Oleh: Aldy Pradhana

Abad pertengahan adalah masa yang seharusnya tidak boleh dilupakan oleh manusia di Barat. Pada masa tersebut rasa spiritual masih melingkupi kehidupan manusia-manusia di Barat. Selain itu, pandangan hidup (worldview) yang masih bersifat organik pun memberi suatu citra bahwa manusia di Barat saat itu hidup dalam komunitas-komunitas kecil dan erat, serta mampu menjalani kehidupan di alam raya dalam pengertian organik, ditandai dengan prinsip manusia di Barat yang mengafirmasi bahwa kebutuhan masyarakat secara luas lebih utama dibandingkan dengan kepentingan dan kebutuhan pribadi  serta relasi ketergantungan antara fenomena spiritual dengan fenomena material (wujud).

Bahkan para Ilmuwan di zaman itu, seperti Thomas Aquinas memiliki anggapan bahwa pertanyaan, pernyataan dan diskusi tentang Tuhan, roh, manusia serta etika memiliki nilai yang tinggi. Maka, karakter keilmuan pada zaman itu dilandaskan atas nalar yang dipandu dengan keimanan sehingga diharapkan mampu memahami makna dari segala sesuatu tanpa disertai unsur-unsur negatif, seperti penyelewengan dari aspek teologi maupun aktivitas eksploitasi yang merusak alam.

Karakter ilmu pada Abad pertengahan seketika berubah secara radikal disebabkan atas kerja keilmuan yang dinamakan Revolusi Ilmiah. Pengertian alam sebagai sesuatu yang organik, hidup dan spiritual mengalami shift of meaning yang memberi arti bagai sebuah mesin dan minim spiritualitas di dalamnya. Bahkan atas kontribusi Copernicus, manusia di depak dari kedudukannya sebagai gambaran sentral dari ciptaan Tuhan. Kemudian, Galileo Galilei menghadirkan pendekatan empirik dan penggunaan matematika sebagai bahasa dan model untuk menggambarkan alam yang menjadi sifat dominan pada perkembangan Ilmu di abad ke-17. Bahkan, Galileo Galilei memberikan postulat bahwa para Ilmuwan harus membatasi diri untuk mempelajari sifat-sifat esensial dari benda material, berupa bentuk, bilangan dan gerakan yang memungkinkan untuk diukur dan dikuantifikasikan.

Bahkan, saking oportunisnya model matematis yang dikembangkan oleh Galileo Galilei, seperti warna, suara, rasa bahkan bau tidak boleh dimasukan ke dalam ranah Ilmu. Maka, kata seorang psikiater, yaitu R.D Liang “Pemandangan, suara, rasa, sentuhan, bau, perasaan, motif, kehendak, jiwa, kesadaran serta roh dikesampingkan dan mati dalam pembicaraan ilmiah”. Keadaan tersebut diperparah oleh seorang Ilmuwan yang dianggap menjadi bapak Filsafat Modern, yaitu Rene Descartes. Descartes memberikan pernyataan bahwa kunci alam semesta adalah struktur matematis. Bahkan Descartes menambahkan bahwa, menurutnya yang disebut sebagai sesuatu yang benar adalah ketika mampu direduksi dan dijelaskan oleh gambaran matematis (geometri). Maka, konsekuensinya Descartes menolak prinsip-prinsip lain, termasuk prinsip-prinsip di dalam fisika karena baginya geometri telah mapan untuk menjelaskan alam semesta. Inti dari metode Descartes adalah meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan, seperti pengetahuan tradisional, kesan indrawi, bahkan kenyataan bahwa Descartes memiliki tubuh sekalipun, hingga dia mencapai suatu hal yang tidak dapat diragukan lagi yaitu menyadari bahwa dirinya adalah pemikir. Sehingga, akal dan proses berpikirnya adalah identitas yang eksis yang tidak bisa diragukan. Dengan demikian, pemisahan antara akal dan materi tidak mampu dihindarkan. Karena bagi Descartes alam semesta pun tidak lebih sekedar dari mesin yang tunduk pada hukum-hukum matematis. Tidak ada tujuan, kehidupan atau spiritualitas di dalam materi. Bahkan, seorang fisikawan yang bergelut dengan teori kuantum, yaitu Heisenberg menyebutkan bahwa pemisahan yang dilakukan Descartes telah menembus pikiran manusia selama tiga abad dan dibutuhkan upaya yang cukup lama untuk menggantikan sikap tersebut dengan sikap yang lebih benar dalam memahami realitas.

Pemikiran Descartes yang demikian tentunya tidak dapat dipisahkan dari Isaac Newton. Newton memberikan pandangan bahwa semua fenomena fisik dapat direduksi menjadi gerak partikel benda yang disebabkan oleh kekuatan yang tarik-menarik berupa kekuatan gravitasi. Dan persamaan gerak Newton adalah tools untuk menggambarkan kekuatan partikel atau objek tertentu secara matematis. Maka, dalam pandangan Newton, Tuhan mula-mula menciptakan partikel-partikel benda, kemudian kekuatan antar partikel-partikel itu dan hukum-hukum gerak dasar. Dengan metode demikian bahwa seluruh alam semesta menjadi bergerak dan terus bergerak ibarat sebuah mesin yang diatur oleh hukum-hukum yang kekal. Pandangan demikian membenarkan pula penggambaran ruang absolut oleh Geometri Euclid klasik yang bersifat kausal dan tetap. Sehingga, Tuhan dalam pandangan mekanistik Newton adalah Tuhan monarki yang memerintah dunia dari atas dengan mendiktekan hukum-hukumnya kepada dunia.

Sehingga, fenomena-fenomena fisik yang terjadi dianggap mandiri. Karena Tuhan bebas dari urusan alam dan kemudian menyerahkannya kepada hukum-hukum yang telah ada tersebut. Sekuler adalah salah satu akibat yang timbul dari pandangan mekanistik tersebut. Satu tokoh lagi, yang sebetulnya memberi pengaruh besar terhadap mekanisasi Ilmu pengetahuan dalam dunia Barat adalah Francis Bacon. Dengan merumuskan metode empirisnya dengan begitu kompleks. Sehingga, ukuran suatu kesimpulan bagi Bacon adalah mutlak atas pengamatan indrawi yang kemudian dipersepsi oleh akal. Karena bagi Bacon alam harus diburu dalam pengembaraannya, diikat dalam pelayanan, dijadikan budak, dimasukkan ke dalam kerangkeng dan kemudian mengambil rahasia alam tersebut secara paksa. Maka, konsekuensinya pandangan dan metode Bacon tersebut mengubah tujuan ilmu pengetahuan menjadi sarana untuk menguasai dan mengendalikan alam serta menimbulkan teknologi yang anti-ekologis. Dan metode Bacon tersebut sekaligus menegaskan bahwa Ilmuwan dapat menjadi raja maupun tuan yang memiliki alam tersebut.

Pandangan mekanistik yang diprakarasi oleh Newton dan para ilmuwan lainnya adalah bentuk dari sekularisasi yang nyata. Mengutip, Prof. Syeid  Muhammad Naquib Al-Attas hal tersebut merupakan bentuk dari desakralisasi alam. Bahkan, Ziauddin Sardar, Mehdi Golshani, Fritjop Capra, Seyyed Hossein Nashr sampai Armahedi Mahzar bahkan Haidar Baghir dan Zainal Abidin menyatakan bahwa Sains Modern yang membawa pandangan-pandangan mekanistik tersebut memiliki dampak negatif terhadap relasi manusia dengan tuhan, relasi tuhan dengan alam, relasi manusia dengan alam yang tujuannya tidak untuk menjaga kelestarian dan keharmonisan atas alam tersebut. Sehingga kata Capra, tidak salah ketika alam dieksploitasi habis-habisan untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Bahkan kelangsungan ekosistem di alam terancam dengan kehadiran teknologi-teknologi tertentu. Pandangan maupun pikiran mekanistik ini, kata Capra cenderung mengembangbiakkan sikap yang anti-ekologis. Sehingga, keseimbangan dan keharmonisan yang dinamis pada alam sulit dicapai ketika pandangan mekanistik ini terus diproteksi dan digunakan.[]

Penulis adalah Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) XII UNIDA Gontor, Ponorogo

2 Thoughts on “Alam Semesta yang Mekanistik”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.