Brilliant Akmal Firdaus/ Peserta PKU Angkatan 16

Hegemoni budaya Barat pada era modern kini tampaknya sulit dibendung kehadirannya. Pengaruh dan dampak kerusakannya pun dapat ditemukan di hampir semua aspek kehidupan. Tak mudah melepaskan dari hegemoni Barat.[1] Bagi dunia Islam, yang paling berbahaya adalah hegemoni dalam bidang keagamaan dan pemikiran. [2]Artinya, westernisasi yang berupa sekularisasi dan liberalisasi sudah merambah sampai ke institusi keagamaan dan pendidikan. Hal tersebut memiliki konsekuensi mengubah framework, metodologi dan mindset sesuai dengan ilmu-ilmu humaniora Barat. Akhirnya, tanpa terasa agamawan serta cendekiawan Muslim itu berfikir dengan pendekatan humanistis, liberalistis, dekonstruksionis dan bahkan relativistis. Inilah hal berbahaya yang dapat merubah worldview umat Islam secara sistematis. Jika diadopsi dalam Islam maka akan memberikan keraguan terhadap kebenaran yang absolut. Terlebih, tantangan yang kini sangat gencar disebarkan melalui berbagai media komunikasi dan pendidikan itu. Dominannya hegemoni ini bukan berarti tidak bisa ditolak. Akan tetapi inilah tantangan pemikiran global yang harus dihadapi dengan penanganan serius. Terutama dalam hal fundamental pendidikan sebagai institusi yang memiliki otoritas akan ilmu.

Daya Rusak Westernisasi Pada Konsep Manusia

Manusia merupakan makhluk sempurna yang diciptakan oleh Allah untuk bisa menjalankan tugas penciptaannya sebagai seorang ’abid dan khalifah fil ardl. Hal ini ditunjang dengan seperangkat ruh, jasad dan akal yang membuatnya mampu melakukan ikhtiar-ikhtiar dalam menjalani kehidupan serta melakukan persan spesifiknya di atas muka bumi. Hal ini tak lain merupakan suatu fitrah dari penciptaan setiap makhluk.

Dalam diri seorang Muslim, kita mengetahui akan adanya fitrah semula jadi yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Fitrah ini terdiri dari fitrah keimanan, fitrah belajar dan bernalar, fitrah bakat, fitrah seksualitas dan cinta, fitrah estetika dan bahasa, fitrah individualitas dan sosialitas, fitrah fisik dan kesehatan serta fitrah perkembangan. Kedelapan fitrah ini kini dirusak secara sistematis oleh westernisasi.

Baca Juga : Islam Sebagai Jawaban Problem Kesejahteraan Barat – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Fitrah keimanan menjadi kabur karena konsep desakralisasi agama serta institusi beragama. Sehingga seseorang akan selalu dijauhkan dari campurtangan agama dalam setiap aspek hidupnya. Hingga ia tak mengenal agamanya dengan baik. Fitrah belajar dan bernalar dirusak dengan nalar yang mengedepankan rasionalitas dan empirisitas serta  dijauhkan dari sumber yang berupa khobar shodiq yaitu nalar wahyu dan kenabian. Sehingga membuat semua yang pasti menjadi relatif. Hal ini sangat berbahaya dalam upaya pembentukan epistimologi ilmu dalam diri seseorang. Fitrah bakat menjadi buyar karena cara pandang yang bersifat materialistik. Bakat seseorang hanya dianggap baik ketika mampu menciptakan pundi-pundi uang pada zaman modern ini. Bakat tidak lagi diartikan sebagai sifat bawaan unik yang menghantarkan pada peran penciptaan, tetapi justru bakat harus dibentuk sesuai dengan peran-peran yang ada pada bidang pekerjaan modern. Fitrah seksualitas dan cinta dihancurkan secara terang-terangan melalui propaganda feminisme dan isu gender LGBT. Ditambah dengan banyaknya sisaran yang mempertontonkan aurat bahkan pornografi di berbagai media. Hal ini membuat seorang Muslim dapat kehilangan makna cinta, mempermudah zina, serta berubah orientasi seksualnya, atau sekurang-kurangnya bias terhadap nilai-nilai luhur dalam dunia pada gendernya. Fitrah estetika dan bahasa menjadi rendah dengan degradasi nilai seni serta bahasa yang dianggap kebebasan berekspresi pada masa postmodern ini. Fitrah individualitas dan sosialitas menjadi terhambat dengan perkembangan teknologi informasi serta komunikasi ala Barat yang sangat berorientasi pada kapital, sehingga menjadikan manusia sebagai objek pasar dunia maya (internet society)  dan membuat mereka terlepas dari komunitas pada dunia nyata. Fitrah fisik dan kesehatan pun mengalami dampak yang sama, sehingga lebih memilih menghabiskan waktu di depan layar gadget-nya daripada eraktifitas fisik. Serta terakhir, fitrah perkembangan yang terhambat akibat tidak jelasnya konsep anak-anak serta dewasa pada dunia Barat. Sehingga banyak sekali Muslim yang terlalu cepat aqil baligh akibat konsep remaja yang bias.

Pendidikan Islam Berbasis Akhlak

Dalam kamus umum bahasa Indonesia arti daripada pendidikan secara etimologi adalah “Perbuatan” dan “pemeliharaan”. Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Adapun definisi pendidikan secara terminologi menurut para ahli pakar pendidikan umumnya lebih mengarah kepada proses menjadikan manusia lebih dewasa atau mendewasakan manusia.

Dalam Islam, tujuan dari pendidikan adalah tujuan pedidikan Islam adalah mencapai kedekatan diri kepada Allah Swt, guna mencapai kebahagian dunia dan akhirat sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Al Ghozali [3]. Sementara menurut Ibnu Khaldun [4]bahwa tujuan pendidikan Islam itu mempunyai dua tujuan yaitu: Petama,Tujuan keagamaan, ialah beramal untuk akherat, sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan keatasnya. Kedua , Tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup.

Ada satu konsep yang dirumuskan oleh Al-Attas yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan dalam “diri manusia” sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan materiil dan spirituilnya. Di samping, tujuan pendidikan Islam yang menitik beratkan pada pembentukan aspek pribadi individu, juga mengharapkan pembentukan masyarakat yang ideal tidak terabaikan. Secara ideal, al-Attas menghendaki pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw.

Baca Juga : Kedudukan Imajinasi dalam Epistimologi Islam – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Al-Attas[5] menawarkan suatu konsep mengenai pendidikan yang berbasis adab dimana di dalamnya diajarkan berbagai nilai-nilai esensi dari adab itu sendiri. Pertama menekankan mengenai pentingnya adab diatas ilmu dan amal. Kemudian konsep dari manusia beradab serta relasinya dengan Tuhan dan alam semesta. Serta penekanan akan pentingnya implementasi metode ta’dib, tarbiyah dan ta’lim dalam suatu institusi pendidikan. Hal ini diharapkan akan mampu mendekatkan setiap manusia pada fitrahnya serta kelak akan dapat mengoptimalisasi peran serta tujuan penciptannya.

Pendidikan berbasis akhlak dan adab menjadi penting karena ia merupakan salah satu pilar utama kehidupan masyarakat sepanjang sejarah. Bangsa menjadi kokoh apabila ditopang dengan akhlak yang kokoh, dan sebaliknya, suatu bangsa akan runtuh ketika akhlaknya rusak. Hal ini juga berlaku pada umat Islam yang pernah mengalami masa kejayaan, dan salah satu faktor yang mendukung kejayaan Islam itu adalah akhlak mulia. Akhlak merupakan fondasi yang kokoh bagi terciptanya hubungan baik antara hamba dan Allah swt (hablun min allah), dan antar sesama (hablun min al-nas).

Dengan ini, pendidikan akhlak yang berlandaskan akidah dengan pegangan al Quran dan Sunnah harus menjadi perioritas utama. Hal ini merupakan solusi yang diberikan Islam dalam membentengi generasi-generasi penerus ummat dari polusi pemikiran Barat yang diusung oleh Missionaris, Orientalis dan Kolonialis, yang kian meluaskan hegemoninya bukan hanya pada dunia Islam, namun pada seluruh dunia.

[1] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, (Jakarta: gema insani, 2005), p: 20

[2] Peradaban Islam dan Barat – bahwa tantangan terberat yang dihadapi umat saat ini bukanlah tantangan Sebagaimana selalu ditegaskan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil seorang peneliti ekonomi dan politik, akan tetapi tantangan pemikiran keagamaan. Karena sejatinya, krisis politik dan ekonomi yang dilanda umat berembrio dari pemikiran dan worldview yang problematik. Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, Gerakan barsama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis, (Gontor: CIOS-ISID, 2008), p. 1.

[3] Fatihah Hasan Sulaiman, Mazahib al-Tarbiyah Bahts un Mazhab al-Tarbiyah Inda al-Ghazli, (Mesir. Maktabah Nahdiyah, 1964), p. 11

[4] Prof. Dr. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Kalam Mulia: Jakarta, 1998), p. 25-26

[5] Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, a Frame work for an philosopy of education, (Kuala Lumpur: internasional Institute of Islamic Thought civilization (ISTAC), 1993, p.33 atau lihat dalam syed M. Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, CELL, p. 39

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.