Oleh: Usamah Abdurrahman

Muqaddimah

Manusia dalam menempuh jalan hidup yang telah Allah takdirkan padanya diharuskan berpegang teguh pada ajaran islam. Tujuannya tak lain ialah untuk membawanya sampai pada destinasi utama kehidupan yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Namun begitu, berpegang teguh pada ajaran islam, berupa mentaati setiap perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya, bukanlah perkara yang serta-merta ada lagi tegak. Karenanya, diperlukan segolongan orang yang dengan kerelaan hati dan keteguhan jiwa tampil di muka memberikan seruan bagi yang lain. Merekalah para da’i, dan aktifitas mulia mereka disebut dakwah.

Dalam prakteknya, dakwah dilaksanakan dengan berbagai cara dan metode. Kesemuanya disesuaikan dengan objek dakwah atau mad’u. Namun begitu, sebuah kerja dakwah progresif, lebih-lebih yang menjangkau sebuah cakupan yang luas lagi besar, memiliki satu kunci dasar yaitu kebersamaan, keberjamaahan. Tulisan sederhana ini akan mengulas urgensi dakwah bersama jamaah dan prakteknya.

BACA JUGA: Reformulasi Strategi Dakwah Islam : Membangun Paradigma Mubaligh Muda yang Berkarakter dan Professional

Dakwah; Bukan Perkara Mudah

Sepanjang sejarah, telah tercatat berbagai episode perjuangan dakwah dengan berbagai levelnya. Dimulai dari fase turunnya risalah sejak masa Nabi Adam AS yang ditutup oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian dilanjutkan fase setelahnya hingga masa sekarang. Dunia tidak pernah sepi dari dakwah. Tiada satu kaum-pun yang Allah biarkan berjalan di muka bumi tanpa seruan dakwah melalui utusan-Nya. Allah sendiri berfirman;

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” (Yunus: 47)

Selain telah Allah janjikan, keberadaan da’i juga didorong oleh keterangan Allah tentang keutamaan  dakwah sebagai sebaik kata-kata yang terbaik.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33)

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri(“. (Fusshilat; 33)

Sejalan dengan hal itu, balasan yang amat menggiurkan berupa pahala yang amat besar terdapat dalam hadits Rosulullah;

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

BACA JUGA: Dakwah Kultural Kiai Sholeh Darat

Namun begitu, jalan surga tersebut tidaklah mulus, melainkan berbatu-batu, tidaklah lurus melainkan berkelok-kelok. Lihatlah Ibrahim AS, jalan dakwahnya terjegal langsung pada kesyirikan ayahnya, Ashar, yang bahkan berprofesi sebagai produsen sesembahan bangsanya yang paganis. Belum tantangan Namrud yang membakarnya hidup-hidup karena tuduhan penghancuran berhala-berhala yang sebenarnya juga tidak terbukti ketika penghakiman. Lihat pula Nabi Nuh AS yang harus mati-matian meyakinkan ummatnya agar taat kepada Allah dengan mau memepercayainya dan naik bahtera, tetapi bahkan anaknya sendiri lebih memilih bukit tinggi untuk menyelamatkan diri, sebelum akhirnya binasa oleh bah. Juga Ashabul Kahfi yang harus melarikan diri dari negerinya menuju ke gua, mengungsi dari raja yang kezalimannya sudah tak bisa ditawar lagi.

Di masa kini, ketika risalah telah sempurna dan seruan kebenaran benar-benar telah universal, ilustrasi perjalanan dakwah yang dihadapkan dengan tantangan besar masih terus berlanjut. Umar Mukhtar, pejuang Libya berjuluk The Lion of the Dessert, harus berjuang menghadapi moncong senapan serdadu Italia untuk mempertahankan aqidah dan kemerdekaan bangsanya. Syeikh Ahmad Yassin, ulama Palestina sekaligus tokoh HAMAS, dengan cacat fisiknya berani mengkonfrontasi Zionis Israel, meskipun akhirnya harus wafat oleh rudal helikopter di sebuah siang selepas shalat jum’at.

Tak ketinggalan di dalam negeri, Ahmad Dahlan ketika hendak memperbaiki aqidah masyarakat Jogja, harus menghadapi tekanan abdi dalem keraton. Bahkan, langgar dimana ia ber-ta’mir sampai diratakan dengan tanah. Dakwah Ilallah memang sama sekali tak mudah. Kepayahan adalah konsekuensi harakah.

Membangun Jamaah Dakwah

Dakwah memang tugas yang berat. Namun kebersamaan dalam jamaah mampu meringankan beban tersebut. Ibarat sebuah lidi yang berdiri sendiri tidak memberikan manfaat apa-apa. Tetapi ketika lidi-lidi tersebut dikumpulkan menjadi satu kemudian dirangkai, ia dapat menjadi sapu yang bisa digunakan untuk membersihkan kotoran di halaman.

Mari kita lihat kisah Nabi Musa AS, dengan segala kemuliaan, kecerdasan, keteguhan, dan kekuatannya-bahkan termasuk dalam Ulul Azmi, beliau tetap membutuhkan partner untuk membantunya menghadapi Bani Israel yang terkenal keras kepala. Dalam surat Thaha ayat 29 – 30 terekam doanya kepada Allah;

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي (29) هَارُونَ أَخِي (30) اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي (31) وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي (32)

            “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.” (Thaha: 29 – 32)

Mari lihat pula Rosulullah Muhammad SAW, dalam menghadapi kafir Quraisy, beliau mendapat perlindungan dan sokongan dari para sahabat-sahabatnya yang secara rutin berhimpun di Batul Arqam. Begitupun selepas hijrah ke Yatsrib, Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan masih banyak lagi sahabat yang lain membantu beliau menghadapi tantangan yang lebih besar, koalisi pasukan se-jazirah Arab, bahkan Romawi dan Persia. Bisa dibayangkan dakwah Muhammad tanpa keberadaan sahabat dalam jamaah islamiyah, kalimatullah tidak akan tegak di muka bumi hingga saat ini.

Dewasa ini, gerakan jamaah dakwah yang mengusung Panislamisme untuk menghadapi hegemoni Barat dapat kita lihat pada Ikhwanul Muslimin di Mesir yang pengaruhnya hingga ke seluruh penjuru dunia, juga Hizbut Tahrir yang bermula di Palestina, pun Jamaah Tabligh yang bermula di tanah Hindustan. Dalam konteks regional, terdapat HAMAS di Palestina sebagai jamaah dakwah melawan zionis Israel. Dalam konteks keindonesiaan, kita dapat melihat Muhammadiyah, Nahdhotul Ulama, Al-Irsyad, dan gerakan-gerakan lainnya yang mendakwahkan islam melalui jamaah.

Akhir kata, berjamaah merupakan modal awal yang amat kuat untuk melakukan kerja dakwah. Namun begitu perlu diingat, keberjamaahan dalam gerakan tidak boleh mengalahkan keberjamaahan dalam kesatuan islam. Wallahu a’lam bish-Shawab.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU XI) Unida Gontor
Ed. admin pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.