pku.unida.gontor.ac.id- Perdebatan  kontekstualisasi  pemikiran  keagamaan adalah upaya membongkar nilai-nilai Islam “Shālih li kulli Zamān wa Makān” yang tersembunyi dibalik teks, selaras dengan visi dan misi maqashid syaria’ah. Syariah adalah  sesuatu yang dinamis, tidak statis. Kedinamisannya terletak pada kenyataan bahwa syariah menuntut implementasinya dalam kehidupan sosial masyarakat.

Namun, kerap kali terjadi penolakan terhadap hukum Islam dengan alasan hukum Islam tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai dan budaya masyarakat hari ini. Belum lagi hukum Islam berkenaan dengan wanita. Mereka selalu kali menuduhnya tidak ramah dan cenderung melecehkan. Dan atas dasar ini semua mereka lantas menyarankan agar dilakukan penafsiran ulang atas hukum-hukum tersebut dan kalau perlu didekonstruksi.

BACA JUGA: Perlukah feminisme dalam Islam ?

Selasa 20 Agustus 2019,  peserta PKU XIII Putri UNIDA Gontor, secara serius mendiskusikan kebijakan beberapa tokoh Islam  kontemporer yang memiliki fokus kajian pada Hukum Syariah dan pembaharuan Fiqh. Sebut saja salah satu tokoh bernama Abdullahi Ahmed  Naim yang yang begitu pro dalam pelaksanaan  pembaharuan pada hukum-hukum Islam, beralasan bahwa hukum Islam sangatlah  radikal, prinsip-prinsipnya menjebak mereka pada absolutisme. Abdullah Naim bahkan berusaha mendekonstruksi konsep syariah melalui penafsiran dan penerapan al-Qur’an dan sunnah dala konteks historis terkini.

Begitu juga Fazlur Rahman salah satu sarjanawan sastra Arab Punjab University, dalam bukunya Islamic Methodology of History, ia mengatakan pintu-pintu ijtihad harus diperbaharui dengan membuka pintu-pintu  ijtihad selebar-lebarnya. Maksudnya adalah tidak ada pembatasan, syarat prasyarat dalam melakukan ijtihad. Walau banyak ditolak oleh kaum tardisionalis, ia tetap mendobrak makna atau tafsiran yang ada dalam al-Qur’an. Semuanya Fazlu Rahman lakukan demi  menciptakan hukum fiqh yang sesuai dengan zaman dan tempat.

Tidak kalah dari kalangan perempuan hadir tokoh bernama Fatimah Mernissi, sebagai perempuan yang besar ditengah sengitnya peperangan yang terjadi di Maroko. Fatimah Mernissi berusaha merubah bentuk demokrasi pemerintahan dan membawa kebebasan perempuan pada puncak kejayaan yang diamini oleh kaum Barat.  Hal itu dilakukan oleh Fatimah Mernissi untuk meninggikan derajat perempuan Arab seperti posisi perempuan yang ada di Amerika. Hingga muncullah tokoh perempuan baru bernama Amina Wadud tidak mau kalah dalam berargumentasi serta menyampaikan pendapatnya bahwa selama ini perempuan tengah  didiskrimanasi karena tafsir al-Qur’an yang dianggapnya sangat adrosentris. Banyak ayat yang tereduksi sehingga membutuhkan hermeneutika feminis dalama penafsiran ulang al-Qur’an.

BACA JUGA: Pandangan Orientalisme Barat terhadap Islam

Hal ini lah yang patut diwaspadai karena produk akhir dari pemikiran tersebut memiliki unsur berbau kepentingan individu, bakan akan terlalu terjerat pada kondisi sosial budaya. Wahyu Allah yang awalnya mutlak berubah menjadi relatif. Masuklah pada tahap skenario perubahan hukum-hukum yang berlaku dalam Islam,  diawali dengan wacana tafsir baru melahirkan hukum baru. Lesbian yang tadinya adalah hal tabu akhirnya dianggap biasa. Sakralitas dalam berijtihad luruh, digantikan oleh siapa saja bisa mencetuskan syariat. Dilema moral terjadi disana-sini.

Manusia lupa bahwa menyukai sesuatu yang baru tidak boleh melampui hal-hal yang prinsip dalam ruang lingkup syariah Illahi. Karena melanggar syariah berarti terjerumus ke dalam penyakit dan bahaya. Merusak keseimbangan syariah secara umum. Imam Ghazali memberikan batasan dalam melakukan pembaharuan pada Fiqh yaitu segala hukum syara yang tidak memiliki hukum qath’i. maka diluar itu, ia termasuk hukum yang tidak ada ruang lagi baginya untuk dilakukan ijtihad, meliputi persoalan yang telah menjadi kesepakatan umat dari hukum-hukum syara’ yang nyata dan sangat jelas.  Waallahu’alam.[]

Rep. S.A Inayatusufi
Ed. Admin pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.