Husna Hisaba Kholid/Peserta PKU Angkatan 16

Dalam diskurus teori atom Mutakallimūn, ulama teologis di masa klasik ternyata mampu membincangkan alam fisik untuk menjadi jembatan kepada  kebenaran alam metafisika. Sumbangsih ulama teologi klasik tersebut menjadikan alam (universe) mampu memberikan nilai spiritual yang khas, tidak seperti yang dihasilkan oleh sains barat sekuler yang telah dirasakan dampak buruknya terhadap krisis kemanusian akibat dari Disenchanment of Nature (menghilangkan keterpesonaan alam)(Harvey Cox, 2007, hlm. 22; Nasr, 1990, hlm. 20). Dengan demikian, integrasi nilai spiritualitas terhadap kajian alam melalui teori atom Mutakallimūn dewasa ini menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut.

Salah satu mutakallimūn masa klasik yang membahas secara mendalam terkait teori atom ialah al-Bāqilāni dalam karyanya kitab al-Tamhīd. Sebagaimana Ibnu Khaldun jelaskan, bahwa al-Bāqilani merupakan salah satu ulama Asy’ariyah yang menjadi rujukan utama di masa klasik terkait pembahasan atom di kalangan Mutakallimūn (Ibnu Khaldun, 2011, hlm. 861). Jika ditelusuri lebih lanjut, al-Bāqilāni secara sistematis dalam karyanya tersebut, telah menjadikan konsep atom sebagai argumentasi aqliyyah dan penguat akidah imāniyyah tentang keberadaan dan kemahakuasaan Tuhan (al-Baqilani, 1957, hlm. 22), maka peran al-Bāqilāni dalam konsep atom tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tulisan ini hendak mengkaji bagaimana konsep atom menurut al-Bāqilāni serta hubungannya dengan diskurusus sains alam.

Teori Atom Menurut al-Bāqilani

            Al-Bāqilāni menjadikan al-Jauhar (Atom) sebagai pijakan argumentasi dalam perbincangan alam sebagai wujud yang bersifat hudūts (baru) (al-Baqilani, 1957, hlm. 17). Al-Jauhar (Atom) menurutnya merupakan substansi yang menerima seminimal-minimalnya satu al-‘Aradl (aksiden) saja dari segala jenis aksiden.  Karena jika dalam al-Jauhar itu tidak terdapat al-‘Aradl (aksiden) maka dipastikan tidak akan ada wujud dari al-jauhar (atom) (al-Baqilani, 1957, hlm. 17). Dari pengertian ini pula maka wajar, al-Ghazali menyebutkan al-Jauhar merupakan wujud (eksistensi) yang tidak memerlukan sesuatu yang lain untuk di tempati (Abu Hamid al-Ghazali, 1961, hlm. 300) atau dalam pengertian al-Ash’ari sebagai zat yang berdiri sendiri (Abu al-Hasan al-Ash’ari, t.t., hlm. 306), karena justru aksiden lah yang bergantung dan bertempat pada al-Jauhar (atom).

Baca Juga: Kompetensi Kepribadian Guru Sebagai Wujud Ruh Mudarris – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Aksiden dengan demikian bagi al-Bāqilāni itu bersifat temporal, karena al-‘Aradl  tidak dapat  berdiri sendiri. Al-Bāqilāni berargumentasi dengan penggunaan kata al-‘Aradl  di dalam ayat al-Qur’an, Turīdūna ‘aradla al-dunya wa Allahu yurīdu al-Ākhirah (al-Anfal :67). Kata harta di dalam ayat tersebut diungkapkan dengan kata ‘aradl yang menunjukan bahwa harta itu bersifat temporal/binasa/musnah sebagaimana aksiden disebut dengan al’Aradl (al-Baqilani, 1957, hlm. 18). Pijakan dasar pemikiran al-Bāqilāni atas aksiden yang bersifat temporal ini menunjukan bahwa al-Qur’an berperan dalam membentuk worldview Islam bagi para intelektual muslim klasik dalam membaca realitas dunia.

Dari pengetian al-jauhar (atom) dan al-‘Aradl (aksiden) tersebut kemudian, al-Bāqilāni menjelaskan bahwa tidak mungkin setiap jism (jasad) itu memiliki dua al-‘aradl (aksiden) yang berlawanan secara bersamaan, seperti bergerak dan diam (al-Baqilani, 1957, hlm. 19). Ketika aksiden “bergerak” muncul dalam satu jasad, maka aksiden “diam” akan lenyap, begitupun sebaliknya. Gerak dan diam dalam satu jasad ini maka semakin meneguhkan sifat temporal dari al-‘aradl (aksiden).  Konklusinya, jika saja aksiden itu bersifat temporal, maka secara pasti al-Jauhar itu pun bersifat temporal dan hanya memiliki eksistensi sesaat saja.(Hamid Fahmi Zarkasyi, 2018, hlm. 50)

Dari konstruksi pemikiran tersebut maka teori al-Jauhar (atom) dan al-‘Aradl (aksiden)  ini menunjukan kepada dua kesimpulan pembahasan. Pertama, dunia ini bersifat temporal tidak kekal, sebagaimana temporalnya al-Jauhar (atom).  Kedua, dibalik keteraturan dunia ini ada yang Maha Kuasa dan Maha Mencipta. Karena jika setiap al-Jauhar (atom) itu berifat baru maka mesti ada yang menciptakan atom-atom baru untuk keberlangsungan transformasi makhluk di dunia. Kuasa Itulah bagi al-Bāqilani sebagai Kemahakuasaan Tuhan (Allah). Dengan demikian, sebagaimana Mutakallimūn lainnya (Kartanegara, 2017, hlm. 75), al-Bāqilāni berkeyakinan bahwa Tuhan adalah agen pertama dalam menciptakan dan mengendalikan alam.

Relevansi Teori Atom al-Bāqilāni dalam Pengembangan Sains Alam.

Pemikiran Atom al-Bāqilāni membuktikan bahwa alam dapat dikaji sebagai pembuktian eksistensi Tuhan dan kemahakuasaan-Nya dengan pandangan alam (worldview) Islam. Ini menjadi bukti bahwa pandangan Alam (worldview)  telah berperan aktif dalam menafsirkan apa makna kebenaran (truth) dan realitas (reality) ( Lihat, Muhammad Naquib al-Attas, 1995, hlm. 9). Konsep worldview Islam yang bertumpu pada konsep Tuhan, akan sangat berpengaruh dalam memandang realitas dan penemuan pengetahuan. (Fahmy Zarkasyi dkk., 2016, hlm. 13) Dalam hal ini maka,  Al-Bāqilāni telah membuktikan bahwa Islam mampu membaca alam sekaligus mendiskusikan kebenaran metafisika secara bersamaan dengan basis padangan alam islam (Islamic Worldview).

Baca Juga: Ashabiyah : Konsep Negara Ideal Perspektif Ibn Khaldun – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Pemikiran atom al-Bāqilāni ini selanjutnya semakin menguatkan hubungan antara kajian alam dan agama. Seperti yang digambarkan oleh Imre Lakatos, bahwa semua cabang ilmu (ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu humaniora), kerangka teori (theoretical framework) atau series of theories, paradigma keilmuan, semua bangunan itu secara hirarki dilandasi oleh bagian terdalam dari basis teologis, basis keagamaan, yang berfungsi sebagai inti pokok (hard core) atau “metateori” yang tak lain adalah asumsi dasar yang menggerakkan aktivitas ilmiah dengan tujuan memecahkan masalah-masalah ilmiah.(Muslih, 2016, hlm. 271). Worldview Islam dan paradigma  akhirnya, akan menjadi basic beliefs dalam penalaran seseorang dalam menghasilkan suatu ilmu pengetahuan (Fahmy Zarkasyi dkk., 2016, hlm. 12).

Kesimpulan

al-Bāqilāni dengan demikian telah memadukan antara kajian kosmos dan metafisika melalui teori atom untuk membuktikan sifat fana dunia dan kemahakuasaan Tuhan (Allah). Integrasi kajian kosmos dan metafisika ini secara bersamaan, menjadi bukti bahwa Islam memberikan pandangan alam yang khas dalam kajian alam dan berbeda dengan kajian sains sekuler barat yang meniadakan Tuhan dan mengakibatkan kerusakan alam. Kajian alam yang dilakukan oleh al-Bāqilāni dengan demikian, memberikan gambaran kosmologi islam bukan hanya bersifat rasional empiris saja namun juga bersifat teologis. Oleh karena itu, usaha al-Bāqilāni ini memberikan sebuah tawaran sekaligus dorongan kepada saintis dan cendekiawan muslim kontemporer untuk merancang konsep sains alam yang khas dengan basis pandangan alam (Worldview) Islam sebagai jembatan untuk menguatkan keimanan kepada Tuhan (Allah) sembari dapat menjaga dan melestarikan alam itu sendiri sebagai karunia ciptaan Tuhan.

Bibliografi

Abu al-Hasan al-Ash’ari. (t.t.). Maqalat al-Islamiyin wa Ikhtilaf al-musallin. Dar Ihya al-Turats al-’Arabi.

Abu Hamid al-Ghazali. (1961). Mi’yar al-’Ilmi fi Fan al-Mantiq. Dar al-Ma’arif.

al-Baqilani. (1957). Kitab al-Tamhid. Maktabah al-Syarqiyyah.

Fahmy Zarkasyi, H., Bakar, O., Setia, A., Handrianto, B., Arif, S., & Saliba, G. (Ed.). (2016). Islamic science: Paradigma, fakta dan agenda. Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations.

Hamid Fahmi Zarkasyi. (2018). Kausalitas: Hukum Alam atau Tuhan. Unida Gontor Press.

Harvey Cox. (2007). The Secular City. Penguin Book.

Ibnu Khaldun. (2011). Mukaddimah. Pustaka Al-Kautsar.

Kartanegara, M. (2017). Lentera kehidupan: Panduan memahami Tuhan, alam, dan manusia (Cetakan I). Mizan.

Muhammad Naquib al-Attas. (1995). Prolegomena to The Metaphisics of Islam. ISTAC.

Muslih, M. (2016). Al-Qur’an dan Lahirnya Sains Teistik. Tsaqafah, Query date: 2022-07-03 13:37:32. http://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tsaqafah/article/view/756

Nasr, S. H. (1990). Man and nature. Unwin Paperbacks.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.