pku.unida.gontor.ac.id- Hadirnya buku ini dilatarbelakangi oleh keresahan Isma’il Raji Al-Faruqi terhadap karya-karya cendikiawan Barat dan Muslim yang memisahkan hubungan material perdaban berupa bahasa, sejarah, hukum, seni, sastra dan lembaga lainnya  dengan esensi nilai-nilai Islam.

Pengikut Islam kurang peka memperhatikan klaim kesempurnaan yang telah terkandung dalam Islam. Terseret begitu saja oleh arus pemikiran fenomenologi Barat yang memisahkan ilmu sejarah dengan nilai-nilai Islam. Selanjutnya, buku ini hadir sebagai wejangan kepada umat Islam akan pentingnya memahami Islam dari berbagai sisi.

Isma’il Raji Al-Faruqi adalah seorang tokoh cendikiawan muslim yang lahir  pada tahun 1921 dan besar di Palestina. Penggagas Islamisasi ilmu dari Palestina ini berhasil mendirikan lembaga Kajian Islam di Amerika Serikat bernama The International Institute of Islamic Thouht atau (IIIT).

Isma’il Raji Al-Faruqi adalah seorang cendikiawan muslim, beliau berhasil melahirkan beberapa karya berupa buku dan artikel dengan fokus penerapan Tauhid dalam pendidikan dan pengetahuan seperti On Arabism, Urabah and Religions, An Analysis of the Dominant Ideas of Arabism and of Islam as it’s Highest Moment of Conciousness, The Great Asian Religio, dan yang terakhir  The Culture Atlas of Islam.

BACA JUGA: Wacana Feminisme di Ruang Publik: Mewaspadai Modus Operandi

Dalam penulisan The Culture Atlas of Islam, Al-Faruqi tidak sendiri, beliau bersama istrinya Lamnya Al-Faruqi  berkolaborasi menyampaikan gagasan-gagasan dalam goresan. Nama lengkapnya Lois Lamnya Al-Faruqi, putri dari seorang dramawan terkenal di Amerika Serikat bernama Henrik Ibsen. Gadis Montana kelahiran 1926, seorang akademisi yang memiliki fokus di bidang musik seni dan agama. Perempuan yang biasa dipanggil dengan sebutan “mama” oleh mahasiswi Philadelphia ini, berusaha tampil sebagai sosok muslimah terpuji dengan mewujudkan keislaman di tanah Amerika.

The Culture Atlas of Islam karya monumental suami istri Al-Faruqi ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Ilyas Hasan dengan judul “Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang” buku ini tidak lama diterbitkan setelah beliau berdua wafat. Bentuk buku ini hampir menyerupai ensiklopedia yang dibagi menjadi 4 bagian besar.

Bagian pertama membahas konteks budaya Islam, letak geografis, bahasa dan sejarah yang mempengaruhi budaya yang diproduksi. Bagian kedua berupa esensi Tauhid sebagai kacamata dalam memandang dunia Islam. Bagian ketiga berupa analisis tentang perpaduan total antara Islam dan Budaya. Dengan artian memahami Islam berarti memahami budayanya, dan begitu sebaliknya, karena keduanya merupakan kesepadanan yang serasi tak terpisahkan. Seperti contoh, kepaduan yang ada antara bahasa Arab dan  Al-Qur’an, tak berubah walaupun melampaui sejarah,  keduanya tetap hidup, selalu hadir bersama dan saling memperkuat. Dan bagian yang terakhir penjelasan mengenai budaya Islam yang termanifestasi dalam tindakan, pemikiran, dan  perbuatan. Bahwa segala sesuatu relavan dengan agama, bukan sekedar ibadah ritual. Islam adalah agama yang hadir dengan konsep kebenaran dan dapat diaplikasikan di dunia, di dapur, di pasar, di kelas, di kantor, begitu juga di masjid.

Melalui buku ini juga, kita bisa lebih menyadari bahsa Islam itu tidak hanya terbatas pada ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, haji. Islam adalah agama peradaban yang universal. Karena unsur universalitasnya, peradaban Islam tidak kering dari nuansa metafisik.

Al-Faruqi mengawali pembahasan peradaban Islam dengan tauhid. Tauhid adalah pandangan umum tentang realitas, kebenaran, dunia, ruang dan waktu, serta sejarah manusia. Sebagai intisari peradaban Islam, tauhid mempunya dua dimensi; segi metodologis dan konseptual. Yang pertama menentukan bentuk penerapan dan implementasi prinsip pertama peradaban; yang kedua menentukan prinsip pertama itu sendiri.

Sebagai penjabaran dari unsur tauhidi, Al-Faruqi memperinci pembahasannya dalam buku bagian ketiga, yang menjelaskan dari bentuk dari unsur ketauhidan Islam yakni; al-Qur’an, Sunnah, dan lembaga-lembaga turunannya seperti keluarga, madrasah, khilafah, dan seni.

Dalam rangka memahami peradaban islam, diperlukan perangkat ilmu-ilmu yang dibutuhkan oleh setiap umat Islam. Ilmu-ilmu seperti dakwah islam, sejarah futuhat, ilmu metodologi; alqur’an; hadist; hukum; kalam; tasawuf; filsafat hellenistik; tatanan alam; dan berbagai macam seni dalam Islam, adalah sebagai wujud manifestasi atau bukti bahwa islam telah menyiapkan perangkat yang comprehensive untuk dijadikan acuan bagi seluruh umat manusia.

BACA JUGA: Perlukah feminisme dalam Islam ?

Dalam buku ini, al-Faruqi juga menjelaskan beberapa kesalahan persepsi yang ada dalam internal umat Islam. Seperti contoh dalam bab tasawuf, al-Faruqi beranggapan bahwa tasawuf merupakan gerakna yang walaupun besar kebaikannya juga besar keburukannya dalam sejarah peradaban Islam. Kesalahan persepsi dalam kasy,  karamah, ta’abbud, tawakal, qismat, fana dan ‘adam, taat dan lainnya menyebabkan umat islam tidak lagi produktif.

Ada hikmah tersirat yang terkadung dalam buku ini yang berbeda dengan konsep Islamisasi yang diatawarkan oleh al-Attas, yaitu harapan mulia dan motivasi kuat kepada  seluruh umat Islam untuk menjadi  couple goals selanjutnya Pasangan akademis yang saling melengkapi hingga  mampu menginspirasi akan lahirnya warisan-warisan abadi sarat akan  nilai-nilai Islam. Harapan besar akan lahirnya generasi-generasi yang mampu membina umat dan  mempertahankan peradaban Islam. Waallahu’alam.[]

Nama Buku     : Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang
Penulis             : Isma’il Raji Al-Faruqi dan Lois Lamnya Al-Faruqi
Penerjemah      : Ilyas Hasan
Penerbit           : Mizan
Tahun Terbit    : 1998
Jumlah Halaman : 554 halaman
Peresensi         : Syekha Anintya Inayatusufi & Muhammad Kholid
Edited by: Admin PKU

2 Thoughts on “Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.