Oleh:  Sofian Hadi. Sumbawa Barat

images-1Pasca terjadinya perang Salib antara tahun 1096 sampai 1487, dan secara tidak sadar bahwa perang tersebut merupakan perluasan imperium orang kulit putih ke seluruh dunia. Tujuan utama mereka adalah kolonialisasi, Kristenisasi atau evangelization. Hal tersebut dilakukan sebagi balasan atas ketidak senangan para non-muslim terhadap Islam.

Menurut majalah online islampos edisi 6 Februri 2013[1]. Sampai abad ke-11 M, di bawah pemerintahan kaum Muslimin, Palestina merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Kondisi ini tercipta sejak masa Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil merebut daerah ini dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu tentara Salib datang melakukan invasi.

Apa yang mereka lakukan terhadap pasukan muslim saat itu, adalah sebuah doktrin globalisasi lebih ingin menghancurkan islam dan bersama dengan ideologinya. Sejarawan inggris Karen Amstrong  pada tanggal 2 Oktober 1187, Shalahuddin Al Ayyubi dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127:

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”[2]

Dari sejarah ini, kita bisa melihat bahwa sesungguhnya islam yang menjadi sebuah peradaban dengan Worldview yang lurus tidak serta-merta mendahulukan permusuhan dan kekerasan. Kita bisa melihat Shalahuddin Al Ayyubi ketika mengalahkan kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) dia justru memberikan perlindungan kepada tawanan. Bahkan uang tebusan saat itu sangat rendah  dan tidak diberatkan.

Sebenarnya jika bisa di pahami oleh orang-orang barat tentang Worldview Islam jutsru  sebaliknya akan terjadi penukaran konsep dan system antara Barat dan Islam, dan tidak bertentangan dengan antara worldview masing-masing.

Di dalam buku Liberalisasi Pemikiran Islam buku Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi di jelaskan bahwa Barat berusaha mentransfer konsep-konsep mereka kedalam pikiran umat Islam. Pemaksaan inilah yang disebut dengan istilah Westernisasi dan globalisasi[3].

Dalam upaya penyebaran konsep-konsep, nilai, kultur dan system Barat menggunakan strategi yang dikenal dengan istilah orientalisme, sebuah usaha atau kajian  untuk  mengkaji islam sesuai dengan sudut pandang mereka, sehinggan melahirkan makna islam yang berbeda dengan pemahaman islam itu sendiri.

Inilah yang menjadi permasalahan antara Barat dan Worldview islam. Dimana barat yang dengan gembor-gembornya mengusung freedom. Bahkan di barat sendiri terlihat sangat tidak toleran bahkan resiten terhadap praktek-praktek keagamaan. Bahkan muslim pun di Negara-negara barat tidak diberikan hak untuk secara bebas menjalankan ideology yang mereka pegang.

Sangat terbalik dengan apa yang di lakuakan di Negara-negara Islam, bahkan kalau kita mau jujur orang-ornag penganut non-muslim lebih nyamaa dan tentram hidup di Negara yang mayoritas muslim. Inilah sebenarnya yang menjadi titik masalah. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Dr.Zakir Naik kenapa harus ada standar ganda keadilan bagi Muslim, sementara mereka tidak?!

Apa yang terjadi sekarang adalah sebuah fakta dimana sikap barat begitu resiten terhadap islam, maka jangan heran juga kaum Muslim juga akan merasa resiten terhadap paham-paham sekuler, liberal, hedonis serta berbagai kultur dan budaya Barat. Maka sudah tentu dalam situasi ini akan terjadi konflik atau perang pemikiran antara Islam dan Barat atau yang lebih dikenal dengan isltilah Ghazwul fikr[4]

Dari uraian diatas, dapat di tarik kesimpulan bahwa backgrond perjadinya perang Salib adalah sebagai upaya balas dendam terhadap Muslim dan untuk membawa paham atau ideology Westernisasi dan Globalisasi kedalam dunia Muslim. Hal inilah yang tidak bisa diterima oleh umat Islam karena sangat bertentangan dengan Worldview dan ideology Muslim. Namun secara gencar Barat tetap memaksakan ideology mereka untuk bisa diterima oleh Umat Islam yang notabennya sangat bertentangan dengan Worldview dan peradaban Islam itu sendiri. Hal inilah yang memicu terjadinya konflik atau yang disebut dengan perang urat saraf atau  Ghazwul fikr.

Semoga umat Islam tetap di berikan kekuatan dalam menghadapi gempuran-gempuran ideology dan pemikiran Barat yang semakin hari semakin gencar di lancarkan. Dan semoga Allah menguatkan Iman dan Akidah kita untuk tetap memperjuangkan Islam sampai hari kiamat nanti.

Wallahua’lam.

[1] Majalah ISLAMPOS Edisi 6 Febuari 2013

[2] Ibid Islampos

[3] Liberalisasi Pemikiran Islam Hal.41

[4] Ibid Hal 43

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.