700 perserta hadiri webinar pemikiran dan peradaban Islam yang digelar pada Jumat (20/11/2020) atas kerjasama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Program Kaderisasi Ulama (PKU) UNIDA Gontor. Para perserta antusias bertanya dan menanggapi paparan dari tiga presenter yang terdiri dari dua perserta program PKU Gontor dan satu perwakilan UAD.

Sebelum memasuki paparan, webinar dibuka dengan sambutan dari Dr. Nur Kholis, S.Ag., M.Ag. selaku Dekan Fakultas Agama Islam UAD. Lalu dilanjutkan dengan penyampaian keynote speech oleh Pemimbing PKU sekaligus Dekan Fakultas Syariah UNIDA Gontor Dr. Imam Kamaluddin, Lc., M.Hum.

“Kajian Pemikiran dan peradaban islam harus terus kita gaungkan lebih subur lagi” ujar Dr. Nur Kholis dalam sambutannya sekaligus menyemangati para peserta.

Tampak atusiasme perserta tinggi dalam menanggapi presentasi dari Audria Fauzi yang menyampaikan makalah berjudul Kritik Metodologi Ijtihad Kaum Liberal. Lalu disambut oleh presentasi kedua oleh Royyan Bachtiar dengan makalah berjudul Pembebasan Perempuan Qosim Amin dan presetasi ketiga perwakilah UAD oleh Fadhil Iqbal berjudul Hadits dalam Fatwa Al-Jam’iyat Al-Washliyah.

“kaidah al-ibrah bi umum al-lafdzi la bi khusus as-sabab yang seharusnya dipakai dalam menafsirkan ayat-ayat dengan sabab nuzul, bukan al-ibrah bi al-maqashid la bi al-alfadz sebagaimana yang kaum liberal tawarkan” kata Audria Fauzi dalam presentasinya.

Hasil penelitian tersebut ditanggapi dengan kritis oleh para perserta. Diantaranya ada yang menanyakan apakah kaidah tersebut berlaku juga pada ayat-ayat tanpa sabab nuzul. Secara jelas dijawab bahwa itu tidak berkalu untuk ayat ibtida`iyah atau ayat tanpa sebab nuzul. Ayat ibtida`iyah, surat Al-Ikhlas (qul huwaallahu ahad) misalnya, hendaknya langsung diyakini dan dikerjakan.

Acara diakhiri dengan prolog yang disampaikan oleh Dr. Imam Kamaluddin. Dalam kata penutupnya beliau menyampailkan agar teguh memegang nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan jangan menggantinya dengan Barat, karena nilai-nilai barat terbentuk dari latar belakang yang jauh berbeda dari Islam, sehingga tidak akan memperbaiki malah akan merusak.

Reporter: Nur Fauzi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.