Oleh: Yongki Sutoyo/Peserta PKU Angkatan 10

Pendahuluan

Dalam beberapa literatur yang membahasa filsafat Islam, khusunya sejarah filsafat Islam, masih banyak kalangan yang menganggap bahwa filsafat Islam lahir dari dan atau mengambil dari tradisi filsafat Yunani.[1] Harun Nasution, misalnya, menyatakan bahwa pemikiran filsafat masuk ke dalam Islam melalui filsafat Yunani yang dijumpai kaum Muslimin pada abad ke-8 Masehi atau abad ke-2 Hijriah di Suriah, Mesopotamia, Persia, dan Mesir.[2] Atau narasi sejenis yang menyatakan bahwa filsafat Islam adalah filsafat yang sekedar melestarikan dan menafsirkan warisan filosofis Yunani selama “Abad Kegelapan” Eropa dan kemudian menyerahkan warisan tersebut ke Barat Latin—sebagai ahli waris tradisi filosofis Yunani.[3] Pandangan yang menyatakan bahwa filsafat Islam tak lebih sebagai filsafat Yunani berbaju Islam—sebagaimana narasi di atas—adalah pandangan umum  para orientalis yang menganggap Islam sebatas agama dalam arti kumpulan doktrin dan ritus peribadatan semata. Kesimpulan para orientalis itu di dasari atas framework yang sekular, yakni mereka beranggapan bahwa tidak ada kaitan langsung antara sisi pemikiran—rasionalitas dan filosofis—dan doktrin dalam ajaran Islam.

Baca juga : Alam Semesta yang Mekanistik

Definisi dan Asal-Usul Filsafat Islam

Dalam pengkajian filsafat Islam, para orientalis, utamanya para orientalis awal seperti T.J. De Boer dan M. Watt, jarang menggunakan istilah Islamic philosophy, tapi lebih sering menggunakan istilah Arabic philosophy,[4] Arabic-Muslim philosophy,[5] dan Greek-Islamic philosophy.[6] Tiga term ini memiliki makna dan asumsi yang bebeda-beda. Arabic philosophy merujuk pada medium Bahasa yang digunakan oleh para filsuf dan penulis filsafat, baik muslim atau pun non-muslim, di dalam mengekspreskian pemikirannya; Arabic-Muslim philosophy adalah penyebutan bagi filosof berdarah Arab atau orang Arab yang beragama Islam, misalnya al-Kindi; sedangkan Greek-Islamic philosophy merujuk pada filsuf-filsuf paripatetik, seperti Ibnu Sina dan al-Farabi.

Banyaknya istilah yang digunakan untuk merujuk filsafat Islam, memperlihatkan bahwa orientalis tidak jelas dalam menempatkan dua term penting, yaitu Islam dan filsafat. Baginya Islam adalah kumpulan doktrin agama dan tafsir atas doktrin itu—hal ini berkisar atas penafsiran al-Qur’an dan Hadis yang merujuk pada disiplin ilmu tafsif, hadis, fiqh, ilmu qira’at dan gramatikal yang kesemuanya itu berfokus pada penguatan dogma, bukan pada penelitian rasional.[7] Sedangkan filsafat adalah penyeledikan spekulatif, progresif dan abstrak yang bertumpu pada rasio atas sesuatu.[8] Pemisahan ini—di mana akan lebih detail dibahas dalam framewok kajian—selain tidak tepat, juga memiliki banyak kerancuan.

Dari pilihan beberapa istilah dan alasannya di atas, salah seorng orientalis, Majid Fakhry mendefinisikan filsafat Islam sebagai berikut:

Islamic philosophy is a product of complex intellectual processes,[9] which are speculative, progressive and abstract depending on the ratio[10] in which Syria, Arabic, Persia, Turkey, Berbers, and others take an active part in its development and Arabic is the main medium as an expression of thought.[11]

Dari uraian definisi di atas, yang merujuk secara spesifik pada term spekulatif, progresif dan abstrak melalui rasio, Majid Fakhry jelas merujuk makna filsafat dalam tradisi Yunani, yaitu membuang dimensi—terutama—wahyu dan intuisi sebagai bagian tak terpisahkan dalam tradisi intelektual Islam. Pengertian filsafat Islam yang terpusat pada konsep rasio di atas tentu tidak mengherankan, sebab dalam konteks asal-usul filsafat Islam, Majid Fakhry—dan juga umumnya pendapat orientalis—dengan tegas menyakatan bahwa akar filsafat Islam berasal dari Yunani. Penelusuran dan kesimpulan Majid Fakhry atas asal-usul filsafat Islam adalah dari Yunani merupakan konsekuensi logis dari framework yang berpusat pada rasionalitas sebagai titik pusat filsafat. Apa yang tidak berhubungan dengan titik pusat itu—dalam hal ini wahyu—tidak akan diperhitungkan sebagai bagian dari batang tubuh filsafat.

Framework Kajian

Dari uraian definisi dan asal-usul filsafat Islam sebelumnya, telah jelas bahwa framework[12] Majid Fakhry dalam pengkajian filsafat Islam masuk ke golongan orientalis yang sekular. Framework orientalis pada umunya, dan Majid Fakhry khususnya, dapat diklasifikasikan ke dalam tiga hal. Pertama, dari sisi istilah yang dipilih, di mana orientalis dan juga Majid Fakhry memilih istilah filsafat Arab (Arabic Philosophy) ketimbang filsafat Islam (Islamic philosophy). Alasan pemilihan ini dikarenakan dua hal: (1) bahwa filsafat yang tumbuh berkembang di dunia Islam adalah hasil sebuah proses intelektual yang panjang dan rumit, di mana para sarjana Muslim maupun non-Muslim turut aktif mengambil bagian dan mereka yang berbeda-beda bangsa dan agama itu mengambil bahasa Arab sebagai medium utama dalam menguraikan pikiran-pikirannya. Bagi para sarjana di masa itu, bahasa Arab telah menjadi semacam ‘lingua franca‘ bagi para pengkaji filsafat yang berasal dari berbagai negeri, mulai dari Baghdad hingga Andalusia;[13] (2) para penekun filsafat pada periode awal seperti al-Kindi dan al-Farabi dianggap lebih banyak bergelut dengan karya-karya filsuf Yunani semisal Plotinus dan Aristoteles lewat terjemahan dan para penekun filsafat periode awal itu hanya sekedar memberikan catatn kaki atau komentar atas karya-karya filsuf Yunani ketimbang merintis filsafat Islam tersendiri.[14] Pemilihan istilah Arabic philosophy dengan dua alasan dibelakangnya menurut Nasr adalah khas pandangan Eurosentris yang fokus pada kajian filologis dan kebahasaan dan menganggap filsafat Islam sebagai barang antik dan mati yang seoalah tidak ada kaitannya dengan konteks sosio-kultural di mana ia lahir.[15] Pandangan ini selain rancu, juga mereduksi filsafat Islam sebagai produk berfikir suatu masayarakat dan peradaban—dalam hal ini Muslim—yang dinamis dan senantiasa hidup dari dahulu hingga kini.

Kedua, dari sisi sumber rujukan filsafat Islam. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa penamaan filsafat Arab mengandung asumsi bahwa sumber utama filsafat Islama dalah terjemahan teks-teks filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab. Artinya, bagi Majid Fakhry atau pun para orientalis, tidak ada yang baru dari filsafat Islam karena seluruhnya berasal dari Yunani mulai sistem ontologi, epistemologi, psikologi, hingga kosmologinya.[16] Argumen ini jelas rancu dan ahistoris. Ini karena, perbincangan rasional dan filosofis tentang kemahakuasaan dan keadilan Tuhan serta kaitannya dengan kebebasan dan tanggung jawab manusia telah dilakukan oleh kaum muslimin sejak abad pertama hijriah.[17] Apa yang disebut sebagai ilmu kalam, di mana di dalamnya muncul kelompok-kelompok semacam Khawârij, Syîah, dan Mu’tazilah yang melontarkan argumen-argumen rasional untuk menopang pendapat masing-masing, selain merujuk ayat-ayat suci Al-Qur’an, berperan besar dalam mendorong perkembangan pemikiran filsafat Islam.[18] Perdebatan kalam berkembang di abad-abad selanjutnya antara berbagai aliran pemikiran, tidak hanya melulu persoalan kebebasan manusia, dosa besar dan sifat Tuhan, namun merambah ke persoalan kedudukan logika, masalah atom, ruang hampa, masa, dan yang tak terhingga dalam hubungannya dengan kewujudan Tuhan, serta keazalian dan keabadian alam semesta.[19] Uraian ini menegaskan bahwa filsafat Islam tidak bermula dengan al-Kindi dan berhenti dengan kematian Ibnu Rusyd dan filsafat Islam tidak bersal dari Yunani, tapi berasal dari tradisi Islam sendiri, yaitu dari upaya para ilmuwan Muslim untuk menjelaskan ajaran kitab sucinya.

Ketiga, dari sisi konten atau tema-tema yang diperbincangkan dalam filsafat Islam. Konsekuensi logis dari kajian Majid Fakhry atas asal-usul filsafat Islam yang menyimpulkan bahwa filsafat Yunani merupakan sumber dan asal-usul filsafat Islam adalah konten atau tema-tema yang diperbincangkan dalam filsafat Islam tidak lebih luas atau mirip dengan tema-tema filsafat Yunani. Tema-tema tersebut misalnya, logika, sepuluh kategori dan empat sebab Aristoteles, klasifikasi ilmu, jumlah fakultas jiwa, alam ide dan arketype-arketype, tentang penyebab pertama (Causa Prima), serta perbincangan tentang eksistensi dan esensi.[20] Asumsi Fakhry ini jelas bermasalah. Meskipun ada kemiripan tema yang dibahas dalam filsfat Islam dengan filsafat Yunani, tidak mesti filsafat Islam sama dan atau menjiplak filsafat Yunani. Ada tafsiran-tafsiran baru dari segi isi pembicaraan dalam tema-tema itu. Utamanya ini berkaitan dengan worldview filsuf Muslim yang menempatkan Tuhan sebagai konsep sentral dalam mengkaji persoalan-persoalan filosofis. Selanjutnya, ada problem-problem baru yang dalam pembahasannya tidak ada dalam filsafat Yunani, seperti realitas fundamental eksistensi (ashalah al-wujud), kesatuan eksistensi (wahdah al-wujud), herarki eksistensi, tentang kenabian, tentang malaikat, eksistensi mental, kriteria kebutuhan akibat kepada sebab, eksistensis sebagai cahaya murni dalam filsafat Iluminasi dan seterusnya. Adanya hal berbeda dalam persoalan isi dan penafsiran atas problem-problem yang mirip dan munculnya persoalan baru dalam filsafat Islam, menunjukan bahwa filsafat Islam bukan menjiplak dari Yunani, tetapi ada proses adopsi, adapsi dan Islamisasi.

Baca juga : Analogi Keilmuan dalam Islam

Kesimpulan

Berbeda dengan framework sekular para orientalis, dalam tradisi intelektual Islam—utamanya mengacu pada worldview Islam—tidak ada keterpisahan antara doktrin dan pemikiran rasional atas doktrin itu. Keduanya sama-sama Islami, sepanjang ia tetap berada pada jalur-jalur utama pemikiran Islam, yakni merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah serta penafsiran otoritatif para ulama Islam. Dari prespektif tradisi intelektual Islam, pemikiran rasional dan filosofis tidak muncul setelah Islam bersinggungan dengan budaya Yunani, namun telah ada dan mapan sejak zaman Nabi dan para sahabat. Pemikiran rasional dan filosofis di sini dimaksudkan bahwa dalam ajaran Islam, utamanya merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, ada banyak sisi-sisi yang rasional dan filosofis, misalnya, anjuran Al-Qur’an untuk merenungi penciptaan alam, kejadian manusia, fenomena biologis dan sejenisnya, yang dengan itu seorang Muslim akan mengenal Tuhan. Dari zaman Nabi dan para sahabat, tradisi merenungi fenomena alam ini dilanjutkan oleh generasi setelahnya, utamanya para mutakalimun. Perdebatan perihal kemakhlukan Al-Qur’an, kehendak bebas manusia, dzat dan sifat Tuhan tumbuh subur dalam masyarakat Islam.[21] Oleh karenanya, Seyyed Hossein Nasr[22] menyatakan, filsafat Islam disebut Islam, bukan hanya karena dibudidayakan di Dunia Islam dan dilakukan oleh kaum Muslim, melainkan juga karena menjabarkan prinsip-prinsip dan menimba inspirasi dari sumber-sumber wahyu Islam, serta banyak menangani masalah dengan sumber-sumber itu.

[1] Richard C. Taylor and Luis Xavier López-Farjeat, “Introduction”, dalam The Routledge Companion to Islamic Philosophy, Edited by Richard C. Taylor and Luis Xavier López-Farjeat, (New York: Routledge, 2016) hlm. 1.

[2] Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979) hlm. 49.

[3] Peter Adamson and Richard C. Taylor, “Introduction”, dalam The Cambridge Companion to Arabic Philosophy, Edited by Peter Adamson and Richard C. Taylor, (Cambridge: Cambridge University Press, 2005) hlm.1.

[4] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. ix, x, xvii, 282, 374,

[5] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. 393-394.

[6] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. 187

[7] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. xviii.

[8] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. xxi.

[9] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. xvii.

[10] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. xxi-xxii.

[11] Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, hlm. xvii.

[12] Framework adalah suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas sesuatu. Lihat https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/framework di akses 16/01/20

[13] Syamsuddin Arif, “Filsafat Islam antara Tradisi dan Kontroversi”, dalam Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam, Vol. 10, No. 1, Mei 2014., hlm. 7.

[14] Syamsuddin Arif, “Filsafat Islam antara Tradisi dan Kontroversi”, hlm. 8.

[15] Seyyed Hossein Nasr, “Introduction”, dalam Seyyed Hossein Nasr and Oliver Leaman, (Ed.), History of Islamic Philosophy, hlm. 43-45.

[16] Syamsuddin Arif, “Filsafat Islam antara Tradisi dan Kontroversi”, hlm. 11.

[17] Khalid Blankinship, “The Early Creed”, dalam The Cambridge Companion to Classical Islamic Theology, Edited by Tim Winter, (Cambridge: Cambridge University Press, 2008) hlm. 39-52; bandingkan dengan Alexander Treiger, “Origins of Kalām”, dalam The Oxford Handbook of Islamic Theology, Edited by Sabine Schmidtke, (Oxford: Oxford University Press, 2016) hlm. 2-28.

[18] Khalid Blankinship, “The Early Creed”, hlm. 36; baca juga Alexander Treiger, “Origins of Kalām”, hlm. 13.

[19] Uraian lebih lanjut tentang persoalan ini, lihat Alnoor Dhanani, The Physical Theory of Kalâm: Atoms, Space, and Void in Basrian Mu’tazilî Cosmology, (Leiden: Brill, 1994).

[20] Lihat Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, Bab 1: The Legacy of Greece, Alexandria, and the Orient.

[21] Harry Austryn Wolfson, The Philosophy of the Kalam, (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1976) hlm. 3-6.

[22] “…Islamic philosophy is Islamic not only by virtue of the fact that it was cultivated in the Islamic world and by Muslims but because it derives its principles, inspiration and many of the questions with which it has been concerned from the sources of Islamic revelation..”  lihat Seyyed Hossein Nasr, “The Qur’ān and Hadīth as source and inspiration of Islamic philosophy”, dalam Seyyed Hossein Nasr and Oliver Leaman, (Ed.), History of Islamic Philosophy, Vol. 1, (London: Routledge, 1996) hlm. 68.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.