pku.unida.gontor.ac.id- Komunikasi merupakan kebutuhan manusia sebagai mahkluk sosial yang bermasyarakat. Dengan komunikasi manusia mampu memperoleh kebutuhan akan keingintahuannya terhadap sesuatu. Namun, dengan perkembangan zaman pola komunikasi berubah dari yang sangat perlu bertatap muka, menjadi, sebatas perlu melempar kata melalui media.

Beberapa manusia menikmati begitu saja produk media sebagai alat komuniksasi ini, dengan alasan bahwa kini informasi mudah didapat, tak sesulit dahulu. Semua informasi yang dihasilkan dari komunikasi “ghaib” itu diamini begitu saja tanpa dikritisi atau dilakukan pengidentifikasian lanjut. Akhirnya manusia tidak menyadari adanya dampak negatif dibalik informasi yang didapat.

Senin 26/08/2019 saudari Esty Dyah Imaniar salah satu peserta dari Program Kaderisasi Ulama UNIDA Gontor, pagi ini selepas sholat shubuh memaparkan beberapa usaha yang dilakukan media dalam mengkonstruk topik tentang perempuan dihadapan publik dengan framing tertentu. “Hal ini terjadi karena male gaze, dimana representasi sinematik perempuan terfokus pada kepuasan tatapan laki-laki yang dibangun di atas perspektif patriarki” papar perempuan yang biasa dipanggil dengan panggilan Kak Esty. Salah satu bentuk male gaze dalam media adalah Voyeurism yaitu penempatan perempuan sebagai objek (kenikmatan) seksual laki-laki. Contohnya dapat dilihat dalam Axe, Kit Motor, pompa air Shimizu, rokok A Mild, Softener Soklin.

BACA JUGA: Ibnu Taimiyah dan Konsep Kewalian

Selain voyeurism, dominasi laki-laki terhadap perempuan juga ditampilkan mengenai citraan pemimpin perempuan dalam negative masculinity (misal, pemberitaan “Wali Kota Risma Mengamuk”) . Dalam produk populer, dominasi maskulinitas tersebut misalnya tergambar pada Dilan 1990 (2018) dan Surga yang Tak Dirindukan (2015) atau lagu Bojo Galak (Via Vallen).

Male gaze menempatkan perempuan dimata publik sebagai decision maker konsumsi dalam keluarga (sehingga menjadi target audiens iklan) yang pada akhirnya berujung pada kapitalisasi peran tersebut. Eksploitasi tubuh dan keindahan perempuan yang berujung pada komodifikasi definisi cantik tertentu seolah memberi ruang pada banyak opsi cantik, meskipun sebenarnya semua opsi tersebut berujung pada konsumsi produk-produk yang ditawarkan melalui media.

Akhirnya muncul wacana tandingan dari kaum feminis berupa female gaze guna memperoleh kesetaraan dari kaum patriaki untuk mengekspresikan seksualitasnya dalam tatapan media. Anehnya para feminis tidak menyadari bahwa ide baru ini menjerumuskannnya kedalam lubang yang baru. Dimana kaum patriarki semakin mudah mendapatkan ekplotasi tubuh perempuan, karena perempuan dalam mengkspresikan seksualitasnya bukan lagi berdasarkan pemaksaan atau permintaan tapi terbagun oleh kesadaran atas keinginannya.

Glorifikasi politik tubuh dan seksualitas perempuan seperti dalam film Black Swan (2010), video klip Rihanna, Korean Drama, serial Mahabharata, hingga iklan Axe Perfume justru menimbulkan pertanyaan atas kebebasan ekspresi yang dikapitalisasi. Apakah female gaze benar-benar menjadi pembebasan perempuan dari dominasi tatapan lelaki dalam media atau sebenarnya merupakan penjajahan gaya baru? Sebab tidak bisa dipungkiri salah satu male gaze dimanifestasikan melalui spirit kapitalisme, maka (si)apapun yang di belakang dan di dalam layar, jika pada akhirnya menguntungkan capital owner maka pemenang kontestasi tersebut sebenarnya tetap male gaze melalui tatapan kapitalis.

BACA JUGA: Antara “clash of civilization” dan Pluralisme

Islam sudah memiliki nilai keseimbangan tersendiri dalam memandang nilai hubungan antara laki-laki dan perempuan serta bagaiamana merepresentasikannya dalam tatapan media. Dalam sejarahnya ide female gaze sendiri muncul di Barat sebagai bentuk perlawan terhdap laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai objek voyeurisme. Sedangkan Islam melarang kedua pihak (laki-laki maupun perempuan) menjadi objek seksual dalam media berdasarkan perintah menjaga pandangan dan menutup aurat. Bahkan menganjurkan para kaum laki-lakinya untuk ghadal bashar (menjaga pandangan). Yang perempuan juga diwajibkan untuk menjaga perhiasannya dengan ilmu pengetahuan.

Sebagai penutup, ada benarnya jika media telah membantu manusia dalam memperoleh informasi. Namun, adakalanya juga kita harus mampu menyeleksinya, mengidentifikasinya, dan mengkritiknya. Seperti yang dikatakan oleh Lasswel setidaknya manusia yang sadar informasi perlu melakukan identifikasi berupa “Who says What in Which Channel to Whom With What effect”. Karena setiap “iya” dalam media pasti mengandung “tidak”. Waalahu’alam.[]

Rep. Syekha Anintya Inayatusufi
Ed. Admin pku

2 Thoughts on “Framing Media terhadap Perempuan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.