Oleh: Agung Fahmi Ulum

Khazanah keilmuan Islam telah mengalami puncak perkembangannya beberapa abad yang lalu yang telah merlahirkan berbagai disiplin ilmu yang satu dengan lainnya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Hal ini tidak mengherankan karena ilmu-ilmu tersebut memiliki landasan utama yang sama, yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Contohnya seperti ilmu fiqh yang sangat bergantung pada ilmu tafsir. Dan begitu juga sebaliknya, salah satu produk yang dihasilkan ilmu tafsir adalah munculnya berbagai madzhab fiqh.

Di masa puncak perkembangan khazanah keilmuan Islam tersebut, tidak jarang seorang ‘alim menguasai berbagai macam disiplin ilmu karena dalamnya pemahaman terhadap sumber ilmu. Dengan pemahaman yang dalam tersebut, bisa diartikan satu orang cukup mewakili lima orang. Karena ketika sumber ilmu telah dikuasai, maka aliran-aliran yang dipancarkan dari sumber ilmu tersebut akan dikuasai juga. Adapun lima orang tersebut, jika tidak mampu menangani suatu sumber, maka aliran yang dihasilkan tentunya akan memancar tidak terkendali ke segala arah. Atau bahkan akan mengalami kebuntuan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap sumber tersebut. Sumber ilmu tersebut adalah al-Quran dan as-Sunnah, dan aliran yang memancar tersebut adalah disiplin-disiplin ilmu yang ada dalam Islam.

Dewasa ini, khazanah keilmuan Islam mengalami stagnanisasi karena kurangnya intregitas para pemikir untuk berijtihad menghasilkan hal-hal baru yang bermanfaat bagi umat. Adapun kalau terdapat beberapa ilmu baru, terjadi pertentangan antara satu dengan yang lainnya karena para pemikir yang menghasilkan ilmu tersebut tidak bersama-sama berlandaskan kepada al-Quran dan as-Sunnah. Maka terjadi kontradiksi antara ilmu-ilmu yang baru dilahirkan dengan khazanah keilmuan Islam yang telah lama menjadi pegangan umat. Sehingga yang ditimbulkan adalah kebingunan terhadap ilmu-ilmu pengetahuan Islam yang ada.

Analogi yang disebutkan pertama tadi kembali bisa digunakan di sini. Para pemikir di era modern ini tidak berangkat dari landasan atau sumber yang sama. Sumber yang digunakan oleh salafu sholih adalah sumber yang jernih yaitu al-Quran. Sedangkan yang digunakan oleh pemikir-pemikir baru ini adalah sumber yang keruh, yang berasal dari  hasil suatu malapetaka bencana kemanusiaan yang berada tempat yang jauh dari Islam. Maka ketika mereka mencoba mengaduk dan mencampurkan kedua sumber ini, satu hal yang tidak mungkin dihasilkan adalah aliran yang jernih yang akan menyegarkan. Yang mereka hasilkan adalah ilmu yang kotor yang bisa-bisa orang yang mengambilnya terkena penyakit.

Maka dapat disimpulkan, kembali menyelami kejernihan al-Quran dan as-Sunnah akan mengantarkan para penyelamnya mencapai titik di mana ia mengerti arti Islam. Islam sebagai agama yang akan menyelamatkan umat. Maka dengan begitu ia akan membuat merumuskan apa yang umat butuhkan sebagai arahan dan petunjuk.. Ia akan mengalirkan rumusan tersebut dalam bentuk ilmu-ilmu yang bermanfaat, yang akan menyelamatkan umat, baik di dunia maupun di akhirat.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU X) Unida Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.