Oleh: Muhammad Kholid

pku.unida.gontor.ac.id- Sudah memasuki bulan Muharram, yang bertepatan pada tanggal 1 September 2019. Bulan di mana haram selain bulan Rajab, Dzulqaidah, dan Zulhijah. Seperti yang tertera dalam QS al-Taubah/9: 36, yang artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.”

Selian itu, dari Hadits Bukhori juga menerangkan:
“Waktu berputar sebagaimana keadaannya semula ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Tahun terdiri dari 12 bulan, empat di antaranya adalah bulan suci, tiga berurutan yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, dan yang keempat adalah Rajab,” Hadis Riwayat Bukhari: 4054.

Bulan ini merupakan bulan suci yang secara bahasa bahwa nama Muharram ini diartikan sebagai bulan yang diharamkan. Diharamkan apa?
Yaitu diharamkan melakukan peperangan, orang Arab zaman dulu meyakini bahwa bulan Muharram adalah bulan yang suci sehingga tidak layak untuk dinodai dengan peperangan dan kerusakan. Lalu bagaimana dengan keadaan sekarang ini, sekarang ini kan tidak ada peperangan seperti zaman dulu?

Maka, peperangan itu bisa kita artikan sebagai hawa nafsu, artinya di bulan Muharram ini jangan sampai membebaskan hawa nafsu kita untuk berbuat kejahatan, kerusakaan, kemaksiatan, dan lain sebagainya. Harusnya, di bulan yang diharamkan peperangan ini, kita mampu membangkitkan semangat dan memperbarui niat kita dengan melaksanakan perintah-perintah yang sudah diajarkan oleh Nabi dulu. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy ketika pembukaan Muharram Cup di Unida Gontor, bahwa bulan Muharram itu identik dengan tahun baru hijriyah, yang diartikan sebagai kebangkitan. Kebangkitan di sini beliau artikan sebagai kebangkitan semangat baru.

Lalu, amalan-amalan apa saja yang seharusnya kita kerjakan di bulan Muharram ini? Penulis hanya menuliskan dua amalan sunnah di bulan Muharram.

BACA JUGA: Pengajian Mingguan; Kekuatan Shalat

Pertama, Puasa Tasu’a dan Asyura
Salahsatu amalan utama di bulan Muharram adalah memperbanyak puasa. Terdapat Hadits Muslim menerangkan tentang puasa di bulan Muharram: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim).

Dari ayat dan hadits di atas menerangkan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang mulia setelah bulan Ramadhan. Salah satu puasa sunah yang dapat dilakukan adalah Tasu’a pada 9 Muharam dan Asyura pada 10 Muharam yang bertepatan pada hari Senin dan Selasa.

Hari Asyura’ adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Oleh karena itu disebut dengan Asyura’ (sepuluh). Sebagaimana hari kesembilan dari bulan Muharram yang disebut Tasu’a (sembilan). Sebagian ulama berpendapat bahwa Asyura’ adalah hari kesembilan dari Muharram, meskipun pendapat yang rajih dan yang diambil oleh jumhur ulama bahwa Asyura adalah hari kesepuluh dari Muharram.

Imam Nawawi RA. Berkata : “Asyura dan Tasyu’a adalah isim mamdud, ini yang masyhur dalam kitab-kitab bahasa. Berkata yang lainnya : Asyura adalah hari kesepuluh dari Muharram, Tasyu’a adalah hari kesembilannya. Inilah madzhab kita yang diamini oleh Jumhur Ulama. Diambil dari dzahir hadist dan keumuman lafadz. Ini yang terkenal dikalangan pakar bahasa”.

Adapun sebab Nabi Muhammad SAW. berpuasa di hari Asyura’ dan menganjurkan umatnya berpuasa adalah seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas RA berkata :

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا ؟ قَالُوا : هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Ketika Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam datang di Madinah, beliau melihat orang Yahudi berpuasa hari Asyura, maka beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari baik, hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka sehingga Musa berpuasa.” Maka beliau bersabda, “Saya lebih berhak dibandingkan anda dari Musa,” maka beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.”

Pada hari Asyura nabi Musa berpuasa sebagaimana ahlul kitab juga berpuasa serta kalangan Quraisy berpuasa di masa-masa jahiliah. Hal itu dikarenakan keutamaan yang terkandung didalamnya. Hadist yang menunjukkan keutamaan berpuasa di hari Asyura adalah seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di shahih nya, dari sahabat Abdullah bin Abbas ra, berkata :


مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah melihat Nabi SAW bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas selainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan pada satu bulan ini, yakni bulan Ramadhan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Lantas bagaimana cara mengerjakan puasa tersebut?

BACA JUGA: Pengajian Rutin; “Khusyu’ dalam Shalat”

Para ulama berpeda pendapat mengenai tingkatan puasa Asyura’. Salah satu yang menjelaskan adalah Ibn Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad. Disebutkan bahwa tingkatan pertama adalah berpuasa pada hari kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas dari bulan Muharram. Ini adalah tingkatan puasa paling sempurna. Tingkatan kedua adalah berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh saja. Inilah yang banyak disebutkan dalam hadist-hadist Nabi. Tingkatan ketiga, berpuasa pada hari kesepuluh saja. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiah ra. dari Imam Ahmad ibn Hambal dalam kitabnya Iqtidha as-Shirath al-Mustaqim. “Barang siapa yang ingin berpuasa Asyura’ berpuasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh, kecuali jika telah dipastikan bulannya, maka berpuasalah tiga hari”.

Para ulama menjelaskan hukum-hukum dan permasalahan yang berkaitan dengan hari Asyura beserta puasanya, berikut beberapa penjelasan ulama secara terperinci

– Ulama menjelaskan mana yang lebih mulai antara puasa Asyura dan Arafah. Ibnu Hajar menjelaskan dalam kitabnya Fathul Bari bahwa yang dimaksud Rasulullah “ Puasa pada haru Arafah sungguh aku berharap kepada Allah agar mengahapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Dan Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu” Ibnu Hajar berkata bawah hadist ini menunjukkan bahwa puasa Arafah lebih utama daripada puasa Asyura, illah nya adalah hari Asyura berkaitan dengan Nabi Musa as, sedangkan puasa Asyura berkaitan dengan Nab Muhammad saw.

– Dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram sebagai pembeda dengan puasanya orang Yahudi dan Nasrani. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata, “Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada hari itu, mereka berkomentar, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah SAW pun menjawab, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi SAW sudah wafat” (HR. Muslim no. 1916).

– Tidak dibolehkan berpuasa Tasyu’a dan Ayura dengan niat qadha puasa Ramadhan. Berpuasa Ramadhan adalah wajib, sedangkan puasa Tasyu’a dan Asyura adalah sunna. Tidak boleh mendahulukan sunnah atas yang wajib. Maka wajib bagi muslim untuk menqadha puasanya terlebih dahulu, baru kemudian dianjurkan berpuasa sunnah.

Memperbanyak Sedekah
Selain daripada puasa, amalan sunnah lainnya adalah sedekah. Memperbanyak sedekah ini yang juga dianjurkan oleh Islam di bulan Muharram. Terutama menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram. Seperti yang terdapat sebuah Hadits dalam Kitab Tanbih al-Ghafilin:
“Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.”

Nabi SAW menjanjikan keutamaan sebuah hadits tersebut: “Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua jari ini ketika di surga.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5304).

Amalan lainnya yang terdapat di bulan Muharram adalah selalu bersyukur. Bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan kepada kita semua, muhasabah, introspeksi diri, dan selalu mengenang perjalanan hijrah Nabi SAW.

Dalam QS. Ibrahim ayat 7 Allah selalu mengingatkan kita untuk selalu bersyukur: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.[]

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU XIII) Unida Gontor
Ed. Admin pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.