Oleh: Faris Naufal Luthfi/ Peserta PKU angkatan 15

Pendahuluan

Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang berkaitan dengan teori pengetahuan, yang mempelajari tentang hakikat pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas keyakinan. Maka epistemologi adalah makna ilmu, antonimnya, pokok dan cabang-cabangnya, serta cara-cara mendapatkan dan mengamalkan setiap ilmu itu dengan benar.[1] Dalam Islam, istilah epistemologi berubah menjadi istilah pemikiran (akal) dan memiliki kaitan erat dengan struktur makulat yang telah tersusun sejalan dengan wahyu, hadits, akal, pengalaman, dan intuisi. [2] Maka epistemologi Islam berbicara tentang konsep, disiplin, dan bagaimana cara pandang dalam ilmu keislaman, dengan formulasi yang sudah pakem yaitu wahyu.

Konsep realitas sangat mempengaruhi epistemologi. Bagi mayoritas ilmuwan dan pemikir pada peradaban barat modern, rasionalisme menjadi fondasi ilmu-ilmu pengetahuan yang bercorak antroposentris sebagai antitesis terhadap filsafat abad pertengahan yang bercorak teosentris. Dalam antrposentrisme, manusia menjadi pusat realitas, moralitas, sosial, dan pengetahuan, sehingga terjadi kontradiksi dengan teosentrisme yang menjadikan wahyu Tuhan sebagai pusat realitas.[3][4] Maka artikel ini berusaha untuk menjawab persoalan akademik seputar apa hubungan wahyu Tuhan dengan akal manusia ? sehingga penggunaan akal yang sebenarnya akan menjadi jelas bukan untuk menjadi fondasi keilmuan melainkan memiliki kaitannya yang erat terhadap wahyu Tuhan.

Baca juga: Columbus Bukan Penemu Benua Amerika

Biografi Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama‟ dan cendikiawan muslim yang cerdas pada zamannya, beliau menjelaskan bahwa wahyu dan akal bersifat tradisional yaitu pemikiran yang sumber utamanya adalah Al-Quran dan hadits. Pemikiran Imam AlGhazali lebih mengutamakan wahyu daripada akal, karena tanpa wahyu akal tidak dapat mengetahui kewajiban Tuhan dan kewajiban-kewajiban mengetahui Tuhan, berbuat baik dan buruk, dan perintah-larangan berbuat baik dan buruk. Imam Al-Ghazali adalah seorang tokoh pembaru, hal tersebut bisa dibuktikan dengan karyanya yaitu ihya’ ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu keagamaan). Buku ini tentu merupakan suatu solusi untuk keluar dari jeratan pemikiran keagamaan yang menurutnya mulai tersingkirkan oleh pemikiran filsafat.[5]

Hubungan antara Wahyu dan Akal

Imam Al-Ghazali membagi kebenaran dalam pengetahuan menjadi dua, kebenaran pengetahuan mu’amalah yaitu kebenaran konkret yang dapat diobservasi dengan al-hiss (panca indra) dan dapat dinalar oleh akal, dan kebenaran pengetahuan mukasyafah yaitu kebenaran abstrak yang terdapat pada pemikiran, transenden, nyata adanya, dan one and only way untuk memahami pengetahuan tersebut adalah wahyu.[6]

Hakikat wahyu menurut Imam Al-Ghazali sesuai dengan fungsi yang dibawakan oleh wahyu tersebut, yaitu firman Tuhan yang diturunkan kepada Nabi sebagai pedoman yang menuntun seluruh umat manusia untuk meniti kehidupan sampai akhir zaman sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Oleh karena fungsi tersebut wahyu bersifat universal, final, dan utuh (terjaga).[7] Sedangkan akal menurut Imam Al-Ghazali adalah tempat aktifitas logika, yaitu tempat pengetahuan yang mengolah pengetahuan yang diperoleh dari indera sesuai dengan spesifikasi pengetahuan tersebut. Menurut Imam Al-Ghazali Interaksi antara indera pada suatu objek memberikan informasi mendasar (konsep sederhana) terhadap sesuatu yang disebut pengetahuan tashawwur, kemudian hasil menghubungkan antar konsep-konsep sederhana tersebut adalah pengetahuan tashdiq.[8]

Imam Al-Ghazali menempatkan akal pada posisi yang tinggi terutama untuk mendapatkan pengetahuan melalui akal pikiran, bukan hanya pada proses berakal atau berpikir, tapi juga kemampuannya untuk mengembangkan berbagai pengetahuan dari satu atau beberapa pengetahuan tersebut. Dengan akal manusia mampu menemukan kebenaran yang yakin, maka akal adalah sumber pengetahuan yang tinggi dan factual. Namun demikian, dasar pembenaran akal itu pasti ada dan atas dasar itulah lahirnya keyakinan pada akal terhadap suatu yang menjadi objek pemikirannya. Ketika akal belum mampu memberikan keyakinan terhadap kebenaran, maka batas kedudukan akal hanya mendapatkan pengetahuan inderawi, oleh karenanya Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa sumber ilmu pengetahuan tertinggi bukanlah indera melainkan intuisi, sebab intuisi memiliki kapasitas dan potensi nalar yang mampu memberi keyakinan pada kebenaran (membenarkan) terhadap segala sesuatu yang berada diuar realitas rasional (metafisis) yaitu wahyu Tuhan.[9]

Baca juga:HERMENEUTIKA DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN; MENYOAL METODOLOGI PEMBACAAN KONTEMPORER

Kesimpulan

Dalam Islam kedudukan wahyu adalah sebagai dalil naqliy (nash) dan kedudukan akal adalah sebagai dalil ‘aqly (aqly), maka dalam penempatannya akal haruslah tunduk dan bisa menalarkan wahyu dengan indera dan intuisi. Ulama‟ klasik telah menyampaikan hal tersebut secara tertulis: taqdimu an-nash ala al-aqly bukan taqdimu al-aqly ala an-nash, artinya “Dahulukanlah teks (wahyu) daripada akal (nalar), bukan mendahulukan akal (nalar) daripada teks (wahyu).”

Al-„Attas, Syed Muhammad Naquib. 1986. A Commentar on the Hujat al-Ssid-diq of Nur alDin al-Raniri. Kuala lumpur: Ministry of Education and Culture.

Daud, Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan. 2005. Epistemologi Islam dan Tantangan Pemikiran Umat. Islamia: THN II No. 5 (April-Juni).

Fuadi. 2013. Peran Akal Menurut Pandangan Al-Ghazali. Substantia: Vol. 15 No.1 (April).

Ghazali, Muhammad Bahri. 2011. Konsep Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali. Cet. 2. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Mujahidin, Anwar. 2013. Epistemologi Islam : Kedudukan Wahyu Sebagai Sumber Ilmu. Ulumuna: Vol. 17 No.1 (Juni).

Mujieb, Abdul. & Ahmad Ismail dkk. 2009. Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali. Jakarta:

MMU.

Muniroh, Badlatul. Akal dan Wahyu (Studi Komparatif antara Pemikiran Imam Al-Ghazali dan Harus Nasution). http://download.garuda.ristekdikti.go.id

Samrin. Konsep Ilmu Pengetahuan Menurut Al-Ghazali (Analisis Epsitemologi Islam).

http://download.garuda.ristekdikti.go.id

[1] Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, Epistemologi Islam dan Tantangan Pemikiran Umat, Islamia: thn II No. 5 April-Juni 2005, 51

[2] Syed Muhammad Naquib Al-„Attas, A Commentar on the Hujat al-Ssid-diq of Nur al-Din al-

Raniri, (Kuala lumpur: Ministry of Education and Culture, 1986), 464-465

[3] Anwar Mujahidin, Epistemologi Islam : Kedudukan Wahyu Sebagai Sumber Ilmu, Ulumuna: Vol.

[4] No.1 (Juni) 2013, 43

[5] Badlatul Muniroh, Akal dan Wahyu (Studi Komparatif antara Pemikiran Imam Al-Ghazali dan Harus Nasution), http://download.garuda.ristekdikti.go.id(dikutip pada tgl 13 Juni 2021, 22.34)

[6] M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali, Cet. 2, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2011), 72

[7] Abdul Mujieb & Ahmad Ismail dkk, Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali, (Jakarta: MMU, 2009), 59

[8] Samrin, Konsep Ilmu Pengetahuan Menurut Al-Ghazali (Analisis Epsitemologi Islam), http://download.garuda.ristekdikti.go.id (dikutip pada tgl 14 Juni 2021, 14.18)

[9] Fuadi, Peran Akal Menurut Pandangan Al-Ghazali, Substantia: Vol. 15 No.1 (April) 2013, 87

Baca juga: Konsep Manusia Dalam Perspektif Psikologi Barat dan Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.