pku.unida.gontor.ac.id- Seperti sudah menjadi satu tradisi di lingkungan UNIDA-Gontor setiap selesai menunaikan ibadah shalat maghrib berjama’ah ada ceramah oleh para dosen, biasanya disampaikan dalam durasi 15-30 menit atau lebih, berkenaan dengan tema beragam.

Tidak terkecuali pada sabtu malam (7/9), dimana ceramah kali itu disampaikan langsung oleh al-Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil yang juga wakil rektor I Universitas Darussalam Gontor (UNIDA). Dalam muqoddimahnya, beliau terlebih dahulu mengulas kembali sekilas mengenai satu fase berislam seseorang, yaitu berislam dalam maqom syari’ah sebagaimana disampaikan pada kesempatan sebelumnya.

Makna dari fase tersebut ialah memenuhi rukun Islam yang lima. Meskipun demikian, tambah beliau, ternyata untuk kelas syari’ah pun tidak banyak umat Islam bersungguh-sungguh melaksanakannya. Survey menunjukkan 60% remaja di Indonesia tidak melaksanakan shalat, sisanya terbagi menjadi 20% shalat tapi jarang-jarang, dan kemungkinan 1% saja yang tingkat sholatnya sudah sampai tahap muqorrobin dari 20% lainnya. Itu baru berislam pada maqom syari’ah.

BACA JUGA: Studi Kritis Konsep Sunnah Muhammad Syahrur

Selain menjelaskan tema di atas, Dr. Hamid juga menyoroti satu peristiwa yang akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan khalayak ramai secara khusus di media sosial. Dimana peristiwa tersebut menurutnya memalukan bangsa Indonesia dan perguruan tinggi Islam di Indonesia, yakni soal diluluskannya sebuah disertasi di kampus UIN Yogyakarta, tentang legalisasi hubungan laki-laki dan perempuan di luar nikah atau zina, penulis disertasi menyebutnya hubungan non-marital.

Menurut beliau, latar belakang disertasi ini berangkat dari pertanyaan penulis berkenaan dengan hukuman atas pelaku zina, apakah sekriminal dan seserius itu perbuatan zina sehingga pelakunya harus dihukum rajam, seperti dapat ditemukan di Aceh, Pakistan serta beberapa negara Arab lainnya. Seserius itukah dosanya orang berzina? Alasan lainnya, orang itu kalo berzina dan suka sama suka secara sosial tidak ada yang dirugikan, tetapi kenapa dia dihukum secara sosial sebegitu kejamnya? Ini model argumentasi yang sesat.

Dr. Hamid Fahmy melanjutkan, di dalam al-Qur’an sudah sangat jelas bahwa mendekati zina saja tidak boleh, wa lā taqrobu al-Zina. Ini malah ingin mendekatkan hukum yang tadinya tidak boleh menjadi boleh. Anehnya, menurut si empu disertasi, perzinaan yang dihukumi seperti itu merujuk hukum fiqih klasik. Sedangkan, di dalam Islam tidak dikenal pembagian fiqih klasik dan tidak klasik.

Apabila melihat beberapa waktu ke belakang,  sebelum disertasi tersebut  menyita banyak perhatian publik, sebetulnya ummat Islam melalui beberapa LSM sedang berjuang lewat jalur konstitusi meminta agar DPR merevisi atau membatalkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual (RUU PKS) yang salah satu isinya berpotensi melegalkan perbuatan zina. Akhirnya perbuatan zina kedepannya tidak lagi dianggap melanggar hukum. Kalau disahkan terus diberlakukan “Indonesia akan dibuat betul-betul negara yang bebas secara moral, lah ini kok tiba-tiba ada disertasi yang melegalkan hubungan seksual di luar pernikahan.” Ujar Wakil Rektor 1 sekaligus penasehat PKU Gontor ini.

Tidak ada yang aneh sebetulnya dari kesimpulan akhir disertasi seperti sudah diterangkan di atas, oleh karena teori yang menjadi dasar pijakan pengkaji ialah pemikiran Muhammad Syahrur, seorang sarjana teknik sipil kelahiran Syiria. Tokoh yang sejatinya tidak memiliki kejelasan identitas sanad keilmuan di bidang fiqih. Lebih-lebih menengok kondisi keberagamaan di Syiri’a memang tidak hanya sunni yang berkembang, melainkan juga Syiah. Dan Syahrur dari sisi aqidah berafiliasi pada keyakinan Syi’ah Nusairiyyah.

Apa yang menjadi ciri dari syi’ah? Mereka menghalalkan nikah mut’ah. Asalnya, hukum mut’ah memang diperbolehkan ketika dalam keadaan perang, namun ijtihad mereka –Syi’ah- bahwa tidak dalam keadaan perang pun boleh. Uniknya, lama nikah mut’ahpun bisa satu jam dengan ada maharnya, setelah batas waktu yang disepakati usai, tidak ada lagi hubungan antara suami dan istri. Ini sama dengan perzinaaan.

Syahrur membuat satu teori dihalalkannya perzinaan di luar nikah dengan menggunakan ayat illa mā malakat aimānukum. Malakat aimānukum bermakna budak. Artinya, seseorang boleh melakukan hubungan seksual dengan istri atau dengan budak-budak. Tetapi masalahnya sekarang tidak ada lagi perbudakan. Islam datang justeru menghapuskan perbudakan. Maka, pendapat Syahrur jika ayat ini dikontekstualisasikan dengan zaman sekarang, budak adalah partner, berarti anda boleh melakukan perbuatan hubungan seksual asal atas dasar suka sama suka, dilakukan tidak di tempat terbuka, boleh berzina asal tertutup, darimana kesimpulan terbuka-tertutup? Tanya Dr. Hamid sewaktu menerangkan teori Syahrur terkait persoalan budak.

BACA JUGA: Konsep Islam dan Iman Muhammad Syahrur; (Studi Kritis)

Anehnya, lanjut beliau, perbudakan termasuk salah satu persoalan yang dianggap melanggar HAM, sebab bagaimana bisa seseorang memiliki hak kewenangan penuh atas orang lain. Ko Syahrur malah membuat perbudakaan baru, padahal di saat bersamaan dia termasuk aktivis HAM.

Selain kritikan dan hujatan baik oleh MUI, para tokoh serta masyarakat luas, ada juga yang memang mendukung, mengapresiasi hasil disertasi yang diluluskan di UIN tersebut merupakan salah satu bentuk ijtihad yang luar biasa.

Dari mana ijtihad itu? Dr. Hamid selanjutnya menerangkan kembali perihal fiqh klasik seperti disebut oleh penulis disertasi. Terang beliau, tidak ada yang namanya istilah fiqh klasik dan tidak klasik dalam Islam. Penolakan akan produk fiqh klasik, lebih tepatnya merupakan penolakan terhadap fiqh ala ahlusunnah wal jama’ah, atau ala empat madzhab mu’tabar. Alasannya, hadits-hadits selaku landasan dasar bangunan hukum fiqih, diriwayatkan oleh para sahabat serta khulafaur rasyidin, yang mana sangat dibenci oleh orang Syi’ah. Kebencian itu nampak ketika hendak menunaikan shalat, mereka mengawalinya dengan kalimat bismillahirrahmanirrahim la’ana Allahu abu bakr, umar, wa ustman, allahu akbar.

Setiap hari orang-orang Syi’ah melaknat sahabat ini, sedangkan hadits-hadits –fiqih klasik- diriwayatkan oleh tiga orang tersebut. Maka mafhum, jika hadist-hadits ditolak, dikarenakan bagaimana bisa orang-orang Syi’ah mengikuti hadist yang diriwayatkan oleh orang-orang yang dilaknat oleh Allah, menurut versi Syi’ah. Hati-hati ini, tegas beliau.

Masuk akal jika orang-orang ini akhirnya menolak fiqih klasik. Hati-hati kepada orang yang tidak mengaku Syi’ah tetapi mengatakan hadits Nabi itu masalah. Sampai al-Qur’an yang dicetak pada zaman utsman itu penuh dengan rekayasa, inilah utsman dari Qurays yang tidak suka sama Ali, kata Syiah. Berhati-hatilah dengan ini, dibalik disertasi itu tersirat sebuah paham Syiah yang sangat berbahaya.

Kalau kita menafikan Syari’ah, kita menafikan adanya kabāir, seperti halnya umroh adalah upaya kita untuk menghapus dosa kita, kok dia menghadirkan dosa baru, membuat ijtihad menghalalkan dosa-dosa yang kita sebut dengan kabair, kalau kalian percaya dengan syariat yang secara sanad tidak pernah melakukan dosa-dosa besar, maka janganlah percaya karena itu syariat yang direkayasa oleh mereka yaitu orang-orang liberal yang berusaha menghapuskan syariah dari Islam.

Dengan tegasnya beliau mengatakan “Saya menganggap bahwa orang yang menulis disertasi ini dosanya lebih besar dari pada orang yang berzina, inilah yang menghalakan sesuatu yang haram, orang yang menganggap kekufuran itu tidak ada masalah dan dia menyebarkan kekufuran, dosanya lebih besar dari pada orang kufur itu sendiri. Padahal ilmu ini berbahaya, su’ul khuluqi yu’di, di sini kita tambah lagi, su’ul fikri yu’di aksar, pemikiran ini sangat berbahaya.

Dipenghujung pembicaraanya, beliau menyampaikan bahwa sebagai civitas akademika di perguruan tinggi pesantren, hendaknya kita berhati-hati terhadap pemikiran orang-orang liberal yang berusaha mendiskreditkan nilai dan ajaran Islam. Terutama dalam disertasi yang melegalkan hubungan seks di luar nikah yang telah menggemparkan dan menghirukkan masyarakat Indonesia.[]

Rep. Ach. Fuad Fahmi
Ed. Farhah, M.Ag

5 Thoughts on “Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Soal Disertasi Seks Di Luar Nikah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.