Oleh: Saeful Yusuf al-Faiz S.Kom.I

Di tengah kemajuan arus globalisasi, pendekatan gender terhadap dehumanisasi sosial terus dilakukan, yaitu seiring dengan maraknya isu kesetaraan dan kemitrajajaran antara perempuan dan laki-laki. Pendekatan gender tersebut, melahirkan kesadaran sosial bahwa selama ini di realitas sosial telah terjadi diskrimasi dan penindasan terhadap perempuan, serta pendustaaan nilai-nilai kemanusiaan. Di antara hal baru yang dilakukan adalah melakukan analisis atas beberapa atribut sosial dan keagamaan yang selama ini menjadi justifikasi ketidakadilan sosial. Inilah wajah yang sering disebut dengan aliran pemikiran feminisme.

Maria Teasley atau Amina Wadud adalah seorang feminis Islam, imam dan seorang feminis dengan fokus progresif pada tafsir Al-Qur’an. Dia dikontrak untuk jangka waktu 3 tahun sebagai Asisten Profesor di International Islamic University Malaysia di bidang Studi Al-Qur’an di Malaysia, antara tahun 1989-1992, dan di mana ia menerbitkan disertasinya Al-Qur’an dan Perempuan: membaca ulang Teks Suci dari Woman’s Perspektif, sebuah buku yang dilarang di UAE.  Pada periode yang sama ia juga bersama-sama mendirikan LSM Sisters -In-Islam. Spesialisasi penelitian Amina Wadud ini termasuk studi gender dan Al-Qur’an. Dalam tipologi Arab kontemporer Amina Wadud  tergolong dalam kelompok reformistik dengan metode dekontruksi dan rekontruksi. Dia sangat menentang terhadap golongan fundamentalis.

Menurut Charles Kurzman, dalam riset Amina Wadud mengenai wanita dalam al-Qur’an muncul dalam suatu konteks historis yang erat kaitannya dengan wanita Afrika-Amerika dalam upaya memperjuangkan keadilan gender. Hal ini karena selama ini sistem relasi laki-laki dan wanita di masyarakat memang sering mencerminkan bias-bias patriarkhi, dan sebagai implikasinya maka perempuan kurang mendapat keadilan secara lebih proporsional. Amina Wadud mengakui bahwa bukunya merupakan bagian dari apa yang disebut “Jihad Gender” dirinya sebagai seorang muslimah dalam konteks global. Menurutnya, budaya patriarki telah memarginalkan kaum wanita, menafikan wanita sebagai khalifah fil ardh, serta menyangkal ajaran keadilan yang diusung oleh al-Qur`an.

Di dalam buku Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective ini, Amina Wadud bermaksud menggunakan tafsir tauhid untuk menegaskan betapa kesatuan Al-Qur’an merambah seluruh bagiannya. Salah satu tujuan dari metode tafsir tauhid adalah untuk menjelaskan dinamika antara hal-hal yang universal dan partikular menurut al-Qur’an.

Selain itu, Amina Wadud bermaksud untuk menjadikan penafsiran al-Qur’an bermakna bagi kehidupan wanita di era modern. Kemudian menunjukkan kemampuan penyesuaian pandangan dunia Al-Qur’an terhadap persoalan dan dunia wanita menurut konteks modern.

Dalam buku ini, Amina Wadud mengungkapkan bahwa ia menerima Al-Qur’an seutuhnya, tetapi tetap menganggap tafsirnya hanya sebagai upaya manusia untuk menjelaskan makna kandungannya dan mengarahkan pengalamannya. Ini adalah konsep tentang wanita yang langsung diambil dari Al-Quran.

Karya Amina Wadud sesungguhnya merupakan kegelisahan intelektual penulisnya mengenai ketidakadilan gender dalam masyarakatnya. Menurut Amina Wadud, salah satu penyebab terjadinya ketidakadilan gender dalam kehidupan sosial adalah karena ideologi-doktrin penafsiran Al-Qur’an yang dianggapnya bias patriarkhi.

Menurut Amina Wadud, sebenarnya selama ini tidak ada suatu metode penafsiran yang benar-benar objektif, karena setiap pemahaman atau penafsiran terhadap suatu teks, termasuk kitab suci al-Qur’an sangat dipengaruhi oleh perspektif mufassirnya, cultural background, yang melatarbelakanginya. Itulah yang oleh Amina Wadud disebut dengan prior texts/ pra teks.

Menurut Amina Wadud, untuk memperoleh penafsiran yang relatif objektif, seorang penafsir harus kembali pada prinsip-prinsip dasar dalam al-Quran sebagai kerangka paradigmanya. Itulah mengapa Amina mensyaratkan perlunya seorang mufassir memahami weltanchauung atau world view.

Menurut Amina Wadud, penafsiran-penafsiran mengenai perempuan selama ini ada tiga kategori yaitu: 1) tradisional 2) reaktif dan 3) holistik. Yang pertama adalah tafsir tradisional. Menurut Amina Wadud model tafsir ini menggunakan pokok bahasan tertentu sesuai dengan minat dan kemampuan mufassirnya, seperti hukum (fiqh), nahwu, shorof sejarah, tasawuf. Model tafsir semacam ini lebih bersifat atomistik,yaitu penafsiran dilakukan ayat per-ayat dan tidak tematik, sehingga pembahasannya terkesan parsial. Namun, ketiadaan penerapan hermeneutika atau metodologi yang menghubungkan antara ide, struktur sintaksis atau tema yang serupa membuat pembacanya gagal menangkap weltanchauung al-Qur’an.

Tafsir model tradisional ini terkesan eksklusif; ditulis hanya oleh kaum laki-laki. Tidaklah mengherankan kalau hanya kesadaran dan pengalaman kaum pria yang diakomodasikan di dalamnya. Padahal mestinya pengalaman, visi dan perspektif kaum perempuan juga harus masuk di dalamnya, sehingga tidak terjadi bias patriarkhi yang bisa memicu dan memacu kepada ketidakadilan gender dalam kehidupan keluarga atau masyarakat.

Kategori yang kedua adalah tafsir reaktif, yaitu tafsir yang berisi reaksi para pemikir modern terhadap sejumlah hambatan yang dialami perempuan yang dianggap berasal dari al-Quran. Persoalan yang dibahas dan metode yang digunakan seringkali berasal dari gagasan kaum feminis dan rasionalis, tapi tanpa dibarengi analisis yang komprehensif terhadap ayat-ayat yang bersangkutan. Dengan demikian, meskipun semangat yang dibawanya adalah pembebasan (liberation), namun tidak terlihat hubungannya dengan sumber idiologi dan teologi Islam.

Kategori ketiga adalah tafsir holistik, yaitu tafsir yang menggunakan metode penafsiran yang komprehnsif dan mengkaitkannya dengan berbagai persoalan sosial, moral ekonomi, politik, termasuk isu-isu perempuan yang muncul di era modernitas. Di sinilah posisi Amina Wadud dalam upaya menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Model semacam ini menurut penulis mirip dengan apa yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman dan al-Farmawi.

Metodologi penafsiran Amina Wadud mencakup Dekontruktif-rekontruktif yakni mendekontruksi dan merekonstruksi model penfsiran klasik yang penuh bias patriarkhi; Asumsi dasarnya adalah bahwa Al-Qur’an merupakan sumber nilai tertinggi yang secara adil mendudukan laki-laki dan perempuan setara (equa), Argumentatif-teologis, dan Hermeneutik-filosofis.Ciri utamanya adalah pengakuan bahwa dalam kegiatan penafsiran, seorang mufassir selalu didahului oleh persepsinya terhadap teks yang disebut sebagai prapaham yang muncul karena seorang penafsir senantiasa dikondisikan oleh situasi di mana ia terlibat dan sekaligus mempengaruhi kesadarannya.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, dalam riset ini, Amina Wadud menggunakan metode tafsir tauhid. Metode tafsir tauhid sebagai hermeneutika ini senantiasa memperhatikan tiga aspek nas berikut; 1). Konteks saat nas ditulis ( Al-Qur’n diturunkan); 2). Komposisi nas dari segi gramatikanya (bagaimana nas menyatakan apa yang dinyatakannya); 3) nas secara keseluruhan, Weltanschauuung atau pandangan dunianya.  Perpaduan ketiga aspek ini akan meminimalisir subjektifitas dan mendekatkan hasil pembacaan kepada maksud teks yang sebenarnya.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU X) Unida Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.