pku.unida.gontor.ac.id-Sabtu (22/9/2019), seusai mengimami jama’ah sholat magrib, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi kembali memberikan ceramahnya di depan para mahasiswa dan juga dosen. Kali ini, beliau membahas persoalan-persoalan terkait bagaimana sebetulnya seorang Muslim menyikapi dan memahami dirinya, agamanya dan apa yang terjadi kepadanya. Namun, seperti biasa, untuk mengingatkan memori para jam’ah, beliau terlebih dahulu membahas pembahasan minggu lalu tentang pemaknaan berislam pada fase syari’ah, syari’ah dan aqidah, kemudian berislam pada tingkatan ihsan, dimana pada maqom ini keberislaman seseorang sesuai dengan sabda nabi anta’ budallaha kaanaka tarahu….wain lamtakun tarahu fainnahu yaraka, secara ringkas.

Menarik, umumnya kita sebatas memahami berislam dimana keislaman tersebut diejawantahkan lewat amal sehingga menjadi amal sholeh. Tapi, menurut Dr. Hamid, bahwa ada lagi tingkatan di atas itu. Apa? Berislam dengan pikiran, membentuk pikiran yang sholeh, berpikir sholeh. Perkara inilah yang biasa disebut dengan at tasawur al Islami, al mabda’ al Islami atau ruyatul Islam lil wujud, bermakna Islam adalah sebuah cara pandang, alat untuk melihat kehidupan, alat untuk memahami kehidupan. Ini sebagaimana tertuang dalam ayat wa ‘allama adamal asma’a kullaha, artinya adalah Allah memberikan ilmu kepada anak adam, asma’ bisa diartikan sebagai al maaany, maanil asma, imbuh beliau.

Baca juga : Bendung Kristenisasi, Umat Islam Perlu Mengkaji Kristologi

Memahami Diri

Lebih lanjut, Dr. Hamid menerangkan, Islam sebagai agama wahyu, datang dengan membawa sekian banyak ajaran (syamil-kamil). Di antaranya mengenai bagaimana hidup secara Islam serta memahami diri kita secara Islam. Berkenaan seperti apa seorang Muslim memahami dirinya sesuai Islam, ada banyak ayat dalam al-Qur’an berbicara soal nafs, jiwa. Termasuk, wa nafsiw wama sawwaha faalhamaha fujuraha wa taqwaha, wa in ahsantum ahsantum li anfusikum. Lantas beliau seakan ingin menegaskan kembali urgensi daripada pengkajian ini dan mengatakan “Maka saya tadi mengulangi kata ”wa nauzubillahi min sururi an fusina –dalam muqoddimah-, siapa yang berdoa di sini, seakan-akan di dalam diri kita ini ada orang lain, aku berlindung daripada diri sendiri”

Penjelasannya, jiwa kita ini tidak selalu berorientasi pada kebaikan saja, melainkan berpotensi melenceng pada keburukan, al-Qur’an menyebut fujur dan taqwa. Dalam mengarungi kehidupan, manusia tidak sepi dari bisikan-bisikan setan (lammatus syaithon), juga bisikan-bisikan kebaikan (lammatul malaikat). Di sini penting memahami apa, bagaimana an nafsu al mutmainnah, apa itu an nafsu al ammarah bissu’, an nafsu lawwamah, jiwa yang mana? Kapan, seperti apa kondisi itmi’nan fil qalb? Kita harus mengenali itu semua di dalam jiwa kita, agar mengerti cara mengolah-mengaturnya. Jangan lengah. Daripada itu semua doa di atas menjadi penting. Alasan pertama, sebab kita tidak tahu bahkan tidak menyadari sedang melakukan keburukan, kedua sebagai seorang hamba tanpa memiliki daya upaya kecuali atas pertolongan Allah, wajib bagi kita selalu meminta perlindungan pada-Nya supaya dijauhkan dari keburukan-keburakan. Kemudian, wakil rektor I Unida-Gontor ini pun mengingatkan “ketika anda dapat kesempatan sesuatu berbuat jahat terus anda berbuat jahat, berarti anda tidak berlindung kepada Allah”.

Untuk lebih memberikan pemahaman berkenaan soal di atas, Dr. Hamid mengambil permisalan tentang “seekor kucing kalau ada tuannya seakan-akan baik-baik saja, begitu tuannya tidak ada, dia ambil semua makanan yang ada di atas meja. Nah, manusia kadang demikian sebenarnya. Tidak ada kejahatan kecuali ada kesempatan, orang yang punya kesempatan berbuat jahat berarti dirinya jahat. Manakala orang yang ketaqwaannya tinggi apabila memiliki kesempatan berbuat jahat, dia tidak berbuat jahat”. Contoh lain, lanjutnya, ketika orang yang taqwanya tinggi kemudian suatu saat diajak perempuan untuk berbuat zina kemudian dia menolak karena takut kepada Allah, itu yang Allah suka.

Lebih lanjut, berbicara mengenai jiwa di dalam al-Qur’an memiliki sebutan berbeda-beda. Kadang disebut aql, qalb, shadr, lubb, fuad, meskipun demikian, tetap merupakan entitas yang satu. Semua istilah tersebut sifatnya metafisik. Misal, fi sudurikum artinya di dalam dada anda. Namun, kalau dibedah tidak akan ketemu, mana aql, qalb, nafs. Kalimat ala fijasadihi mudghoh, mudghoh di sini bukan liver, hati, fisik. Idza sholuhat shohluhat jasadu kulluhu waidza fasasadat fasadat jasadu kulluhu, bukan sesuatu yang betul-betul daging atau segumpal daging, karena terbukti orang yang sakit liver, sehingga mengharuskan operasi di Cina, diganti dengan liver atau hatinya orang cina, apa kemudian dia gak berubah jadi orang kafir? Dia tetep Muslim. Berarti mudghoh itu sifatnya ruhani, metafisik.

Allah selalu membolak balikkan hati kita, muqallibal qulub, ketika jiwa berfungsi selaku qalb maka dia tidak stabil. Berbeda lagi ketika jiwa memahami fi khalqiss samawati wal ard namannya lubb, “pengguna” lubb disebut ulul albab. Orang yang jiwanya jujur dinamakan fuad, ma kadzabal fuadu ma ra’a, dia tidak berbohong dengan apa yang dia lihat. Berarti jiwa kita memiliki beragam potensinya. Pertanyaannya kemudian, potensi mana yang dominan dalam diri, itulah anda. Tegas Dr. Hamid.

Guna memperinci lagi penyampaiannya, beliau menyebut nama Imam al-Ghazali, bahwa sang hujjatul Islam membuat struktur junudul qalb, bala tentara hati. Pimpinan bala tentara harus aql, adapun tangan, mata, telinga bertugas selaku menteri-menterinya. Menteri tergantung pimpinannya. Apabila seorang menteri korupsi, maka ada kecenderungan kepalannya pun korupsi. Kebalikan, jikalau kepalanya tegas, siapa yang korupsi dipecat, mengundurkan diri, sikap begini akan memengaruhi bagaimana menteri-menteri di sekitarnya. Sama halnya, mata kita kalau melihat secara biasa namannya nazdoroh, tapi kalau melihat dengan segala jiwa dan nafsunya berganti dengan bashor, afala tubsiirun sebenarnya lebih bersifat kejiwaan.

Persoalannya sekarang, seperti apa memahamkan serta mengaitkan diri kita dalam konteks beribadah kepada Allah? Tanya beliau. Sebutlah ibadah sholat. Jamak diketahui, shalat ialah sarana seseorang menyucikan diri. Maka, jika shalat dianggap berhenti maknanya sekedar hanya ritual, bisa dipastikan dinilai sebuah siksaan, berawal shalat shubuh, dhuhur, ashar, magrib, dan isya. Pikiran model begini, shalatnya tak berpengaruh apa-apa, anda shalat tapi anda rugi. Berbeda hal sewaktu shalat difahami proses tazkiyah nafs yang terus-menerus, meskipun anda shalat lima waktu akan terasa kurang, butuh ibadah nawafil lain, hatta seolah-olah sama dengan ritual makan yang sehari tiga kali, hingga sampai pada keadaan jiwa yang muthamainnah. Itulah sebenarnya hakikat manusia.

Baca juga: Kajian Kitab Prolegomena Prof. M.N al-Attas; Penjelasan Dr. Hamid Fahmy tentang Konsep Manusia

Makna Bahagia

Dalam pemaparannya beliau mejelaskan bahwa Islam mengajarkan apa dan bagaimana yang benar, sebab dunia ini mempunyai pandangan yang sangat berbeda. Bagi masyarakat dunia, khususnya di negara-negara Barat, apa yang nampak secara kasat mata itu adalah kebenaran. Kalau ada wanita berpakaian seminim-minimnya itu adalah sah-sah saja dalam dunia modern karena hak setiap orang. Tapi dalam Islam realitas itu tidak bisa diterima, sekarang semua orang di negara-negara Barat itu mencari kesenangan tidak mencari ketenangan, entertainment itu menjadi bagian terpenting dalam kehidupan orang. Oleh sebab itu, arti dari sebuah entertainment adalah kegembiraan, kebahagiaan. Orang yang telah gembira dan bahagia itu adalah orang yang telah entertain by music, by sexual relation, by sexual interaction dan lain sebagainnya, itu namanya happiness. Jangan kemudian kita sebagai seorang Muslim ikut kriteria happiness semacam ini, saya akan bahagia sekali kalau saya bisa menonton konser musik bersama anak-anak muda, itu bukan bahagia.

Islam mempunyai kriteria bahagia sendiri. Kebahagiaan dalam Islam ialah melakukan sesuatu dengan fitrahnya. Fitrah manusia itu beriman dan beramal sholeh, senang menolong dan membantu orang lain, termasuk kebahagiaan yang sejati. Artinya, sekiranya ada yang bilang bahagia karena maksiat, itu sebenarnya adalah fiksi. Tipuan terhadap sifat fitrah, kebahagiaan semu, sekejap, berujung penyesalan. Dan itu bukan kebahagiaan.

Islam; Berdimensi Individual pun Sosial

Cara pandang kita terhadap diri dan apa yang diperbuat itulah sebenarnya tasawwur Islam, worldview, nadzoriyatul Islam, atau ru’yatul Islam lil wujud. Seluruh alam semesta ini harus difahami bagian dari ibadah kita, sebagai bagian dari ciptaan Tuhan dan kita memahami itu semuanya dalam ibadah kita, termasuk bermasyarakat terhitung bagian dari pemahaman ibadah. Berbeda di negara Barat, bermasyarakat tidaklah bernilai ibadah, contoh dalam hidup bertetangga yang dengannya saja tidak kenal, bahkan hidup sendiri dengan keluarganya sendiri tidak perduli, apalagi dengan orang lain, dan jika ditanya siapa tetangganya dia tidak tahu. Namun, di dalam Islam sikap kepedulian dengan keluarga merupakan tanda keimanan seseorang, anda tidak beriman kalau anda tidak bersosialisasi –bertetangga secara baik-.

Di dalam Islam, keberagamaan ditunjukkan di dalam sikap-sikap sosial. Bahkan politik adalah bagian dari religiusitas atau keberagamaan, maka jika anda sebagai politisi harus jadi politisi yang baik, karena Islam tidak bisa dipisahkan dari politik. Sekularisasi dalam Islam tidak ada tempatnya, Islam bukan agama yang sifatnya pribadi atau personal, itu adalah Kristen, Islam adalah agama publik, makanya orang yang namanya Harvey cox yang menulis buku the seculer city yang memproklamirkan sekularisasi dan sekularisme, akhirnya dia berpikir reconsidery the secularitation, mempertimbangkan lagi sekularisasi bukan desakralisasi, juga mempertimbangkan lagi sesuatu yang dimana tidak sekular, sebab di  negara-negara Barat sekarang ini, agama sudah menjadi bagian publik, orang melarang orang Islam adzan di masjid di semua negara, saya dua tahun di bermingham tidak pernah mendengar adzan, haram hukumnya kata orang sekuler, kenapa? Agama tidak boleh menjadi bagian dari kehidupan publik, nah kalau agama tidak boleh menjadi bagian dari publik, bagaimana kita sebagai seorang Muslim, ketika harus melaksanakan shalat berjamaah dengan jumlah yang begitu besar?. Masjid di perancis dan di jerman yang kecil itu ketika shalat jum’at terpaksa menutup jalan, kata beliau.

Jangan sekali-kali mengatakakan bahwa agama itu urusan pribadi, jangan menyinggung-nyinggung agama anda sudah sekuler,  agama itu urusan masyarakat, ini kadang ada artis mengatakan saya buka bukaan urusan saya dengan Tuhan, lah anda buka bukaanya di depan saya kok, ini tidak bisa, kalau anda mau telanjang bulat di kamar mandi itu urusan anda, tapi anda telanjang di depan publik. Ini memahami Islam sebuah tantangan sosial. Ini hati-hati kalau ada temen anda yang mengatakan “jangan campuri urusan saya” kalau tidak mau dicampuri ya anda hidup saja di hutan, anda itu hidup di masyarakat dan diatur oleh masyarakat, dan anda harus ikut, itulah Islam” ini sederhana, tapi kalau anda melanggar ditindak, dan kalau salah anda ditegur, itu Islam.

Kalau ada yang mengatakan “masa sudah dewasa masih ditegur”, sekarang jika pertanyaan tersebut dibalik “masa sudah dewasa harus ditegur”, “Masa sudah dewasa diatur-atur”. Hal ini menunjukan bahwa anda tidak bisa mengatur diri sendiri, Islam itu mengatur anda dari sejak bayi sampai mati, kok anda tidak mau diatur oleh Islam. Orang yang pintarnya sekelas professor saja sudah sesat. Orang itu dalam Islam, sejengkal sudah di depan pintu surga saja bisa pindah ke depan pintu neraka, jangan terlalu percaya bahwa kita semuanya sempurna, semuanya berproses, amalan yang akan membawa kita pada khoiron atau kepada sesuatu yang baik, ungkap beliau.

Sikap seorang Muslim terhadap ketentuan Allah

Selain dari pada itu, memahami cara pandang Islam dengan memahami Tuhan ini adalah sesuatu yang sangat penting, tetapi kemudian banyak orang yang gagal memahaminya, padahal dapat dikatakan inilah yang kemudian inti dari bertauhid dan beriman. Jika seseorang memahami Tuhan berarti tahu apa yang harus dilakukan untuk dirinya kepada Tuhan. Dan kalau salah faham terhadap Tuhan, anda akan gagal dalam kehidupan. Pemahaman yang benar akan Tuhan tidak akan menghasilkan pikiran yang berburuk sangka akan-Nya, seperti pernyataan “saya berdoa kepada Allah tapi tidak dikabulkan, saya sudah shalat, puasa, tapi Allah tidak mengabulkan, setelah itu ia berburuk sangka pada Allah”, hal ini sangat berbahaya, ini adalah sikap at taiasu min rohmatillah (Anda putus asa dengan rahmat Tuhan). Padahal di saat yang sama, Allah lebih Maha tahu terhadap hambanya. Lantas, kewajiban seorang Muslim adalah berdoa kepada Allah, karena Allah tahu mana yang terbaik untuk hambanya. Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita bukan apa yang kita kehendaki. Skenario Allah lebih baik dari segalannya.

Terdapat doa yang biasa dinisbatkan kepada kaum Sufi yang berbunyi: allahumma radhini bi qadaika, allahumma barikli bi qudratika, serahkan kepada Allah, wa ufawwidu amri illah, Allah tahu apa yang dilakukan oleh hamba-Nya dia tafwid kepada Allah, dia tawakal kepada Allah, karena  Allah akan memberik jaza’, ujar beliau.

Waman ya’mal sholihat wahuwa mu’minun (beriman dan beramal shaleh) fala kufrona lisa’yihi wa inna lahu lakatibun (al-Kahfi: 30) ayat ini dapat diartikan bahwa apa yang diusahakan oleh seorang hamba itu tidak akan ditinggal oleh Allah, karena Allah menulis semuanya itu ya’mal sholihat wahuwa mu’min, amal shalehnya itu dengan keimanan. Allah mengetahui bahwa amal-amal yang dilakukan oleh hambanya adalah akumulasi dari sebuah akhir yang bagus bagi saya. Keyakinan seperti ini yang perlu dimiliki oleh setiap anda semua, itulah cara diri kita memahami diri kita dan memahami Allah. Maka man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, kalau anda tahu bagaimana diri anda, dinamika dalam diri anda, sebenarnya anda tahu bagaimana hubugan diri dengan Allah dari itulah anda mengingat Allah, papar beliau.   

Rep. Ach. Fuad Fahmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.