pku.unida.gontor.ac.id-Senin malam (14/09), Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) Universitas Darussalam Gontor bersama dengan peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor kembali melaksanakan kajian mingguan yang bertempat di Aula Hotel UNIDA Gontor. Kajian ini merupakan rangkaian kegiatan yang mensuplemen mahasiswa dengan isu-isu yang terkait tantangan peradaban Islam dalam menghadapi pemikiran Barat.

Fokus kajian kali ini adalah “Problem Peradaban Barat”. Pembahasan pertama dibawakan oleh saudara Ahmad Faizin Sholeh dengan judul “Relativisme: Problem dan Implikasinya terhadap Sosial”. Dalam presentasinya, Peserta PKU yang akrab dengan panggilan Afsol ini menyatakan bahwa sejarah relativisme berakar pada pemikiran kaum Sofis di Athena yang mengingkari kebenaran mutlak. Pendapat itu mereka kuatkan dengan alasan bahwa “setiap orang itu memiliki kebenarannya masing-masing”. Faham inilah  yang akhirnya berdampak pada lahirnya bibit-bibit relativisme baru yang hari ini disebut dengan post-truth. Jika faham ini tidak mendapatkan perhatian serius, maka seorang individu, terutama netizen sebagai konsumen berat media sosial akan memperoleh informasi yang overload. Menerima dan menelan begitu saja berbagai macam informasi, tidak dipilah-pilah, dan tidak melakukan verifikasi hakikat kebenarannya. Akhirnya unsur objektivitas terabaikan, rasionalitas terkesampingkan, dan hoax merajalela.

Kajian ini berlanjut kepada pembahasan kedua, oleh saudara Ramadhani Sanjaya dengan judul “ Islamisasi Budaya Pop Kontemporer”. Dalam penyampainnya, saudara Rama memaparkan upaya pengoptimalan dakwah melalui budaya, medium yang menyentuh khalayak luas seperti yang pernah dilakukan para Walisongo.

Kajian diakhiri dengan epilog dari mentor pembimbing, al-Ustadz Ahmad Rizqi. Beliau menyatakan bahwa Dalam peradaban Barat pascamodern, membicarakan kebenaran berarti membicarakan kepalsuan; membicarakan moral berarti membicarakan amoral; dan membicarakan batas-batas berati membicarakan pembongkaran atas batas-batas itu sendiri. Sebab, postmodernism itu karakternya adalah dekonstruksi, menolak kebakuan, dan menjunjung tinggi subjektivitas. Nalar pascamodern dengan segala sifatnya itulah yang membentuk fenomena post-truth hari ini.

Diiringi dengan kemajuan teknologi informasi, post-truth membawa sindrom baru di tengah masyarakat: infobesitas. Ibarat seorang pengidap obesitas yang makan berlebih dan tidak bernutrisi, masyarakat kita terjangkit kebiasan menyerap informasi yang sangat banyak berseliweran di media sosial. Celakanya, informasi-informasi tersebut tidak memberi makna apa-apa bagi mereka. Padahal, informasi-informasi itulah yang menjadi dasar berpikir, berbicara, dan bertindak. Akibatnya bisa fatal, tataran sosial masyarakat kita bisa terancam.

Kemudian, terkait dengan islamisasi budaya populer, beliau menyampaikan bahwa gagasan ini perlu ditinjau dari semua aspeknya. Sebab, budaya populer itu sendiri lekat dengan kedangkalan. Perlu ada studi lebih serius mengenai hal ini agar tidak terjerumus pada upaya mendangkalkan Islam. “Jangan sampai mengislamkan budaya populer ini kemudian malah menjadi sebaliknya: mempopulerkan Islam.”

Budaya populer itu sendiri ada dan dimunculkan dalam rangka mengikuti nalar industri. Apabila Islam dipopulerkan, yang terjadi adalah komodifikasi agama. Sebagai contoh, tren hijab yang berkembang di masyarakat. Fenomena ini pada satu sisi menandakan adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam beragama. Namun, di sisi lain, hal tersebut justru  dijadikan kesempatan bagi pelaku industri untuk mengeksploitasi kesadaran masyarakat tersebut. Nah, di sinilah fokus yang harus dikaji. Jika tidak, agama yang seharusnya menjadi dasar dalam berpikir, berucap, dan bertindak, malah menjadi komoditas dalam rangka meraih keuntungan finansial, wa al-‘iyadzu billah.

Selain itu, budaya populer adalah budaya yang becirikan kesementaraan. Dahulu, masyarakat mengenal es kepal milo sebagai produk minuman yang dipopulerkan. Namun, tren hidangan tersebut tidak bertahan lama. Dan begitulah memang produk budaya populer: cepat trending dan cepat hilang. Dalam konteks ini, upaya islamisasi budaya pop harus benar-benar mendalam kajiannya. Sebab, kekeliruan dalam merumuskan teori ini berpotensi sebaliknya, mempopulerkan Islam. “Kita mewaspadai agar kajian keislaman tidak hanya menjadi tren sesaat.” Ujarnya. Waallahu’alam. []

Rep. Syekha Anintya Inayatusufi
Ed. Admin PKU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.