Oleh: Muhammad Faqih Nidzom

pku.unida.gontor.ac.id- Akhir-akhir ini, isu feminisme dan kesetaraan gender begitu banyak diperbincangkan, khususnya di Indonesia. Dari mulai kalangan pelajar, akademisi, mahasiswa,  hingga para dosen dan politikus pun ramai membicarakannya. Bahkan ada beberapa kelompok yang ingin menggulirkan isu gender ini ke ranah pemerintahan, dan ingin menjadikannya sebagai undang-undang.

Banyak tokoh-tokoh cendekiawan dari Indonesia yang menyuarakan isu ini, seperti Prof. Dr. Musdah Mulia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Rieke Dyah Pitaloka, KH. Husein Muhammad, Ayu Utami, dll. Beberapa hal yang dijadikan alasan oleh para aktivis Gender ini adalah bahwa saat ini perempuan terkesan dipandang rendah dan hina, sebab mereka hanya boleh berkutat mengurusi rumah tangga tanpa diberi kebebasan untuk terjun ke ranah sosial dan politik, itulah mengapa wacana gender begitu menarik.

Jika kita telaah lebih jauh, paham feminisme dan kesetaraan gender ini lahir di Barat. Feminisme ini bermula dari aktivisme perempuan Barat yang merasa tertindas oleh ideologi Gereja. Tidak bisa dipungkiri, ajaran gereja pada abad ke-17 dan 18 tidak memberi tempat yang adil terhadap perempuan bahkan berlaku kejam. Budaya misogynic (merendahkan perempuan) oleh Kristen bersumber dari kitab suci Kristen sendiri. Beberapa ayat dalam Bible bisa ditemukan terkait hal ini. Korban Inquisisi -lembaga yang didirikan oleh Gereja untuk mengeksekusi orang-orang Kristen yang membangkang- pada saat Gereja mendominasi raja-raja Eropa kebanyakan dari perempuan.

Keyakinan seperti itu tentu saja mempengaruhi cara pandang manusia Barat terhadap perempuan. Pada abad pertengahan, perempuan Eropa tidak memiliki hak kekayaan, hak belajar dan turut serta dalam partisipasi politik. Bahkan di Jerman suami boleh menjual istrinya. Wanita benar-benar dinista bagaikan barang. Seorang ibu dilarang mendidik anaknya, kecuali ada izin dari suami. Pandangan-pandangan yang menista wanita ini memicu reaksi para cendekiawan dan ilmuan Barat. Diantara reaksi tersebut adalah menafsir ulang ayat-ayat Bible yang merendahkan wanita tersebut, melakukan gerakan sosial dengan mendirikan lembaga, dan lain sebagainya sehingga benar-benar menjadi gerakan seperti sekarang ini.

Jika paham ini diusung kaum feminis muslim Indonesia, maka tidak saja meruntuhkan konsep fitrah dan kodrat wanita, akan tetapi juga mendekonstruksi konsep-konsep dasar dalam studi keislaman. Ini bisa kita temukan di banyak sekali buku-buku yang diterbitkan. Sebagai contoh, Pada tahun 2004 Pusat Studi Wanita UIN Yogyakarta menerbitkan buku berjudul Isu-Isu Gender dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah. Buku ini ditulis dengan tujuan menjadikan kurikulum di sekolah-sekolah memakai perspektif gender dalam bebarapa pelajaran terutama pelajaran agama.

Buku ini cukup ekstrim menolak kodrat wanita. Seperti ditulis dalam buku itu, Seorang ibu hanya wajib melaksanakan hal-hal yang sifatnya kodrati seperti mengandung dan melahirkan. Sedangkan hal-hal yang bersifat di luar kodrati itu dapat dilakukan oleh seorang bapak. Pandangan ini jelas merusak konsep kodrat wanita. Menyusui ditolak sebagai kodrat wanita. Mereka hanya mengaku mengandung dan melahirkan sebagai fitrah wanita. Padahal Allah menciptakan wanita dengan diberi air susu agar supaya memang wanita itu bertugas menyusui anaknya. Bahkan menyusui itu sangat baik dan mempengaruhi hubungan psikologis anak dan ibu. Anak yang disusui oleh ibunya dengan ASI memiliki kaitan batin dengan ibunya.

Dalam beberapa mata kuliah di Perguruan Tinggi Islam, mahasiswa diajarkan bagaimana menafsirkan al-Qur’an dalam kerangka paham feminism. Sehingga model tafsir yang diproduk adalah tafsir feminis. Metode Hermeneutika juga dipakai dalam menafsirkan al-Qur’an, sama halnya dengan feminism Barat yang menggunakan metode tersebut untuk memaknai Bibel. Hermeneutika digunakan untuk menempatkan al-Qur’an dalam kerangka paham feminisme. Teori ini berakibat fatal, tidak saja mendekonstruksi hukum-hukum Islam, akan tetapi berimplikasi menempatkan al-Qur’an sebagai produk budaya (muntaj tsaqafi). Implikasinya, tuduhan bahwa kata ganti laki-laki dalam bahasa Arab al-Qur’an itu digunakan untuk menindas perempuan mereka gulirkan. Padahal kata ganti laki-laki dan perempuan dalam bahasa Arab untuk semua benda-benda, jadi sebenarnya tuduhan itu sama sekali tidak rasional.

Cara pandang yang salah itu juga dipraktikkan dalam menulis penelitian di perguruan tinggi Islam. Jika demikian, bisa dipastikan hasil penelitian itu berujung pada pernyataan bahwa al-Qur’an yang sakral hanyalah pesan Tuhan yang ada di sisi-Nya atau di lauh mahfudz dan itupun masih belum jelas. Oleh sebab itu menurutnya tidak salah manusia bermain-main dengan al-Qur’an yang sekarang dengan teksnya tertulis itu. Jika hasil penelitian itu diajarkan, maka pembelajar akan mendapatkan keyakinan yang dekonstruktif yaitu, syari’ah Islam itu sudah tidak cocok lagi, al-Qur’an tidak sakral, dan tafsir al-Qur’an klasik tidak bisa digunakan karena bias tradisi patriarkhi.

Kesetaraan yang diusung feminis bukan keadilan yang sesungguhnya. Problemnya, kesetaraan dalam hal apa saja. Tidak ada penjelasan. Jika disebut dalam RUU KG kesetaraan dalam semua aspek kehidupan, maka yang terjadi adalah ketimpangan dan kerusakan tatanan sosial.  Padahal secara kodrat, fitrah, kekuatan badan dan biologis memang berbeda. Ini harus diakui. Keadilan itu tidak haru sama persis dalam segala hal, tetapi adil itu menempatkan sesuatu sesuai porsi, kodrat, dan potensi. Jika ada perbedaan disebabkan potensi itu, maka hal itu tidak dapat ditafsirkan sebagai perbedaan kedudukan dan derajat. Di sisi Allah pria dan wanita itu sama.

Al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 35 cukup memberi penjelasan. Laki-laki menjadi imam shalat bagi wanita, tidak dapat ditafsirkan bahwa imam itu pahalanya lebih besar daripada makmum yang wanita. Ini sekedar pembagian tugas berjamaah. Posisi laki-laki di depan dan jamaah wanita di belakang. Ini juga bukan pembedaan kedudukan di sisi Allah. Ini sekedar strategi managerial dalam mengatur kekhusyukan. Demikian juga halnya dengan kepemimpinan dalam rumah tangga. Persoalan yang terjadi dalam pikiran kaum feminis adalah cara pandang yang salah. Mereka menganggap jabatan pemimpin itu tanda kemuliaan. Seperti halnya mengira harta yang banyak itu membahagiakan, padahal belum tentu. Dalam Islam, jabatan kepempimpinan dan harta itu amanah, tugas dan perintah yang harus dijalankan dengan baik.

Dari penjelasan diatas, jika dirunut lebih jauh, maka dapat kita temukan banyak sekali efek negatif yang bisa ditimbulkan dari paham kesetaraan gender ini. Paham ini pada akhirnya akan melahirkan paham relativisme yang meniadakan syariah dalam mengatur hubungan antarmanusia. Akibatnya,  mereka menghalalkan praktik homoseksual, sebab dianggap itu sebagai hak asasi manusia dan orientasi seksual itu sebuah pilihan yang tidak boleh dilawan, oleh syariah sekalipun.

Dalam pandangan kaum feminis, menjadi lesbianis seorang perempuan memiliki kontrol yang sama dan tidak ada dominasi dalam hubungan seksual. Isu kesetaraan gender selama ini lahir karena pemberontakan wanita Barat terhadap doktrin gereja. Isu kesetaraan gender membuat perempuan Barat mengingkari kodrat mereka seperti perempuan. Dimana hal itu tidak pernah dialami dalam tradisi Islam. Seharusnya ideologi itu tidak dipraktikkan dalam hukum Islam.  Apalagi paham feminism merupakan bagian dari liberalisasi dan sekularisasi agama yang secara perlahan namun pasti akan merusak hal-hal yang mendasar dalam Islam.

Sedikit mengambil kesimpulan, bahwa Feminisme dan gerakan gender adalah paham atau keyakinan bahwa perempuan benar-benar bagian dari alam manusia, bukan dari yang lain yang menuntut kesetaraan dengan laki-laki dalam setiap aspek kehidupan, tanpa melihat kodrat dan fitrahnya. Akan tetapi pada prakteknya, paham ini justru menjauhkan wanita dari fitrah dan kodratnya. Yang tepat itu bukan kesetaraan tapi keserasian. Keserasian tidak menuntut kesamaan  bahkan menunjukkan keharmonisan. Pria dan wanita secara fitrah dan kodrat berbeda, tetapi saling melengkapi. Maka, seseorang tidak perlu menjadi feminis untuk mencari keadilan wanita karena konsep Islam telah memberikan solusi dengan baik dan jelas, apalagi sampai merusak hal-hal mendasar yang menjadi prinsip Islam, yaitu syari’ah dan ayat-ayat al-Qur’an. Wallahu’alam[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU VIII) Unida Gontor.
Ed. admin pku

One Thought on “Feminisme dan Dekonstruksi Syariah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.