Oleh: Nawang Lukman Priyonggo/Peserta PKU angkatan 14

 

Di tengah maraknya kerusakan lingkungan, sikap Zuhud adalah solusinya! Zuhud adalah sikap mendahulukan urusan akhirat daripada urusan duniawi. Zuhud bukan artikekayaan dan identik dengan kemiskinan, melainkan sikap menjauhi sifat serakah. Keserakahan dalam mengeksploitasi alam sering menjerumuskan manusia kepada kebinasaan dan kerusakan alam karena sikap yang tidak ramah lingkungan.

Rasulullah SAW pernah pengigatkan adanya watak manusia yang cenderung serakah dalam menguasai sumber daya alam untuk mendapatkan harta yang banyak: “Sekiranya anak Adam mempunyai satu lembah emas niscaya ia berambisi memiliki dua lembah emas. Dan tiada yang bisa memenuhi mulutnya selain tanah, dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya.” (Hadist Muttafaq ‘alaihi dari Anas ibn Malik RA).

 

Baca Juga: Kebebasan dalam Islam

Dorongan untuk menumpuk-numpuk harta termasuk pengambilan sumber daya alam yang tidak terkendali bersuber dari hawa nafsu yang berlebihan. Dorongan inilah yang kemudian membuat sebagian orang menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Karena itu, Abu Hasan al-Mawardi menyebutkan, “Adapun hawa nafsu merupakan penghalang bagi kebaikan dan penentang akal pikiran, darinya timbul akhlak yang buruk dan pekerjaan yang hina sehingga membuat reputasi orang menjadi rusak dan jalan menuju kejahatan menjadi lancar.”

Degan demikian, ketika orang sudah tidak memedulikan halal-haram dalam mencari rezeki, tanpa sadar ia telah menuhankan hawa nafsunya. Abdullah ibn Abbas RA sebagaimana dikutip oleh Al-Mawardi di dalam Kitab Adab al-Duny wa al-Din menegaskan bahwa hawa nafsu bisa menjadi Tuhan selain Allah yang suka disembah manusia. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhanya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendenganran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatanya-nya? Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkanya sesat). Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran” (QR al-Jatsiyah: 23).

Fenomena eksploitasi alam alam secara besar-besaran untuk menghasilkan keuntungan sejatinya bisa diatasi dengan kesadaran-kesadaran diri bahwa kenikmatan hakiki bukan pada harta benda yang berlimpah, melainkan pada kekayaan hati. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Kekayaan itu bukan disebabkan banyaknya harta, melainkan pada kekayaan jiwa.” (Hadis Mutafaq ‘alaihi dari Abu Hurairah RA). Sedangkan, kekayaan jiwa muncul tiada lain kembali pada konsep zuhud yang telah disebutkan tadi. Hal ini paling tidak seperti yang dicerahkan Imam al-Ghazali bahwa Salman al-Farisi RA bertutur, “Jika seseorang hamba telah mampu berzuhud terhadap dunia, maka hatinya akan bersinar penuh hikmah dan anggota badanya akan saling membantu dan mengerjakan ibadah.”

Untuk itu, Imam al-Ghazali menguraikan bahwa zuhud itu ada tiga kategori, yaitu zuhud yang berada dalam kapabilitas manusia dan zuhud yang di luar kapabilitas tersebut. Jika seseorang sudah, pertama, tidak lagi mengejar kesenangan dunia yang luput darinya; kedua, mau berbagi kesenangan dunia yang ia miliki kepada sesama; dan ketiga, hatinya tidak lagi berhasrat dan punya niat untuk meraih kesenangan dunia, yang kesemuanya dimaksudkan untuk meraih rida Allah dan pahala-Nya yang agung dengan banyak mengigat mudharat-mudharatnya. Maka, ketika itu berarti ia telah dikaruniai rasa ketidakinginan terhadap dunia. Itulah yang menurut al-Ghazali yakni rasa ketidakinginan sebagai zuhud yang sebenarnya.

Jika zuhud sudah menjadi kesadaran, ia merasa tiada guna dan manfaatnya melakukan eksploitasi alam secara basar-besaran untuk mendapatkan keuntungan tanpa mementingkan akibat yang terjadi dari kegiatan tersebut. Sebab, pada kenyataannya, hal paling didambakan setiap orang adalah ketenangan batin. Hidup kian terasa tidak nyaman manakala batin semakin menderita. Walaupun hasil eksploitasi alam itu ia gunakan untuk beribadah haji berulang-ulang, ibarat mandi dengan air kotor, kebersihan hati pasti tidak akan didapatkan.

Kata Syekh Utsaimin, setiap orang yang zuhud pasti memiliki sifat wara’, tetapi tidak setiap orang wara’ menjadi zuhud. Sebab, wara’ hanya menjauhi perkara yang dapat menimbulkan kesulitan atau kemudharatan di akhirat nanti. Sementara, zuhud adalah kemampuan menjauhi perkara yang tidak berguna bagi kehidupan di akhirat. Jika, zuhud lebih luhur ketimbang sifat wara’ sehingga wajar bila zuhud telah menjadi pendoman hidup seseorang, alih-alih perkara yang haram atau syubhat, bahkan perkara yang tidak memberikan nilai manfaat untuk akhirat saja ia tinggalkan. Walhasil, eksploitasi alam secara besar-besaran untuk diambil keuntunganya tidak akan pernah dialkukan karena tidak hanya merugikan di akhirat, tetapi juga membinasakan di dunai karena sifat keserakahan yang ada.

Itu bukan berarti tidak boleh memiliki kekayaan. Sebab, pada dasarnya Islam menghargai hak milik individu. Namun, kekayaan tidak membuatnya buta terhadap aturan Allah. Abu Bakar ash-shiddiq RA adalah orang kaya, tetapi tidak ada yang meragukanya sebagai orang yang zuhud. Demikian pula, Usman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf RA juga merupakan sederetan orang kaya pada zaman Nabi. Akan tetapi, mereka tidak pernah melakukan cara-cara yang diharamkan Allah dalam memperolah harta kekayaannya itu. Malah sebaliknya, kekayaannya menjadi wasilah meraih rida Allah.

Oleh karena itu, Allah mengigatkan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS al-Qashash: 77)

 

Baca Juga: Derasnya Arus Liberalisme Lunturkan Nilai-nilai Islam

Akhirnya, Zuhud bukan berarti kemiskinan, melainkan adab terhadap kekayaan dengan cara yang diridhoi Allah ketika mencari, memperoleh, dan menyalurkanya. Zuhud adalah sikap batin di mana hati manusia tidak terjerat oleh godaan-godaan dunia (hubbud-dunya) dan juga harta tidak menjadi sebab seseorang melupakan Tuhan dan lalai terhadap kewajiban sebagai seorang makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Dunia ditaruh dalam tanganya, sekedar untuk ibadah kepada Allah SWT; bukan diletakkan dalam hatinya. Sehingga menjadi harapan, jika zuhud sudah menjadi kesadaran, maka manusia merasa tidak ada guna dan menfaanya untuk melakukan sikap serakah.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.