Oleh: Yongki Sutoyo

Berbicara masalah budaya ilmu dalam peradaban Islam, tidak lepas dari pembahasan generasi terbaik Islam. Sebab, pada generasi tersebut tertanam budaya ilmu yang kuat.

Dari budaya ilmu yang kokoh itulah para generasi terbaik ini membuat fondasi peradaban yang kokoh. Maka, peradaban Islam adalah peradaban yang tegak dengan ilmu sebagaimana firman pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, “Bacalah!”.

Sebagaimana Islam tegak dengan ilmu, kemunduran umat Islam pun pada abad ini juga disebabkan oleh hilangnya rasa haus dalam memperoleh ilmu. Yang terjadi saat ini adalah umat Islam hanya menjadi pengekor, emitator dan pemakai ilmu pengetahuan, bukan umat yang memproduksi ilmu pengetahuan. Maka untuk bangkit, umat Islam harus kembali pada jati diri asalnya, yakni menyuburkan budaya ilmu.

Apa yang dimaksud dengan budaya ilmu? Apakah ciri-ciri yang bisa menunjukan bahwa seseorang atau masyarakat itu memiliki budaya ilmu?

Budaya ilmu ialah keadaan dimana setiap lapisan masyarakat melibatkan diri, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam kegiatan keilmuan di setiap kesempatan. yang dalam segala tindakannya—individu maupun kelompok—diputuskan dan dilaksanakan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan melalui pengkajian maupun musyawarah.

Dan dalam budaya ini, ilmu dianggap sebagai keutamaan tertinggi dalam sistem nilai pribadi maupun kelompok di setiap tingkatan dalam masyarakat. Dimana masyarakat yang berbudaya ilmu akan nenolak dan membenci pandangan, pernyataan, serta amalan yang tidak berdasarkan ilmu dan kebenaran, tanpa memandang kedudukan, ras, suku dan budaya pelakunya.

Namun, budaya ilmu tidak akan terbangun jika sikap menghormati ilmu pengetahuan dan membeci kebebalan dan kebodohan, dan jika usaha-usaha menambah ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam berbagai bidang kehidupan dilakukan oleh segolongan orang saja. Budaya ini harus tersebar luas dan berakar kokoh dalam tradisi di setiap lapisan masyarakat (Wan Daud: 2007: 29).

Ringkasnya, budaya ilmu ialah budaya yang meletakkan nilai tertinggi dan asasi kepada ilmu pengetahuan sebagai kunci segala kebaikan dan keutamaan yang dicari dan dikembangkan pada setiap waktu dan di setiap tempat (Wan Daud: 2007: 33). Sedangkan ciri-ciri yang bisa menunjukan bahwa seseorang atau masyarakat itu memiliki budaya ilmu adalah sebagai berikut:

Cinta Ilmu

Cinta ilmu di sini bukanlah cinta ilmu dalam pengertian Barat. Yaitu menjadikan ilmu hanya sekedar pencarian intelektual tanpa henti dan tidak ada hubungannya dengan pencarian spiritual, yakni kebenaran mutak untuk mengenal Sang Pemilik ilmu.

Bukan juga hanya seperti pemahaman pragmatisme, dimana dalam pencariannya hanya hal-hal yang berguna bagi manusia (untuk kehidupan dunia) saja untuk dijadikan acuan utama pencarian ilmu. Atau yang lebih buruk lagi, ilmu dijadikan komoditas ekonomi yang menguntungkan. Cinta ilmu—sebagamana kaitannya dengan budaya ilmu—dalam pandangan Islam adalah, dengan ilmu itu, umat Muslim dapat lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Dengan ilmu itu pula, umat Muslim meyakini dirinya akan diberikan derajat yang lebih tinggi (QS. Al-Mujadalah: 11). Dari pemahaman, bahwa ilmu itu akan menghantarkan orang yang cinta terhadap ilmu ke derajat yang tinggi dan dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka seluruh kegiatan keilmuan yang dilakukan adalah semata-mata untuk mencapai apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Dekat dengan Buku

Hubungan ummat Muslim dengan buku adalah seperti sahabat karib, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Jahiz: “Buku akan diam selama anda membutuhkan kesunyian, akan fasih berbicara kapan pun anda menginginkan wacana. Ia tidak pernah menyela anda ketika anda sedang bicara, tetapi jika anda merasa kesepian maka ia akan menjadi sekutu yang baik. Ia adalah teman yang tidak pernah mencurangi atau memuji anda dan ia adalah saudara yang tidak pernah membosankan anda.” (Nakosteen, 1996: 87).

Al-Farabi, dalam sumber yang dikutip tersebut di atas, menggambarkan dengan begitu indah, bagaimana hubungan buku dengan umat Islam, yaitu sebuah lidah bagi orang yang mati, juru bicara bagi orang yang hidup. Al-Farabi juga menggambarkan buku sebagai “Seorang tamu sore hari yang tidak pernah tidur dan tidak pernah mengucapkan kata-kata kecuali apa yang menyenangkan anda, dan tidak pernah membuka rahasia. Ia adalah tetangga yang paling setia, teman yang adil, rekan yang patuh, guru yang rendah hati, teman yang ahli dan bermanfaat, tidak suka membantah atau menjenuhkan.” (Nakosteen, 1996: 88).

Dengan sikap ta’dzim kepada buku-buku tersebut, tidak mengherankan perpustakaan-perpustakaan Muslim menjadi pusat ilmu pengetahuan di mana pun perpustakaan-perpustakaan tersebut didirikan (Nakosteen, 1996: 88). Cinta ilmu juga tidak hanya terbatas pada aktivitas membaca dan mengoleksi banyak buku. Menulis dan penterjemahan adalah aktivitas yang juga mencerminkan kecintaan terhadap ilmu.

Akademi Jundi-Shapur yang merupakan pusat ilmu pengetahuan Islam selama masa periode pemerintahan Umayyah (661-749), selain digunakan oleh para cendekiawan untuk mengejar usaha-usaha ilmiah (melakukan penelitian dan menuliskan hasil penelitiannya), juga digunakan sebagai tempat penerjemahan karya-karya klasik Yunani, Persia, India dan China (Nakosteen, 1996: 27-48).

Oleh karena itu, buku merupakan benda yang paling penting dalam perkembangan peradaban Islam. Tanpa kecintaan masyarakat Muslim terhadap buku, mustahil peradaban Islam dapat menjadi mercusuar dunia dan menjadi peradaban yang agung, terutama karena sumbangsihnya atas perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Hormat Kepada Ilmuwan dan Pendidik

Di zaman ini, strata sosial tertinggi dalam masyarakat kita diduduki oleh para artis. Maka, menu utama keseharian masyarakat modern adalah hiburan. Dalam bidang ilmu pengetahuan, posisi primadona dimiliki oleh para ahli Teknik dan ahli Kesehatan, bukan para pendidik. Maka, banyak orang-orang yang ketika ingin kuliah mayoritas memilih jurusan Teknik atau Kedokteran, sedangkan untuk jurusan pendidikan dimasuki oleh ‘sisa-sisa’ dari mayoritas pendaftar.

Ini menandakan kecenderungan materialis dan pragmatis dalam masyarakat. Sebab, sebagai seorang ahli Teknik dan ahli Kesehatan, akan memiliki tingkat kemapanan ekonomi yang lebih baik dari seorang guru (Wan Daud: 2007: 107). Hal ini juga berpengaruh kepada kelas sosial. Dikarenakan ukuran keberhasilan dan kesuksesan seseorang dilihat dari materi belaka, maka para ahli Teknik dan ahli Kesehatan ini akan menduduki strata sosial yang tinggi dalam lingkungannya. Bandingkan dengan penghargaan masyarakat terhadap guru.

Kebanyakan masyarakat tidak terlalu menghargai sosok guru, sebab secara materi, golongan ini memang termasuk golongan ekonomi bawah-menengah. Hal ini jelas menandakan bahwa masyarakat kita saat ini sangat tidak mencintai ilmu dan pemilik ilmu (para guru), namun lebih mencintai materi dan kepopuleran.

Maka jika hal ini terjadi, sangat sulit untuk membangun sebuah masyarkat yang berbudaya ilmu.  Langkah yang paling baik dalam merespon masalah ini adalah peran guru dan pendidik harus lebih dihargai, baik secara sosial maupun finansial. Kemapanan ekonomi para peneliti, penerjemah, dan pendidik harus diperbaiki, bahkan harus lebih mapan dari para ahli Teknik dan ahli Kesehatan. Sebab dari pundak mereka inilah, para ahli Teknik dan ahli Kesehatan dapat lahir.

Langkah selanjutnya adalah penghargaan terhadap karya-karya ilmuwan dan pendidik, yakni buku-buku yang ia tulis, atau mengimplementasikan penemuan yang dapatkan dari perjalanan panjang penelitiannya. Hanya dengan menghormati para pendidik dan ilmuwan, budaya ilmu dalam masyarakat akan tumbuh, dan dalam perjalanannya akan melahirkan sebuah peradaban yang kuat.

Kesimpulan

Sebagaimana peradaban Islam tumbuh dari budaya ilmu, yakni budaya ilmu yang dibangun oleh Rasulullah SAW dari keluarga hingga kegiatan belajar mengajar di Shāhib al-Shuffah (Soekarno dan Supardi, 1985: 29-46) dan mundur akibat lemahnya budaya ilmu, maka usaha menuju kebangkitan kembali peradaban Islam masa depan mesti bermula dari budaya ilmu.

Namun, semangat budaya ilmu ini harus terkerangka dalam satu cara pandang yang Islami. Suatu cara pandang khas berlandaskan pandangan alam (worldview) Islam yang bersumber dari al-Qur’an, al-Sunnah dan tradisi Intelektual para ulama yang telah membangun dasar-dasar epistemologi dan metodologi yang canggih.

Umat Muslim sebagaimana dikatakan Ziauddin Sardar, membutuhkan budaya ilmu yang Islami karena suatu peradaban tidak akan sempurna tanpa memiliki suatu sistem objektif untuk memecahkan masalah yang terangka sesuai dengan paradigmanya sendiri. Tanpa budaya ilmu yang Islami, masyaralat Muslim hanya akan menjadi bagian dari kebudayaan dan peradaban lain. Wallahu’alam Bissawab.

Penulis adalah Mentor Program Kaderisasi Ulama (PKU XIII) UNIDA Gontor

Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.