pku.unida.gontor.ac.id Pada hari Sabtu 21 November 2020 Program Kaderisasi Ulama (PKU) UNIDA Gontor angkatan ke-14 mengadakan seminar pemikiran dan peradaban Islam bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Acara ini dimulai pada pukul 08.09 dan berakhir pada. 22.15 WIB. Adapun peserta yang mengikuti acara ini terus bertambah seiring berjalannya acara. Dimulai dari 360 orang, meingkat jumlahnya menjadi 390 dan sampai acara berakhir peserta yang bergabung dalam webinar mencapai angka 409 orang.

Sebelum masuk kedalam inti acara, Dr. Istiqomah, S. Ag. menyampaikan kata sambutan sebagai dekan fakultas agama Islam. Dalam sambutannya ia mengutarakan rasa terimakasinya kepada UNIDA Gontor karna telah dipercaya untuk bekerjasama dalam mengadakan acara Webinar. Semoga seluruh ikhtiar yang diusahakan dalam penyelenggaraan acara ini mampu menghadirkan pencerahan bagi umat dan diridhai Allah SWT. Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan ilmiyah seperti ini sangat berfaidah karena dapat memperkaya khazanah intelektual. Harapannya generasi muda mempunyai kompetensi yang mumpuni sehingga bisa berperan aktif dalam wacana-wacana di praktis yang ada di masyarakat. Dari pihak UNIDA Gontor, Ustadz Agus Budiman, M. Pd memberikan Epilog. Sama halnya dengan Dr. Istiqomah, beliau berharap agar acara ini memberi manfaat kepada umat dan berterima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah bekerja sama dalam agenda ini.

Selanjutnya mulai masuk pada inti seminar yakni penyampaian ide-ide. Pertama, disampaikan oleh Novita Kusumadewi, dengan judul Problematika Schooling Society dalam Wacana Pendidikan Kontemporer. Ia menyampaikan bahwa hari ini, sekolah menjadi hegemoni baru dalam dunia pendidikan. Adapun schooling society yang dimaksud di sini adalah sebuah tatanan sosial yang menganggap bahwa sekolah merupakan satu-satunya sentral dalam menuntut ilmu. Dengan kata lain, orang yang tidak sekolah, berarti tidak menuntut ilmu. Novita kemudian menjelaskan beberapa dampak negatif dari hal ini: industrialisasi dunai pendidikan dan makna dari pendidikan itu sendiri akhirnya terreduksi.

Kedua, Dwi Setyo Pambudi, dengan judul Problema Manajemen Mutu Pendidikan (Kritik Pelaksanaan dalam TQM dalam Pendidikan). Di sini ia memulai penyampaian makalahnya dengan menunjukkan fakta-fakta di lapangan yang sangat miris; ketika murid sudah tidak menghormati gurunya, bahkan ada sebuah kasus seorang guru dibunuh oleh muridnya sendiri. Dwi menganalisa bahwa ini terjadi akibat adanya ketidakpuasan pada diri murid sehingga melakukan hal keji tersebut. Kemudian, lanjutnya, relasi guru dan murid yang menitik beratkan aspek kepuasan itu, adalah konsekuensi dari tolok ukur standar mutu pendidikan yang sangat materil. Maka dari itu, diperlukan sudut pandang Islam terkait hubungan antara pendidik dan peserta didik.

Ketiga, Yazid Mubarok mengenai Kritik Pendidikan Humanisme Freire. Ia menjelaskan mengenai pemahaman Paulo Freire yang mengkritik sistem pendidikan kapitalis. Dalam presentasinya, Yazid menyampaikan ada beberapa kajian yang menyamakan antara konsep pendidikan Paulo Freire dan pendidikan Islam. Di titik inilah menyampaikan kritiknya, bahwa Islam mempunyai sistem dan konsep yang jauh lebih unggul, lebih kompherensif dan lebih humanis.

Keempat, Nur Fajriati Nadhifatil mempresentasikan makalah Problem Konsep Remaja: Studi dari Perspektif Islam. Masih berkaitan dengan tema pendidikan, salah satu masalah yang diangkat oleh Nur Fajriati adalah istilah remaja yang menunda kedewasaan seorang manusia dan memperpanjang masa kanak-kanak. Hal ini dikritisi olehnya karena mengakibatkan persepsi buruk bahwa remaja adalah fase untuk berhura-hura dan berbuat kenakalan. Padahal, masa itu bisa dimaksimalkan untuk hal-hal yang produktif.

Acara seminar pada pagi ini berjalan dengan lancar. Para peserta online sangat atusias dalam mengikuti acara. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan yang hadir ketika sesi tanya jawab dibuka. Namun karna keterbatasan waktu yang ada, panitia hanya memilih beberapa pertanyaan saja yang dijawab oleh pemateri. Di antaranya adalah pertanyaan yang disampaikan oleh Ziro’atus Sa’adah dari Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Pendidikan Seni Karya, ditujukan kepada Dwi Setyo Pambudi, “Bagaimana kita menyikapi sistem pendidikan Barat dalam dunia Islam?” Lalu dengan singkat padat dan jelas, Dwi menjawab, “Tidak semua yang dari Barat bisa diterapkan sebagaimana tidak semuanya harus ditolak. Yang penting, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, bisa diadapsi.”

Di penghujung acara, perwakilan dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Ust. Zulfikar Akbar, M.Ud, yang ternyata beliau juga alumni UNIDA 2015 dan PKU angkatan 06., mengapresiasi webinar pagi ini. Beliau mengatakan bahwa topik utama yang dibicarakan tergolong menarik karena berbicara tentang filsafat pendidikan. Lebih dari itu, beliau berharap agar setiap tema yang diperesentasikan untuk dikembangkan dan diperdalam sehingga dapat dipraktikkan di lapangan. Agar tidak sebatas wacana. Terakhir, setelah epilog dari Ust. Zulfikar, webinar ditutup dengan acara berfoto bersama.

Reporter: M. Faishal Fadhli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.