Oleh: Agung Fahmi Ulum (PKU X)

Kurang lebih dalam kurun waktu empat belas Al Quran telah menjadi pedoman umat Islam di seluruh dunia. Dan ajaibnya, selama itu pula Al Quran tidak mengalami perubahan dalam bentuk, susunan, dan isinya. Oleh karena itu, berbagai kritik dan tuduhan dilancarkan kepada Al Quran oleh pihak-pihak yang tidak ridho dengan agama Islam. Salah satu yang dicoba untuk diungkap masalah keotentikan Al Quran yang berada di tangan umat Islam saat ini. Bahkan hal ini sampai pada titik pembuatan Al Quran edisi kritis dengan merevisi muatan dan kandungannya.

Aktor terpenting dalam pengkajian otentisitas Al Quran adalah para orientalis barat. Meteka mengkaji Al Quran secara mendalam melalui manuskript-manuskript yang ada, dan karya-karya ulumul quran dari sarjana muslim sendiri, ditambah dengan catatan sejarah umat Islam dengan kacamata filsafat sejarah, sehingga memberi kesan suatu keilmiahan hasil dari penelitian-penelitian tersebut. Metode dan hasil penelitian ini kemudian diajarkan kepada para sarjana muslim dari berbagai belahan dunia yang melakukan studi di barat. Yang selanjutnya ide dan gagasan yang “ilmiah” tersebut dibawa pulang ke negara masing-masing dan disebarkan di instusi-instusi pendidikan yang ada. Maka tidak heran jika kajian dan penelitian semacam ini berkembang dengan pesat di Perguruan Tinggi Islam dengan kedok pencarian tradisi kritis dan ilmiah.

Penelitian-peneltian tentang masalah ini telah membuah hasil dalam berbagai bentuk, baik sebagai pemenuhan tuntutan akademik yang berbentuk sekripsi, tesis, dan desertasi dan dalam bentuk karya tulis lain seperti jurnal dan buku. Di antara contoh dari karya-karya tersebut adalah Kesucian Palsu Sebuah Kitab tulisan Sumanto Al-Qurthoby, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan karya Aksin Wijara, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran karya Taufik Adnan Amal, dll. Dalam penelitian-penelitian ini tatanan Ulumul Quran yang sudah baku dirombak dan diganti dengan teori-teori baru yang muncul dari barat. Sehingga kesimpulan yang didapatkan tidak hanya menyanggah Al Quran sebagai kitab suci, tapi pada ujungnya dapat menimbulkan keraguan pada benak umat Islam.

Salah satu aspek kritik Al Quran yang gencar dituduhkan adalah permasalahan mushaf utsmani. Penyusunan mushaf utsmani dianggap sarat kepentingan politik oleh penguasa (Utsman bin Affan). Disebutkan bahwa dalam mushaf utsmani telah menghapus beberapa ayat dan menambahkan beberapa ayat. Seperti penghapusan ayat yang sabun nuzulnya bani umayyah (karena Usman dari Bani Umayyah). Juga dengan ditunjukkannya perbedaan antara mushaf utsmani dengan beberapa mushaf shohabah, seperti mushaf Ubay bin Ka’ab, mushaf Ibnu Mas’ud, mushaf Ali bin Abi Tholib dan lain sebagainya. Seperti diisebutkan bahwa dalam mushaf Ibnu Mas’ud tidak terdapat surat Al Fatihah, Al Falaq, dan surat An Nass. Juga di sana terdapat beberapa bacaan yang berbeda. Dikatakan bahwa Usman dengan semena-mena membakar semua mushaf yang tidak sesuai dengan apa yang telah dia susun. Dari berbagai data ini disimpulkan mushaf utsmani tidak otentik dengan apa yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Tuduhan-tuduhan tersebut sebenarnya pengulangan beberapa shubuhat seputar pengumpulan Al Quran, dan itu semua telah dijawab oleh ulama-ulama terdahulu dengan argumen yang jelas dan meyakinkan. Para pengusung kritik sejarah pengumpulan Al Quran tampaknya lupa terhadap satu hal. Yaitu pengumpulan Al Quran dalam pengertiannya yang utama adalah pengumpulannya di dalam hati setiap muslim, atau bisa disebut dengan menghafalkan Al Quran secara utuh, baru kemudian pengumpulannya dalam bentuk buku atau mushaf.

Alat yang paling mudah untuk menjelasakan masalah pengumpulan Al Quran adalah kekayaan bahasa Arab dengan adanya satu kata yang dikhususkan penggunakan untuk pembacaan Al Quran. Yaitu kata tala –  yatlu – tilawatan yang artinya membaca/membacakan. Maksdunya adalah membaca di sini bukan membaca dari tulisan atau buku, tapi membaca dari apa yang dibacakan kepadanya. Seperti Rasulullah SAW membacakan (tala) ayat-ayat Al Quran kepada para sahabat dari apa yang Ia dengar dari Allah SWT melalui Jibril AS. Begitu pula para sahabat membacakan (tala) Al Quran kepada para tabi’in dari apa yang mereka dengarkan dari rasul, bukan dari mushaf atau tulisan. Tradisi seperti ini berjalan sedemikian rupa sehingga membentuk tradisi periwayatan yang mutawatir, yang artinya tidak perlu dipertanyakan keotentikannya. Karena yang melakukan tradisi seperti ini adalah ribuan orang bahkan bisa dikatakan sampai jutaan orang membacakan hal yang sama.

Maka masalah penambahan dan pengurangan ayat-ayat Al Quran yang dilakukan oleh Usman bin Affan tidak mungkin terjadi. Karena para sahabat sudah tentu menjaganya dengan hafalan yang kuat.  Adapun untuk masalah pembakaran mushaf-mushaf lain yang berbeda dengan mushaf utsmani adalah ijma’ sahabat dengan melihat maslahah yang dibutuhkan umat saat itu. Itupun para pemilik mushaf merelakannya. Jikalaupun apa yang mereka (para pemilik mushaf lain) pegang dari rasul dengan segala kebenarannya dibandingkan dengan perbedaan yang ada, pastinya mereka tidak akan rela begitu saja apa yang diajarkan oleh Rasul dihapus begitu saja. Maka di sini menunjukkan permasalahan mushaf bukan menjadi masalah keotentikan Al Quran.

Dan sebagaimana diketahui, zaman para sahabat adalah sebaik-baiknya zaman setelah zaman Nabi Muhammad sendiri. Para sahabat pastinya tahu betapa besar tanggung jawab yang dipikulkan kepada mereka setelah kematian Nabi. Dan pastinya mereka tahu juga cara menjaga tanggung jawab tersebut, tentunya dengan bantuan Allah SWT. Sehingga ijtihad-ijtihad yang diputuskan adalah sebaik-baiknya ijtihad yang dengan hasilnya terbentuklah ajaran Islam yang sedemikian rupa seperti saat ini, termasuk adanya Al Quran dalam bentuk mushaf yang berada di tangan-tangan setiap muslim saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.