pku.unida.gontor.ac.id-Semangat pagi peserta PKU angkatan XIII setelah perpindahan dari Gedung Ali bin Abi Thalib lantai 4 ke kompleks aslinya dengan mengadakan Kajian Shubuh di teras Masjid Jami’ UNIDA yang menghangatkan suasana dinginnya Sabtu pagi (9/07/2019). Materi yang dibawa oleh Ustadz Akhmad Arifin bertema “Problem Relasi Islam dan Budaya dalam Konteks Keindonesiaan Kini” membuka wawasan peserta kajian dari anggota PKU dan beberapa mahasiswa UNIDA tentang pentingnya peran dakwah Islam dan hubungannya dengan kebudayaan di Indonesia.

Arifin yang sering dipanggil ‘Abah’ mengatakan bahwa: “Fakta yang ada memang terdapat bermacam-macam Budaya dan Tradisi yang melekat di masyarakat Indonesia menjadi sebuah tantangan bagi para da’i untuk bisa menyentuh hati mereka agar sejalan dengan syari’at Islam tanpa ada penyelewengan dan kesyirikan.”
Jasa wali songo dalam penyebaran Agama Islam telah membuka jalan bagi para da’i bahwa Islam bisa hidup berdampingan dengan budaya setempat atau lokal, bahkan memajukan budaya tersebut. Ujar Arifin.

Kata budaya berasal dari budi dan daya, yang diartikan adanya daya (kekuatan) dari budi (akal) berupa cipta, karsa dan rasa. Begitu pula diperjelas oleh guru besar Antropologi Koentjaraningrat, kebudayaann adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Intinya kebudayaan ialah apa yang terdapat di masyarakat, bisa berkembang dan diajarkan yang terjabarkan dari komponen psikologis dan sosiologis dari eksistensi keberadaan dan mempunyai struktur, cara atau aturan.

Dalam paparan Arifin, “sebuah kebudayaan memerlukan kebudayaan lain agar lebih maju, karena budaya seperti bayi, kemudian berkembang setahap demi setahap hingga terjadi tahap dewasa menjadi sebuah peradaban” dengan ini sebuah komunitas tidak akan bisa berkembang lepas dari kebudayaan lainnya.

Lanjutnya “Dalam relief-relief candi yang dibangun berabad-abad yang lalu tergambar masyarakat indonesia dalam peradaban kuno yang masih primitif. Islam datang ke tanah air pada abad ke 7 awalnya tidaklah dihadapkan pada claim pendatang yang membawa budaya luar, melainkan membawa ciri-ciri peradaban yang berkemajuan dan menularkannya ke dalam kebudayaan Indonesia yang belum mencapai tingkat peradaban tinggi sehingga dikit demi sedikit kebudayaan Indonesia menjadi dewasa dan berkemajuan”.

Contoh gampangnya adalah masalah pakaian yang mana dahulu kala masih belum sepenuhnya menutupi aurat bahkan bisa dikatakan setengah telanjang, dengan datangnya islam pakaian berevolusi dan sesuai dengan etika kemanusiaan.

Dakwah Islamiyyah ke dalam tradisi dan budaya Indonesia saat ini terdapat dua kecenderungan ekstrim. Yang satu mensakralkakn tradisi, seolah-olah tradisi adalah hal yang statis, beku dan tidak berubah. Sedangkan pihak lainnya mengkaitkan budaya dan tradisi dengan bid’ah sampai memusuhi berbagai hal yang berkaitan dengan kebiasaan yang berlaku dimasyarakat.

Terakhir, Arifin menyampaikan bahwa disinilah pentingnya konsep ‘urf dalam Islam yang mampu menjadikan banyak hal menjadi wilayah otonom tradisi dalam praktik pelaksanaan hukum Islam, seperti muamalah.[]

Rep. Syamsul Badi’
Ed. Admin pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.