Oleh: Ahmad Tauhid Mafaza

pku.unida.gontor.ac.id- Salah satu asas keyakinan dalam akidah Syi’ah Imamiyah Itsnā ‘Asyariyah (Syi’ah Dua Belas Imam) adalah Imamah.  Meyakini bahwa ‘kepemimpinan’ yang sah adalah langsung dipilih oleh na ilahi kepada dua belas imam. Dimulai dari Ali bin Abi Thalib RA seabgai pemimpin pertama hingga imam kesebelas, al-Hasan al-Askari. Sedangkan imam yang keduabelas masih menjadi perdebatan dan kontroversi, dikarenakan adanya sebuah riwayat bahwa al-Hasan al-Askari wafat tanpa memiliki seorang keturunan.

Hal itulah yang melatarbelakangi sebuah konsep baru dalam keyakinan Syi’ah, yaitu ghaybah. Dalam keyakinan Syi’ah sekte Imamiyah Itsna ‘Asyariyah mengenai konsep ini, bahwa imam yang ke-dua belas sedang bersembunyi dan tidak menampakan diri (ghayb). Imam yang ke-dua belas ini, diyakini sebagai imam mahdi, imam terakhir yang akan muncul kelak pada waktu yang dijanjikan.

Ditinjau dari sisi bahasa, asal kata ghaibah adalah ghayb yang berarti segala sesuatu yang tersembunyi atau tidak kasat mata. Ibnu Mandhur dalam Lisānu al-Arab-nya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghayb adalah segala sesuatu yang tidak kasat mata baik itu dapat dirasakan oleh hati maupun tidak. Kemudian kata ghaibah dijadikan sebuah istilah dalam keyakinan Syi’ah, dan yang dimaksudkan adalah bersembunyinya putra dari imam kesebelas, Muhammad bin al-Hasan al-Askari, atau dikenal dengan Imam Mahdi sebagai imam keduabelas. [As-Salafi, Haqaiq wa Watsa’iq min Din al-Rafidhah]

BACA JUGA: Syi’ah Bukan Sekedar Mazhab

Syi’ah Dua Belas Imam meyakini bahwa imam kesebelas memiliki seorang keturunan. Akan tetapi pasca kelahirannya, imam kesebelas menyembunyikan anaknya ke dalam sebuah gua di Samura/Samira. Ia menyembunyikan dan merahasiakan hal ini dikarenakan gentingnya keadaan saat itu oleh tekanan penguasa terhadapnya. Selama masa hidupnya ia tidak pernah memperlihatkan anaknya, bahkan hingga wafatnya pun tidak banyak orang yang pernah mengetahui anaknya. Proses bersembunyinya imam keduabelas inilah yang disebut dengan ‘Ghaibah Imam Mahdi.’ [Al-Mufid, Al-Irsyad fi Ma’rifati Hujjajillah ‘ala al-‘Ibad]

Dalam persembunyiannya, Imam Mahdi menjalani dua kali masa ghaibah, sughra (kecil) dan kubra (besar). Adanya pembagian ghaibah menjadi sughra dan kubra dikarenakan waktu yang diyakini terjadinya kedua ghaybah tersebut berbeda. Ghaibah ṣughra dimulai semenjak lahir dan disembunyikannya (baca: ghaibah) Imam Mahdi hingga wafatnya safīr (wakil imam ghaib) yang keempat, Ali bin Muhammad as-Samurra. Masa ini berlangsung kurang lebih selama 70-an tahun, dari tahun 255/260 hingga 329 Hijriyah. Kemudian dilanjutkan dengan ghaibah kubra yang dimulai semenjak habisnya masa ghaibah ṣughra sampai dengan kemunculan Imam Mahdi menjelang hari kiamat kelak. [Al-Ṣadr, Tārikh al-Ghaybah al-Kubrā]

Salah satu sebab utama imam keduabelas bersembunyi adalah karena takut dengan adanya ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Alasan ini dibenarkan oleh seorang ulama besar Syi’ah, Syaikhu at-Thaifah Abi Ja’far Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi, dengan perkataannya di dalam Kitabu al-Ghaibah;

لا علّة تمنع من ظهوره إلّا خوفه على نفسه من القتل، لأنّه لو كان غير ذالك لما ساغ له الاستتار وكان يتحمّل المشاق والأذى، فإنّ منازل الأئمّة وكذالك الأنبياء إنما تعظم لتحمّلهم المشاقّ العظيمة في ذات الله تعالى.

‘’Tidak ada sebab ghaibah kecuali karena khawatir pembunuhan atas dirinya. Sebab jika bukan karena hal tersebut, mengapa ia harus bersembunyi? Ia juga menanggung beban dan penderitaan. Begitulah para imam dan nabi, kedudukan mereka menjadi mulia karena menanggung beban yang berat dari Allah.’’

BACA JUGA: Studi Kritis Konsep Sunnah Muhammad Syahrur

Oleh karena itu, Syi’ah Dua Belas Imam berkeyakinan bahwa imam keduabelas itu ada, namun menjalani masa ghaibah dikarenakan alasan tersebut.

Konsep ‘Ghaibah Imam Mahdi’ yang diusung oleh Syi’ah ini sebenarnya sangat membingungkan. Diantara kerancuannya adalah mengenai hakikat Imam Mahdi yang mereka yakini adanya dan mengalami masa ghaibah. Letak kerancuannya terdapat pada benar atau tidaknya keberadaan Imam Mahdi itu sendiri. Sebab dalam literatur-literatur Syi’ah banyak disebutkan kebenaran bahwa imam kesebelas, al-Hasan al-Askari, wafat tanpa memiliki seorang keturunan. Kebenaran ini diyakini oleh ulama-ulama besar Syi’ah seperti Hasan bin Musa an-Naukhbati dan Sa’ad bin Abdullah al-Qumi. Sebagaimana yang tertera dalam tulisan mereka di Al-Maqalat wa al-Firaq dan Firaqu asy-Syi’ah;

إن الحسن بن علي قد صحت وفاته كما صحت وفاة آبائه بتواطئ الأخبار التي لايجوز تكذيب مثلها، وكثرة المشاهدين لموته، وتواتر ذلك عن الولي والعدو، وهذا ما لايجب الارتياب فيه، وصح بمثل هذه الأسباب أنه لا ولد له، فلما صح عندنا  الوجهان ثبت أنه لا إمام بعد الحسن بن علي، وأن الإمامة انقطعت ..

‘’Bahwasanya kematian al-Hasan bin Ali (al-Askari) adalah benar adanya. Sebagaimana benar juga kematian ayahnya, berdasarkan kesepakatan yang tidak boleh diingkari. Sebab banyak dari kalangan pengikut maupun musuh yang telah menyaksikan kematiannya. Oleh karenanya perkara ini tidak boleh diragukan kebenarannya. Begitu juga dibenarkan bahwa al-Hasan bin Ali tidak memiliki keturunan. Oleh sebab itu, yang menurut kami benar hanya ada dua hal; pertama, bahwasanya tidak ada imam setelah wafatnya al-Hasan bin Ali, dan yang kedua, bahwasanya Imamah telah terputus.’’

Pendapat ini menunjukkan bahwasanya Imam Mahdi yang selama ini diyakini keberadaannya oleh Syi’ah Dua Belas Imam hanya tokoh fiktif belaka.

BACA JUGA: Konsep Islam dan Iman Muhammad Syahrur; (Studi Kritis)

Kerancuan yang kedua terletak pada alasan yang menyebabkan terjadinya ‘Ghaibah Imam Mahdi’. Yaitu adanya rasa takut pada diri Imam Mahdi terhadap ancaman pembunuhan atas dirinya. Secara logika hal ini sangat menjatuhkan kapabilitas imam mereka sendiri. Jika terhadap dirinya sendiri saja seorang imam tidak mampu menjaga diri dan harus bersembunyi, lalu bagaimana ia bisa menjaga keselamatan pengikutnya? Alasan ini pun juga sebenarnya bertentangan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan dalam kitab ṣaḥīḥ mereka, al-Kāfī;

عن أبي بصير قال: قال أبو عبد الله (ع): أيّ إمام لا يعلم ما يصيبه وإلى ما يصير، فليس ذلك بحجّة الله على خلقة

‘’Dari Abi Bashir berkata, berkata Abu Abdillah ‘Alaihissalam: Imam macam apa yang tidak mengetahui apa yang akan menimpa (berupa kebaikan, keburukan, kesejahteraan, kemalangan di masa hidupnya) dan terjadi (berupa perkara kematian atau syahadah) padanya? Dia bukanlah Hujjatullah (imam Allah) atas hambaNya’’.

Ada semacam ketidak-konsistennya konsep ini, bahkan terkesan memaksakan demi eksistensi  konsep keimaman dan tidak berlandaskan pada logika sehat terlebih naṣṣ syar’i. Karena imam dalam Syi’ah, diyakini sebagai manusia yang maksum, dan bisa mengetahui hal-hal yang ghaib. Jika seorang imam mampu mengetahui serta menentukan kapan dan bagaimana ia akan wafat, tentu tidak perlu seorang imam takut dengan adanya rencana pembunuhan yang ditujukan kepadanya.

Maka konsep ‘Ghaibah Imam Mahdi’ Syi’ah Dua Belas Imam adalah sebuah doktrin yang dusta (buhtan) baik dilihat dari segi logika maupun secara syar’i. Sebab, konsep yang mereka yakini terbantahkan dengan pendapat dari kalangan ulama mereka sendiri dan tidak ada dalil naṣṣ syar’i yang membenarkan hal tersebut. Wallahu a’lamu bish shawab. []

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU XIII) Unida Gontor
Ed. Eko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.