pku.unida.gontor.ac.id-Pada hari selasa (17/12) Program Kaderisasi Ulama’ (PKU) Universitas Darussalam Gontor angkatan XIII mengadakan seminar Pemikiran dan Peradaban Islam di Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA), Bekasi. Acara yang  bertempat di gedung fakultas Ekonomi dan Bisnis UIA ini dihadiri oleh 3o peserta, 4 orang dosen UIA, 3 orang dosen UNIDA, dan seluruh peserta PKU Gontor yang berjumlah 27 orang.

Dr. Khairan Muhammad Arief M.A, M. Ed selaku Dekan Fakultas Agama Islam UIA, didalam sambutannya beliau mengutip pernyataan Ibnu Khaldun dalam menekankan perbedaan antara Budaya dan Peradaban. “Menurut Ibnu Khaldun, budaya itu adalah segala bentuk orientasi, pemikiran, dan perlakuan yang hanya fokus kepada yang dzahir atau fisik dan materi. Sedangkan peradaban tidak hanya terfokus pada yang fisik, tetapi juga metafisik. Maka peradaban itu bersifat universal dan nilai nilainya tetap, tidak berubah sesuai perkembangan aman dan waktu,”tutur Dr. Khairan.

Dalam penyampaian prolog, Dr. Nur Hadi Ihsan selaku pembimbing PKU XIII memperkenalkan visi, misi serta kegiatan-kegiatan (PKU) UNIDA Gontor yang hanya berlangsung selama 6 Bulan, sekaligus mengundang para peserta untuk dalam program tersebut diangkatan mendatang.

Pada kesempatan kali ini yang bertugas sebagai Moderator adalah Fajrin Dzul Fadhli, dan selaku presenter adalah Ahmad Tauhid Mafaza (Konsep Ghoibah Imam Mahdi Syiah Imamiyah), Cep Gilang Fikri As-Syhufi (Studi Kritis Metodelogi Husein Muhammad dalam Ayat-ayat Relasi Gender), Ahmad Said Arwani (Problem Term Radikalisme: Stigmatisasi Agama Islam)

Ahmad Tauhid Mafaza dalam presentasinya mengatakan bahwa konsep Ghaibah dalam Syiah Imamiyah bertentangan dengan Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Dalam kesimpulan, ia menyatakan bahwa konsep ghoibah tersebut ditujukan untuk mengakal-akali atau mengelabui konsep 12 Imam dimana imam yang ke-12 tidak diketahui keberadaannya.

Sedangkan Cep Gilang dalam presentasinya mengatakan bahwa metode yang diterapkan Husein Muhammad dalam menafsirkan ayat gender bertentangan dengan penafsiran para ulama terdahulu. Menurutnya, Husein muhammad menerapkan 4 metode yaitu: Maqosid Syariah (ayat-ayat keadilan dalam al-Quran), Sosio-Historis (latar belakang atau sebab turunya ayat), Kausalitas (disesuaikan perkembangan zaman), Pemaknaan Bahasa yang dapa selalu berubah. Dalam Kesimpulan ia mengatakan bahwa tafsiran Husein Muhammad terjebak dengan framework Feminis yang bertentangan dengan Ulumul Qur’an.
Kemudian Ahmad Said Arwani dalam presentasinya, ia mengatakan bahwa term Radikalisme dewasa ini hanya dimaknai kepada hal yang negatif dan ditujukan kepada Agama Islam saja, padahal dalam agama lain dan budaya lain juga menerapkan term tersebut dan maknanya pun tidak semuanya negatif. Dalam kesimpulan ia mengatakan bahwa term tersebut yang sekarang dimaknai negatif, ditujukan untuk menakut-nakuti muslim agar tidak beragama secara mendalam dan secara kaffah.

Dalam Pemnyampaian epilog kali ini disampaikan 2 kali. Pertama dari Dr Muhajir dari pihak UIA. Dan Ust Hasib Amrullah M. Ud. ‌Dr Muhajir menyatakan sekaligus menyetujui pernyataan Dr Nurhadi Ihsan, bahwa masalah Gender itu seharusnya tidak dibicarakan. Karena apabila dibicarakan yang terjadi adalah menyamakan antara lelaki dan wanita. Dan dalam sambutannya, Ust Hasib Amrullah mengatakan bahwa Tujuan-tujuan mulia yang dibawa oleh Rasul telah diganggu oleh Syaitan yang bersifat Tazyiin, Talbis dan Tahrif, yaitu membungkus sesuatu yang buruk dan nampak bagus atau sebaliknya, seperti term radikalisme tersebut. Sehingga banyak muslim yang tidak sampai pada tujuan tersebut.

 

Rep.
Ahmad Faizin Sholeh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.