(Kajian Metode Dakwah Ulama Jawa Melalui Pendidikan Keagamaan Berbasis Kebudayaan)

Oleh : Saeful Amri

 

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mukar. Merekalah orang-orang yang beruntung”. (Al-‘Imran : 104)

Pasca kalahnya pangeran Diponegoro dalam perang Jawa pada tahun 1825-1830 M, melawan Belanda dengan mengangkat senjata sama saja dengan bunuh diri. Sebab pemerintahan Belanda, secara formal telah melembagakan kekuasaannya dalam mengatur seluruh aktivitas sosial dan politik di Jawa,[1] Sementara itu, masyarakat masih terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.[2]  Sehingga upaya yang dilakukan oleh para ulama dalam berdakwah bukan lagi dengan menggunakan senjata perang tetapi melalui pencerahan pemikiran yakni mencerdaskan masyarakat melalui ajaran agama yang dibungkus dengan budaya lokal. perlawanan ini disebut dengan perlawanan kultural yaitu suatu perlawanan dengan tidak menggunakan kekerasan sebagai senjatanya tetapi mengajarkan masyarakat untuk menolak budaya-budaya penjajah dengan menjaga baik-baik kebudayaan sendiri.

Gerakan kultural ini mengambil tipe dan corak dalam gerakan Islam yang bertumpu pada kekuatan rakyat sipil, berbekal konstruksi pengetahuan, dan megandalkan kekuatan moral. Dari gerakan kultural ini kemudian membentuk sebuah tradisi. Disamping berperan untuk membangun masyarakat muslim dari dikte penguasa, gerakan kultural ini juga bertujuan untuk membentuk kehidupan yang luhur bagi pribadi-pribadi muslim. Oleh karenanya gerakan kultural ini biasanya dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama, baik dari kalangan sufi, faqih, maupun teolog.[3] Salah satu ulama yang melakukan dakwah dengan perlawanan kultural adalah Kiai Sholeh Darat.

Kiai Sholeh Darat bernama asli Syaikh Muhammad Sholeh Ibn ‘Umar Al-Samarani lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong Jepara, Jawa tengah pada tahun 1820.[4] Ayahnya adalah Kiai ‘Umar. Ia seorang tokoh ulama yang cukup terpandang dan disegani dikawasan pantai utara Jawa. Kiai Umar juga seorang pejuang perang Jawa (1825-1830), sekaligus orang kepercayaan pangeran Diponegoro di Jawa bagian utara Semarang.[5]

Ia mendirikan pondok pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darat di pesisir utara kota Semarang.[6] Di antara santri dan tokoh yang pernah belajar kepada Kiai Sholeh Darat misalnya Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH. Bisri Syamsuri (Pendiri Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang), Kiai R. Dahlan Tremas (seorang ahli falak), Kiai Idris (Pondok Pesantren Jamseran Solo), Kiai Sya’ban bin Hasan (ulama ahli falak Semarang), Kiai Munawir Krapyak Yogyakarta, serta R.A. Kartini Jepara, yang menjadi simbol kebanggaan kaum wanita Indonesia.[7]

 

Dakwah Kultural Kiai Sholeh Darat

perjuangan Kiai Sholeh Darat dalam mendakwahkan Islam kepada masyarakat Jawa terbilang sulit. Karena pergerakannya di awasi secara ketat oleh pemerintah Kolonial Belanda.[8] Sehingga untuk menumbuhkan jiwa patriotisme masyarakat, ia tidak bisa  melakukannya secara terang-terangan. Karenanya ia kemudian membungkus dakwahnya tersebut melalui pendidikan keagamaan yang berbasis pada kultur atau kebudayaan. ini semua bisa dilihat dari dua pendekatan: pertama, melalui pendekatan simbolik (identitas); kedua, melalui pendekatan idiom-idiom keagamaan, yang mana keduanya disampaikan secara implisit di dalam karya-karyanya.[9]

  • Dakwah Kultural dengan Pendekatan Simbolik (Identitas)
  • Larangan menyerupai pakaian dan tingkah laku penjajah

Dalam upayanya menumbuhkan jiwa-jiwa patriotisme masyarakat muslim kala itu, Kiai Sholeh Darat mengeluarkan fatwanya tentang larangan cara hidup seperti orang-orang kafir, termasuk dalam hal berpakaian. Larangan itu tertulis didalam kitab Majmu’at al-Syari’at al-Kafiyat Li al-‘Awam dalam pembahasannya tentang kufur. Di dalam kitab tersebut ia mengatakan:

“… Lan dadi kufur meneh wong kang nganggo penganggone liyane ahli Islam, penganggo kang wus tertentu maring liyane ahli Islam kebeh serta atine neqodake baguse iki penganggone serta demen atine maring iki penganggo. Lan haram ingatase wong Islam nyerupani penganggone wong liya agama Islam senadyan atine ora demen. Angendiko setengahe ulama muhaqqiqin, sapa wonge nganggo penganggone liyane ahli Islam koyo kelambi, jas, utawa topi, utawa dasi, maka dadi murtad, rusak Islame senadyan atine ora demen. Alhasil, haram dosa gede ingatase wong Islam tiru tingkah polahe liyane ahli Islam ing ndalem perkarane penganggo utawa tingkah polahe mangan senadyan atine ora demen. Anapun lamun demen sak hal dadi murtad senadyan ora nganggo panggonane kerono wong kang demen kufur yo dadi kufur, wong kang demen maksiat yo dadi maksiat, senadyan ora ngelakoni maka ati-atiyo ta siro.”[10]

Selain itu ia juga mengatakan:

“Aja nyerupani sira kabeh maring liyane ahli Islam ing ndalem panggonane lan tingkah polahe lan mangan ngombene, cecaturane lan mangane, maka haram ingatase wong Islam aweh isyaroh maring wong Islam kelawan tangane utawa kelawan derijine utawa kelawan angenterok-ngenterok tangane nalika salaman kerana arah tiru-tiru ahli kitab.”[11]

Maksud dari perkataan-perkataan Kiai Sholeh Darat diatas ialah pentingnya melawan Kolonial Belanda melalui perlawanan kultural atau budaya, yakni tidak mengikuti apa-apa yang biasa dilakukan oleh Kolonial Belanda seperti cara berpakaian, cara makan, hingga cara bersalaman. Semua kebiasaan mereka harus dijauhi dan ditinggalkan. Ini merupakan perlawanan identitas antara penjajah yang keji dengan masyarakat yang mengalami penderitaan. Melalui perlawanan kultural inilah masyarakat Jawa tidak hanya menjaga nilai-nilai dan tradisi budaya mereka sendiri melainkan juga menanamkan semangat patriotisme untuk melawan dan mengusir penjajah dari tanah air.

  • Dakwah Kultural dengan Pendekatan idiom-idiom keagamaan
  • Larangan Sombong

Diantara ajaran Kiai Sholeh Darat yang di sampaikan secara implisit, dengan menggunakan idiom-idiom keagamaan adalah larangannya berlaku sombong. Didalam kitab Munjiyat, salah satu tema yang dikupas adalah soal takabur (sombong). Bagi Kiai Sholeh Darat, Takabur adalah penyakit hati yang harus di jauhi oleh umat Islam. Ia menyatakan:

“…Setuhune kibir iku diddum atas rong perkara: ana batin la nana dzahir, maka kibir batin iku iya pekerti ing dalem ati lan iya iku kelawan rumangsa ing dalem atine setuhune awake iku angungguli ing liyane ing ndalem sifat kasampurnan. Maka utawi kibir dzahir maka iku pira-pira penggawene kang dzahir. Maka kibir ing ndalem ati lan takabur ing ndalem penggawehan dzahir kaya yen lelungguhan ora gelem asor lan yen caturan ora gelem kalah lamun den ina wong maka bendu lan lamun ora den tatakramani maka iya bendu, lan lamun nuturi manungsa maka kelawan keras, lan lamun den tuturi maka bengis, maka lamun muruki santri maka ora welas maring santri lan ngina-ngina, lan lamun kongkon maka keras, lan lamun ningali wong awam kang bodo-bodo maka kaya ningali kebo sapi ing ndalem bodone. Maka kabeh iku takabur arane.”[12]

Dari peryataannya diatas, Kiai Sholeh Darat secara implisit mengkritik budaya imperialisme yang dianggapnya sebagai bentuk kesombongan dan penindasan dalam dunia sosial. Sebab, rezim kolonial memandang masyarakat pribumi, terutama orang awam, tak ubahnya seperti binatang. Budaya tersebut merupakan cermin dari ketakaburan, kesombongan dan kecongkakan yang bukan hanya bertentangan dengan semangat agama tapi juga sangat memalukan. Karena sistem tersebut pada puncaknya akan mengungkung seseorang untuk berbuat kebajikan, tentunya ketika tindakan kebajikan tersebut dianggap mengancam wibawa dan otoritas kelompok penguasa. Oleh Karenanya, menurutnya, seburuk-buruknya ketakaburan adalah ketika menghalang-halangi seseorang untuk berbuat baik dan benar, Karena kelak siksaannya akan sangat pedih. Pemikiran ini tidak ia sampaikan secara terang-terangan, tetapi secara implisit di dalam kitabnya. Meskpiun begitu perkataannya ini adalah upaya dakwahnya dalam mendidik dan mencerahkan pemikiran masyarakat Jawa untuk membenci dan melawan rezim kolonial.

Daftar Pustaka

Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1, Bandung: PT Grafindo Media Pratama, 2013;

Taufiq Hakim, Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M, Yogyakarta: Institue of Nation Development Studies (INDeS), 2016;

Tim Penulis JNM, Gerakan Kultural Islam Nusantara, Yogyakarta: Jamaah Nahdliyin Mataram (JNM) bekerjasama dengan panitia Muktamar NU ke-33, 2015;

Abdullah Salim, Majmu’at as-Syari’at al-Kafiyat li al-Awam (Karya Kiai Sholeh Darat) Suatu kajian terhadap kitab fikih berbahasa jawa akhir abad 19, Semarang: Unissula Press, 1995;

Bagus Irawan dkk (editor), Biografi Kiai Sholeh Darat, dalam Syarah Al-Hikam karya Kiai Sholeh Darat, Depok: Penerbit Sahifa, 2016;

Zainul Milal Bizawie, Masterpiece Islam Nusantara sanad dan jejaring ulama-santri (1830-1945), Tangerang Selatan: Pustaka Compass, 2016;

Muhammad Shokheh, Tradisi Intelektual Ulama Jawa: Sejarah Sosial Intelektual Pemikiran KeIslaman Kiai Sholeh Darat, Jurnal Paramita, Vol 21, No 2, Juli 2011;

Sholeh Darat, Majmu’at As-Syari’at Al-Kafiyah Li Al-‘Awam, Semarang: Toha Putera, t.th.

 

[1] Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1, Bandung: PT Grafindo Media Pratama, 2013, h.192-196.

[2] Taufiq Hakim, Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M, Yogyakarta: Institue of Nation Development Studies (INDeS), 2016, h. 101.

[3] Tim Penulis JNM, Gerakan Kultural Islam Nusantara, Yogyakarta: Jamaah Nahdliyin Mataram (JNM) bekerjasama dengan panitia Muktamar NU ke-33, 2015, h. 31-32.

[4] Abdullah Salim, Majmu’at as-Syari’at al-Kafiyat li al-Awam (Karya Kiai Sholeh Darat) Suatu kajian terhadap kitab fikih berbahasa jawa akhir abad 19, Semarang: Unissula Press, 1995, h. 15

[5] Bagus Irawan dkk (editor), Biografi Kiai Sholeh Darat, dalam Syarah Al-Hikam karya Kiai Sholeh Darat, Depok: Penerbit Sahifa, 2016 h xxvi.

[6] Taufiq Hakim, Op. Cit. h. 56.

[7] Zainul Milal Bizawie, Masterpiece Islam Nusantara sanad dan jejaring ulama-santri (1830-1945), Tangerang Selatan: Pustaka Compass, 2016, h. 444-445.

[8] Muhammad Shokheh, Tradisi Intelektual Ulama Jawa: Sejarah Sosial Intelektual Pemikiran KeIslaman Kiai Sholeh Darat, Jurnal Paramita, Vol 21, No 2, Juli 2011, h. 101.

[9] Taufiq Hakim Op. Cit., h. 104.

[10] Sholeh Darat, Majmu’at As-Syari’at Al-Kafiyah Li Al-‘Awam, Semarang: Toha Putera, t.th., h. 24-25.

[11] Ibid, h. 26.

[12] Sholeh Darat, Hadzihi Kitab Munjiyat, Semarang: Toha Putera, t.th., h. 39-40.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.