pku.unida.gontor.ac.id Pada hari Kamis 19 November 2020 Program Kaderisasi Ulama (PKU) UNIDA Gontor angkatang ke-14 mengadakan seminar pemikiran dan peradaban Islam bekerjasama dengan Pesantren Mahasiswi Asma Amanina Yogyakarta. Acara ini dimulai pada pukul 20.07 dan berakhir pada 22.45 WIB. Adapun peserta yang mengikuti acara ini sebanyak 155 orang.

Sebelum masuk kedalam inti acara ada kata sambutan yang di sampaikan oleh al-Ustadz Deden A. herdiansyah M.Hum selaku pimpinan pesantren mahasiswi Asma Amanina. Dalam sambutannya ia mengutarakan rasa terimakasinya kepada  UNIDA Gontor karna telah dipercaya untuk bekerjasama dalam mengadakan acara Webinar. Harapannya Semoga Allah memberkahi dan meridhai kegiatan ini. Semoga seluruh ikhtiar yang diusahakan dalam penyelenggaraan acara ini mampu menghadirkan kesadaran bagi umat dan diridhai Allah SWT. Lebih lanjut beliau berdoa dan berharap agar unida mampu menjadi pelopor dari kebangkitan Umat. kemudian ia berharap agar PKU ini tetap istiqamah dalam melahirkam kader-kader umat.

Sambutan selanjutnya di sampaikan oleh pembimbing PKU UNIDA Gontor al-Ustadz Abdullah muslich Rizal Maulana M.A. Dalam sambutannya beliau memperkenallkan apa dan bagaimana Program Kaderisasi Ulama (PKU) dan  menyampaika rasa terimakasihnya kepada Pesantren mahasiswi Asma Amanina dan memohon maaf jika pada penyelenggaraan acara ini terdapat beberapa kekurangan.

Selanjutnya mulai masuk pada inti seminar yakni penyampaian ide-ide. Pertama, disampaikan oleh M. Alif Rahmadi dengan judul Urgensi Tauhid untuk Kesehatan mental. Ia menyampaikan bahwa ada kesalahpahaman masyarakat modern terutama masyarakat Barat terhadap kesehatan mental. Barat hanya melihat sesuatu dari apa-apa yang nampak secara empiris dan menafikan selainnya. Padahal pada hakikatnya dalam dunia ini terutama dalam Agama Islam dijelaskan bahwa ada beberpa hal diluar yang nampak ini. Semisal antara jiwa dan raga.

Kedua, Ramadhani Tarigan, dengan judul Problematika Umat Islam Kontemporer menurut Fazlur Rahman: Telaah Kritis. Disini ia mencoba menjelaskan mengenai Pandanagn Fazlur Rahman mengenai penafsiran al-Qur`an, ia menawarkan metodologi baru dalam penafsiran yaitu doble movement. Pandangan Rahman ini dibantah dengan pamikiran Prof. al-Attas. dan Ketiga, Amir Sahidin, mengenai Telaah Maqasid Syariah Penalaran Tekstual dan Kontekstual. Ia menjelaskan mengenai pemahaman beberapa tokoh yang keliru dalam memahami maqosid baik secara tekstual maupun kontekstual

ketiga,Amir Sahidin. beliau mempunyai judul yaitu ”telaah maqoshid syariah penalaran tekstual dan kontekstual”

Acara seminar pada malam ini berjalan dengan lancar. Para peserta online sangat atusias dalam mengikuti acara. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan yang hadir ketika sesi tanya jawab dibuka. Namun karna keterbatasan waktu yang ada panitia hanya memilih sembilan pertanyaan saja yang kemudian dijawab oleh ketiga pemateri. Berikut beberapa pertanyaan yang diberikan:

Pertama, Eko id aman_SKM_Presenter kepada ustadz Amir Sahidin. Ia bertanya mengenai jual beli saham, apakah itu sama halnya dengan menimbun barang dan menjualnya ketika harganya sudah mahal, atau memang saham itu berbeda dng hal itu dan dihalalkan?. Al-Ustadz Amir megataakan keridaktahuannya menegnai permaslahan ini.

Kedua, Allfian Cahya Dwi Pamungkas_UNY_Presenter kepada ustadz Amir Sahidin._ia bertanya bagaimana jika kita melakukan transaksi di suatu bank, dan ternyata kita mendapat bunga. Apakah bunga tersebut termasuk riba ? Jika iya, bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut?. Beliau menjawab bahwa

Ketiga, Muarifa dari UMY pertanyaan ini ditunjukan kepada Ust Amir. Ia bertanya mengenai bagaiamana sikap kita dalam memandang penyamaan hukum antara uang kertas dan Emas, apakah bisa disamakan? Pembicara Saya memahami mengapa pembicara menyamakan hukum uang kertas dengan koin atau emas sebagai alat tukar, sehingga hukum riba dan zakat harusnya sama. Di sistem ekonomi, nilai emas akan semakin meningkat, tapi nilai uang kertas akan semakin menurun pada setiap bulannya. Barangkali itulah mengapa ada yang tidak menyamakan uang kertas dan alat tukar emas. Belia menjawab bahwa sebenarnya dalam hal ini ada dua pendapat para ulama. Ada yang mengatakan bahwa hal ini tidak dapat diasamanakan namun ada juga yang mengatakan bahwa hal diatas dapat disamakan. Salah satu pendapat yang mengatakan bahwa uang kertas itu sama dengan uang emas maupun perak adalah pendapat ulama Wahbah Zuhaili.

Dan kemudian setelah Tanya jawab acara kembali diserahkan kepada pembawa acara, dilanjutkan dengan Epilog lalu diakhir melakukan foto bersama dengan cara screenshot

 

Rep: Risma Husnayain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.