pku.unida.gontor.ac.id-Jumat (29/11/2019) Seminar Pemikiran dan peradaban Islam yang dilaksanakan di Hall Pascasarjana Unida Mantingan berlangsung dengan antusias tinggi dari para audien. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Kaderisasi Ulama’ (PKU) Unida Gontor ini berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB.

Seminar ini dihadiri oleh kurang lebih seratus peserta Mahasiswi Pascasarjana Unida Mantingan beserta rombongan dari PKU Unida Gontor. Acara dibuka dengan sambutan dan prolog dari Ustadz  Kali Akbar. Beliau menyampaikan māhiyah (urgensi) dari Program Kaderisasi Ulama kepada para Mahasiswi Pascasarjana Mantingan. Pada akhir sambutannya, Ustadz Kali Akbar menghimbau agar para mahasiswi Pascasarjana Mantingan bisa mengikuti program PKU ini di tahun depan.

Seminar ini diisi oleh tiga peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) angkatan XIII. Pemateri pertama, Arif Setya Basuki, mempresentasikan makalah berjudul “Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Depelopment): Konsep dan Kritik”.

Ia menyatakan bahwa konsep pembangunan Nasional Indonesia tidak pernah terlepas dari Barat yang materialistik dengan karakter yang selalu bertumbuh dan dikotomik-evolusioner. Pembangunan tersebut terus-menerus melahirkan berbagai permasalahan. Berbeda dengan Barat, Arif menyatakan pembanguan dalam Islam diukur dengan tujuan-tujuan syari’ah (maqāshid syarī’ah) yang membawa misi memulihkan kembali kepada fitrah (ishlah) untuk mewujudkan falāḥ dan sa’ādah.

Selanjutnya, presenter kedua, Esty Dyah Imaniar, menyampaikan makalah berjudul “Islamic Sustainable Fashion: Sebuah Tawaran Ekologi dan Ekonomi Islam untuk Industri Fashion Global”. Esty menyampaikan bahwa konsep fashion berkelanjutan (sustainable fashion) menimbulkan permasalahan baru karena berangkat dari pandangan dunia atas alam sebagai material untuk dikuasai manusia serta motif ekonomi yang bias.

Pemateri kedua ini menawarkan Islamic Sustainable Fashion untuk menyelesaikan masalah ekologi industrial. Di dalamnya, Maqāshid syarī’ah diimplementasikan demi demi mencapai kemaslahatan integral bagi manusia (people) dan alam (planet) tanpa melupakan capaian ekonomi (profit).

Pemateri ketiga, Muhammad Kholid, mengangkat judul “Muhammad Shaḥrūr dan Konsep Milk Al-Yamīn. (sebuah tinjauan Krtitis)”. Pada pembahasan ini, Kholid menyampaikan bahwa Shaḥrūr telah menghalalkan zina karena menginterpretasikan milk al-yamīn sebagai aqad iḥṣān  atau partner seksual di luar penikahan. Ia juga mengatakan bahwa turunan dari konsep milk al-yamīn Shaḥrūr seperti nikah mut’ah, musākanah (samen leven), ‘urfī, hibah, dan muḥallil yang telah disepakati keharamannya oleh jumhūr Ulama.

Seminar ini ditanggapi oleh audies dengan antusias. Sehingga dalam sesi tanya jawab, banyak penanya yang tidak terakomodir karena keterbatasan waktu. Kegiatan ini diakhiri dengan epilog dari salah salah seorang mentor PKU XIII Unida Gontor, Yongki Sutoyo S.T.

 

Rep:
Cap Gilang Fikri Ash-Shufi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.