Oleh: Novita Kusuma Dewi/Peserta PKU Angkatan 14

 

Wabah pandemi tak juga kunjung usai. Namun, kini Indonesia tengah
menghadapi periodesasi baru dalam menghadapi pandemi, yaitu new normal setelah
sebelumnya menerapkan peraturan lockdown. New normal sebetulnya menuai banyak
kontroversi, pasalnya dengan melihat kondisi saat ini, pandemi belum bisa
dikendalikan sepenuhnya.

Berbicara mengenai new normal dan pandemi, salah satu hal yang disoroti
adalah aktivitas ibadah di antara masa pandemi dan new normal. Tentunya mayoritas
masyarakat sudah maklum dengan seruan “beribadah di rumah saja” karena memang
merupakan salah satu anjuran pemerintah dari awal kasus Covid-19. Sejak saat itu,
pemerintah mulai mengeluarkan putusan untuk meniadakan sementara kegiatan ritual
di rumah ibadah di masa pandemi.  Namun, di sisi lain sebagian masyarakat menuntut
ibadah harus tetap dilaksanakan. Sebab, menurut mereka rumah ibadah masih bisa
dipakai dengan memakai protokol kesahatan.

Baca juga: Membangun Generasi Pejuang dengan Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas

New normal telah memberikan dampak di berbagai aspek kehidupan
masyarakat begitu juga di tataran elit atau otoritas agama. Narasi agama sering
bertautan, hal ini bisa dilihat dengan beragamnya putusan, anjuran, hingga himbauan
para kiai atau ulama dan lembaga otoritatif yang cenderung seirama dengan putusan
pemerintah, dan meminta masyarakat untuk selalu patuh. Saat memasuki new normal,
dinamika keislaman juga turut berubah ketimbang di masa pandemi, walaupun
kebanyakan masih pada tataran ibadah. Di antaranya, beberapa elit mulai bersikap
kritis pada putusan pemerintah, seperti wacana Islamic Life Style atau Gaya Hidup
Islami dalam menghadapi pandemi.

Hal yang menarik di masa pandemi adalah, jika sebelumnya di masa pandemi
simbol-simbol Islam dipakai oleh masyarakat biasa dalam menyuarakan aspirasi
politiknya, sekarang malah ditampilkan juga oleh elit atau otoritas. Saat memasuki
masa new normal pertarungan otoritas antara otoritas agama dan pemerintah terjadi
terang-terangan. Sebelumnya masyarakat menampilkan aksi politiknya menggunakan
simbol Islam seperti masjid atau langgar sebagai bentuk aspirasi atau negoisasi
dengan kondisi atau putusan pemerintah. Sedangkan, otoritas agama mulai bersuara
melawan wacana new normal dari pemerintah lebih menggunakan narasi agama yang
lebih substansi, seperti wacana gaya hidup atau wacana tempat ibadah. Walau kita
tahu sebelumnya, mereka lebih banyak mendukung pemerintah dengan berbagai
putusannya.

Baca Juga: Fenomena Phubbing Generasi Milenial dan Hilangnya Adab

 

Beberapa elit agama dan masyarakat cukup keras mengkritis pemerintah,
terutama di tengah wacana new normal ini: “Mengapa pemerintah tidak keras juga
dalam menghadapi orang-orang yang berkumpul di tempat keramaian seperti
bandara, pasar-pasar, pabrik-pabrik, dan tempat lainnya?”
Memang, bukan sesuatu yang aneh jika politik agama dimainkan selama
pandemi dan new normal di Indonesia. Sebab jika kita menelusuri dinamika
perpolitikan sepanjang pemerintah Jokowi, narasi politik agama memang tumbuh
subur. Tapi, dari dinamika politik Islam di masa pandemi dan new normal ini kita
bisa belajar bahwa politik agama tidak melulu soal perebutan kekuasaan.

]Dale F.Eickelman dan James Piscatori, penulis buku Muslim Politics mengungkapkan bahwa
konsep politik juga bisa berarti negosiasi publik terhadap aturan dan diskursus yang
secara moral mempersatukan komunitas bersama. Berangkat dari poin James dan
Dale tersebut kita bisa memahami bahwa aksi-aksi masyarakat muslim di masa
pandemi merupakan aksi politik. Selain itu, wacana atau narasi yang dibangun oleh
elit agama mungkin memiliki daya dorong yang lebih besar, namun politik Islam di
masa pandemi juga menggambarkan fungsi elit atau otoritas bisa dikesampingkan
jika memang aksi tersebut bisa mempersatukan sebuah komunitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.