pku.unida.gontor.ac.id-Pada tanggal 21 Desember 2019, para peserta Program Kaderisasi Ulama’ UNIDA Gontor Angkatan XIII mendapatkan kehormatan untuk mengikuti Soft Launching buku terbaru Direktur Utama PKU, al-Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil. yang berjudul “Minhaj, Upaya Mencapai Kesalehan Intelektual”, dan Bedah Buku “Model Kebangkitan Umat Islam” yang disampaikan oleh salah satu pengajar PKU, al-Ustadz Asep Sobari Lc.

Acara ini dimoderatori langsung oleh Direktur Eksekutif INSISTS al-Ustadz Dr. Henri Sholehuddin MA yang juga menjadi salah satu pengajar di PKU. Agenda ini adalah satu rangakain dari perhelatan Akhir Tahun INSISTS yang ke-17.

Pembicara pertama, Ustadz Asep menyampaikan bahwa ada keunikan ketika kita mempelajari sejarah kebangkitan umat Islam. Dalam Hadist Nabi menyebutkan bahwa generasi terbaik adalah generasi sahabat, kemudian tabi’in dan tabi tabi’in dan seterusnya. Meskipun generasi-generasi seterusnya tidak sebaik generasi pendahulu karena semakin jauhnya akses terhadap Sumber Ilmu, adalah sebuah prestasi yang luar biasa jika generasi-generasi setelahnya bisa berada di posisi puncak peradaban.

Beliau menambahkan bahwa saat Daulah Umayyah Andalusia runtuh, pada saat yang sama Kekhalifahan Turki Utsmani sedang dalam masa kejayaannya sampai pada tahap menaklukan Konstantinopel. Fenomena-fenomena sejarah yang bertolak belakang seperti ini sering terjadi, tapi jarang diangkat oleh para sejarawan. Buku “Model Kebangkitan Umat Islam” ini adalah salah satu upaya dari penulis Dr. Majid Irsan al-Kilani untuk menganalisis sebab-sebab bangkitnya umat Islam khususnya pada masa penaklukan Pasukan Salib dan pembebaskan al-Quds.

“Buku ini sebenarnya manifestasi dari yang kita sebut selama ini sebagai gerakan kembali ke al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal in berbeda dengan apa yang sering digaungkan bahwa kembali ke al-Qur’an dan as-Sunnah saat ini yang mereduksi maknanya hanya terbatas pada cara makan, berpakaian, dll.” tutur Alumni Gontor 1995 tersebut.

Buku ini secara sederhana menceritakan adanya sebuah gerakan keulamaan utuh yang kemudian menjadi sebuah gerakan spritiual, intelektual, dan sosial yang berakumulasi menjadi gerakan pendidikan. Pada ujung-ujungnya lahir dari gerakan pendidikan ini, gerakan-gerakan lainnya seperti gerakan ekonomi, politik, militer. Buku ini berbeda dengan buku lainnya yang kebanyakan menceritakan aspek buthulah (heroism). Buku ini mencoba mengangkat Sholahuddin al-Ayyubi dari titik pertamanya, yaitu bagaimana Palestina jatuh ditangan Pasukan Salib dan bagaimana ia bisa direbut kembali. Kesimpulannya, bahwa keberhasilan itu bukan hanya faktor heroism Shalahuddin, tapi karena adanya gerakan kolektif yang disusun secara terencana.

Pembicara kedua, Ustadz Hamid mengawali presetasinya dengan menceritakan latar belakang penulisan buku “Minhaj, Berislam dari Ritual hingga Intelektual”. Salah satunya adalah  pernyataan Muhammad Abduh yang mengatakan “saya melihat Islam di Paris tapi tidak menemukan orang Islam, dan saya melihat umat Islam di negara Islam tapi tidak melihat Islam disana”. Ustad Hamid menilai bahwa umat Islam saat ini baru dalam tingkat berislam, belum beriman apalagi berihsan. Padahal hakekat berislam sebagai sebuah worldview adalah berislam secara sadar dengan cara berilmu, beriman dan beramal, dan berfikir.  Selain itu, umat Islam saat ini menghadapi tantangan pemikiran Barat yang memiliki paradigm sekuler. “problem di Barat adalah mereka melihat realitas dan kebenaran terpaku pada empirisisme dan rasionalisme” tutur Ust Hamid yang juga menjabat sebagai Ketua MIUMI.

Ustadz Hamid menyatakan untuk bisa berislam dengan kualitas yang baik harus memenuhi tiga ciri. Pertama, Ibadah ritual  harus berdampak pada kesadaran ilahiyah. Kedua, Keimanan harus berdampak pada kesalehan amal (akhlaq). Ketiga, Islam-iman-ihsan sebagai totalitas berislam harus berdampak pada kesalehan intelektual.

“Sholatnya mencegah kemungkaran, puasanya menambah ketaqwaanya, zakatnya membersihkan hartanya, hajinya menyempurnakan kebaikannya (birr). Syariahnya disertai aqidah, imannya berdampak pada amalnya. Perilakunya sejalan dengan pikirannya. Islam adalah pandangan hidupnya” pungkas Ust Hamid.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Yang menarik adalah setelah sesi tanya jawab, Ustadz Hamid selaku Direktur Utama INSISTS melantik Ustadz Asep Sobari sebagai Direktur Eksekutif INSISTS yang baru menggantikan Ustadz Henri Sholahuddin yang mana beliau dalam waktu dekat akan berangkat bersama keluarganya ke Turki.  Wallahu a’lam.

 

Rep.
Muhammad Kholid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.