Oleh : Arif Setya Basuki

Pendahuluan

Peran perempuan dalam sektor pembangunan adalah salah satu diskursus yang perkembangannya menarik untuk dilihat. Program-program pembangunan internasional seperti SDG’s yang berjalan sekarang, tidak lepas dari wacana-wacana perempuan.[1] Namun sayang, penekanannya adalah terhadap kesetaraan gender, sebuah paham yang bertentangan dengan Islam[2]. Hal itu yang kemudian diamini oleh pemerintah Indonesia[3], seperti contoh ndikator dalam Gambar 1.

Gambar 1. Contoh Tabel Pencapaian Indikator 5 SDG’s : Kesetaraan Gender
Sumber : Permen PPN/Bapennas RI No. 7 Taun 2018

Melihat hal di atas, artikel ini ingin menelusuri perkembangan awal munculnya diskursus perempuan dalam pembangunan. Tulisan akan fokus menjelaskan dua pendekatan awal yang menandai munculnya diskursus tersebut, dan pengaruh paham gender didalamnya. Dua pendekatan tersebut adalah women in development (WID) dan women and development (WAD). Berdasarkan usaha ini diharapkan dapat diketahui seperti apa paham gender semenjak awal mempengaruhi diskursus perempuan dalam pembangunan. Terakhir, akan diberikan sedikit catatan apa yang semestinya dilakukan oleh kalangan Muslim dalam merespon hal tersebut.

BACA JUGA: Wacana Feminisme di Ruang Publik: Mewaspadai Modus Operandi

Perempuan dan Pembangunan

Istilah “perempuan dalam pembangunan” pada awalnya diciptakan oleh jaringan profesional pengembangan perempuan yang berbasis di Washington pada awal 1970-an.[4] Mereka mempertanyakan teori-teori pembangunan sebelumnya yang mana pembangunan ekonomi memiliki dampak identik antara laki-laki dan perempuan.[5] Gerakan Women in Development (WID) memperoleh momentum pada tahun 1970-an, didorong oleh kebangkitan gerakan-gerakan perempuan di negara-negara maju, khususnya melalui para feminis liberal yang berjuang untuk persamaan hak dan kesempatan kerja di Amerika Serikat.[6]  Feminisme liberal menganggap perempuan dapat tidak merugi dengan menawarkan pendidikan yang lebih baik dan memperkenalkan equal opportunity programmes.[7] Feminisme liberal dengan begitu, memiliki peran penting pada perumusan pendekatan WID.

Pemikiran dominan dalam WID berusaha untuk menghubungkan isu-isu perempuan dengan pembangunan, dan bagaimana mereka menghambat pertumbuhan ekonomi. Pendekatan ini berawal dari pengalaman advokat WID yang melihat keadilan sosial bagi perempuan lebih efektif jika mereka secara strategis turut aktif dalam pembangunan mainstream. Gerakan ini adalah yang pertama mengintegrasikan perempuan dalam agenda pembangunan yang lebih luas, sekaligus menjadi pemantik bagi gerakan selanjutnya (WAD).

BACA JUGA: Syariah Perspektif Gender, Mungkinkah?

Pendekatan kedua adalah Women and Development (WAD), yang mulai diperkenalkan ke dalam gender studies pada paruh kedua tahun 1970-an. Asal-usulnya dapat ditelusuri ke Konferensi Dunia Pertama tentang Perempuan di Kota Meksiko pada tahun 1975 oleh PBB.[8] Pendekatan ini merupakan kelanjutan dari teori yang sebelumnya dominan (WID), dan sering disalahartikan sebagai WID, tetapi memiliki banyak karakteristik berbeda.[9]

Tawaran baru lain dari WAD adalah proyek pembangunan “women-only”, yang secara teori ingin mengeluarkan perempuan dari sistem patriarki yang ada. Jika itu tidak dilakukan dan perempuan tetap berpartisipasi dalam pembangunan konvensional, hegemoni akan bertahan. Hal ini menunjukkan WAD memiliki perbedaan kerangka teoretis dengan WID. Alih-alih secara khusus memerhatikan hubungan perempuan dengan pembangunan, WAD fokus pada hubungan patriarki dengan kapitalisme.

Teori WAD berupaya memahami isu-isu perempuan dari perspektif neo-marxisme dan teori dependensi, atau bisa juga disebut sebagai feminis sosialis atau feminis marxis.[10] Pendekatan WAD menekankan sifat pengetahuan, pekerjaan, dan tanggung jawab perempuan yang khas, serta mengadvokasi pengakuan atas kekhasan mereka. Fakta ini, dikombinasikan dengan kecenderungan yang mengakui adanya dominasi patriarki dalam agen-agen pembangunan, adalah akar dari program “women-only” yang diperkenalkan oleh pengikut WAD.[11]

Penutup

Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa wacana gender mewarnai berbagai macam pendekatan dalam melihat peran perempuan dalam pembangunan. Pendekatan pertama, Women in Development, cenderung diwarnai oleh feminisme berideologi liberal. Pendekatan kedua (WAD) cenderung bercorak feminisme sosialis/marxis.

Memang dalam melihat peran perempuan dalam pembangunan, melibatkan berbagai ideologi yang berbeda seperti marxisme dan neoliberalisme[12]. Namun dengan perbedaan ideologi atau pendekatan yang ada, terdapat kesamaan di antara mereka. Persamaannya adalah, adanya konsep i) pembangunan sebagai penentu perubahan sosial, ii) perempuan yang idealnya masuk ke seluruh lini kehidupan, khususnya ruang publik atau pembangunan, dan iii) gender sebagai alat analisis dalam menjawab tantangan tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, maka memang perlu dilakukan upaya yang  sistematis dari muslim untuk merespon tantangan diskursus perempuan dan pembangunan. Secara akademis perlu dilakukan penelaahan lebih lanjut terhadap tiga konsep (pembangunan, perempuan, gender) yang sudah di sebutkan di atas dari perspektif Islam. Pengkajian lebih lanjut dari perspektif Islam penting agar ketika berhadapan dengan permasalahan konseptual di lapangan, muslimin sudah memiliki dasar yang kuat. Tanpa melakukan tersebut, maka usaha untuk dapat mewujudkan pembangunan dan kebahagiaan sejati perempuan sejatinya hanyalah sia-sia.[]

Referensi:
[1] Menurut PBB, Sustainable Development Goals (SDG’s) adalah seperangkat tujuan (17) dan target (169) yang ditujukan untuk menggapai apa yang belum diselesaikan oleh Millenium Development Goals (MDG’s). Mereka mengatakan ini adalah usaha untuk mewujudkan HAM bagi semua dan mencapai kesetaraan gender serta pemberdayaan wanita dan anak-anak perempuan. Lebih jauh lagi lihat United Nations, Transforming Our World : the 2030 Agenda for Sustainable Development, (diambil dari https://sustainabledevelopment.un.org/content/documents/21252030%20Agenda%20for%20Sustainable%20Development%20web.pdf, 2019)

[2] Lebih lanjut silahkan rujuk Mohammad Muslih, Bangunan Wacana Gender, (Ponorogo : CIOS, 2015), hal 37
[3] Secara resmi pada tahun 2017 pemerintah RI telah menyepakati penyelarasan rencana pembangunan nasional Indonesia dengan SDG’s. Lebih lanjut lihat Perpres RI No. 59 Tahun 2017, tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
[4] Irene Tinker, Persistent Inequalities: Women and World Development, (London : Oxford University Press, 1990). Hal 30.
[5] Shahrashoub Razavi & Carol Miller, From WID to GAD: Conceptual shifts in the Women and Development Discourse, (UN Research Institute Occasional Paper Series. UN Research Institute for Social Development) Hal 1-2
[6] Ibid
[7] Robert Connell (1987). Gender and power: society, the person, and sexual politics. Stanford University Press.
[8] First World Conference on Women, Mexico 1975″. www.un.org.
[9] Gender, development, and globalization : economics as if all people mattered.
[10] Barriteau, Eudine; Connelly, Patricia; Parpart, Jane L (2000). Theoretical perspectives on gender and development. Ottawa: International Development Research Centre (IDRC)
[11] Bertrand, Tietcheu (2006). “Being Women and Men in Africa Today: Approaching Gender Roles in Changing African Societies”.
[12] Beneria, Lourdes; Berik, Gunseli; Floro, Maria S (2016). Gender, Development, and Globalization:Economics as if All People Mattered. New York: Routledge. p. 95

Penulis adalah peserta program kaderisasi ulama (PKU XIII) Unida Gontor
Ed. admin pku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.