukan kepada pihak lainnya. Sedangkan tema tentang term kafir, merupakan kasus popular, yang saat ini juga dihadapi oleh kaum muslimin. Makalah ini diharapkan bisa menjawab berbagai stigma negatif istilah kafir, yang merupakan istilah khusus dalam agama Islam.

Terdapat juga masukan dan saran Ust. Hamid yang berkaitan dengan penilaian terlalu beratnya tema yang dibawakan. Seperti tema Post Truth, dimana konsepsi ini bagian dari pemikiran Postmodernisme. Karena tema ini berkaitan dengan kebenaran tak lagi diasalkan dari asumsi kesesuaian antara suatu pernyataan dengan realitas, tetapi kebenaran dilihat sebagai opini, serta keyakinan akan sesuatu yang bersifat emosional.

Dikatakan berat, karena tema ini berkaitan dengan konsep-konsep lainnya yang sulit dibedakan, misalnya dengan istilah HyperReality (Boudrillard), wacana postkolonialisme, ataupun Kuasa Pengetahuan (Foucault). Berbagai konsep tersebut sama-sama berbicara bagaimana suatu ‘kebenaran’ beroperasi dalam ruang opini manusia.

Baca juga: Raih Keberkahan Puasa, Mulai Dari Framework Kita

Terdapat kritik lainnya dari Ust. Hamid, terkait dengan tidak dimasukkannya keislaman dalam tema. Misalnya dalam tema ‘Islam vs Klaim Budaya Asli’, di mana pemateri hanya mengkaji budaya, tetapi sangat minim ketika berbicara tentang keislaman. Jika berbicara tentang keislaman, maka ini juga hampir sama dengan tema yang telah ditulis oleh salah seorang peserta PKU sebelumnya tentang Islam Nusantara.

Solusinya, adalah mempertajam keislaman, sehingga kebudayaan bisa dilihat dari kacamata fiqh (Urf). Beberapa masukan hampir serupa didapatkan oleh peserta yang mengangkat tema Teknosentrisme dan Dehumanisasi.
Terdapat masukan lain dari Ust. Hamid, misalnya tentang tema industri Fashion,yang berakibat negatif pada ekologi (karena tidak ramah lingkungan) . tema fashion dan ekologi, sebenarnya tidak banyak dikupas di dunia kampus Islam, tetapi tema ini dianggap tidak populis. Menurut Pertimbangan Ust. Hamid, tema nya harus menyentuh langsung persoalan yang terjadi di tengah komunitas umat islam, dan makalah yang ditampilkan seharusnya menjawab permasalahan tersebut.[]

Rep. Ahmad Arifin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.