Oleh: Amir Sahidin/Peserta PKU Angkatan XIV

Toleransi dalam Islam atau bahasa Arab disebut al-Tasâmu yang berarti lembut dan bermudah-mudah. [Al-Fairuz Abadi, I/287]. Kata Tasâmuḥ diderivasi dari kata Samḥ yang berarti pemurah, mudah dalam menciptakan kehidupan yang harmonis dengan interaksi dari kedua belah pihak yang berbeda. [Muhammad Abdul Halim :74] Hanya saja, kalimat ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Kalimat ini bisa ditemui dalam hadist yang berbunyi, Innî Ursiltu bi Ḥanîfiyyah Samḥah, artinya: saya (Muhammad) diutus (Allah) dengan agama yang lurus dan penuh toleran. [HR. Ahmad)

Baca Juga: Mencari Kebahagiaan Hakiki: Tinjauan Ringkas Kitab Ki ̂miya ̂’ al-Sa’a ̂dah

Contoh toleransi dalam Islam juga tertulis dalam Al-Qur’an, surat al-Mumtahanan ayat 8-9. Dalam surat tersebut, Allah Ta’ala berfirman agar setiap Muslim berperilaku baik kepada umat beragama lain selama mereka tidak memerangai Islam dan tidak ada sangkut pautnya dalam agama. Hal ini juga menjelaskan bagaimana batasan toleransi dalam Islam. Oleh karenanya, dalam sejarah peradaban, Islam merupakan agama yang paling adil dan toleransi terhadapan sesama manusia. Peradaban Islam merupakan peradaban yang sangat indah dan sarat akan keadilan, akhlak mulia dan toleransi sesama manusia.

Misalnya, dalam sejarah Islam Rasulullah dahulu menaklukkan kota Makkah tanpa adanya peperangan, penjarahan dan pembalasan atas kezaliman yang pernah dilakukan oleh penduduk Makkah kepada beliau dan para sahabatnya. Kemudian, bagaimana toleransi Rasulullah terhadap orang-orang Yahudi di Madinah ketika Rasulullah memimpin kota tersebut. Beliau pun menulis satu konstitusi tertulis pertama dalam peradaban dunia yang disebut dengan “Mîtsâq Madînah” atau Piagam Madinah yang diperuntukkan kepada seluruh warga kota Madinah, baik muslim ataupun non-muslim, yang isinya menjamin keamanan, kemerdekaan beragama, mekanisme penyelesaian konflik, dan lain sebagainya. Kisah indah akan kita temukan pada lembaran-lembarah sirah beliau yang penuh pelajaran lagi hikmah.

PALESTINA DAN TOLERANSI ISLAM

Ketika Palestina ditaklukkan oleh Umar bin Khaththab terlihat jelas bagaimana akhlak dan toleransi beliau kepada penduduk Palestina. Setelah berhasil menaklukkan kota tersebut, Umar memberikan tolesansi yang luar biasa kepada pemeluk agama lain, baik Yahudi maupun Nasrani untuk tetap tinggal dan beribadah di Palestina dengan tenang tanpa gangguan. Bahkan, ketika Umar bin Khaththab berada di Baitul Maqdis beliau pernah bertanya kepada Ka’ab al-Akhbar tentang letak keberadaan Shakhrah. Ka’ab pun langsung memberitahukan letak batu istimewa itu. Umar bin Khaththab tidak mengetahui letak keberadaan Shakhrah dikarenakan batu istimewa itu telah tertimbun sampah dan kotoran orang-orang Nasrani. Bahkan, amat lazim bagi kaum perempuan Nasrani membuang pembalut mereka ketempat batu tersebut sampai mengenai mihrab Nabi Dawud. Umar lalu memerintahkan orang-orang yang berasal dari Yordania untuk membersihkan semua kotoran dan sampah yang menimbun Shakhrah. [Sami bin Abdullah al-Maqhluts, Atlas Agama Islam…, 129-130]

Sebaliknya, peradaban di luar Islam tidak memperhatikan akhlak, keadilan dan toleransi baik kepada sesama mereka sendiri dan terlebih terhadap selain mereka, misalnya, invasi Pasukan Salib terhadap Palestina pada tahun 492 H (1099 M) yang berujung kepada penguasaan dan pembantainan yang mencapai 70 ribu orang. Sampai-sampai aliran darah kaum muslimin berubah menjadi sungai di masjid al-Aqsha, lorong-lorong serta perempatan-perempatan. [Abdullah Nashih ‘Ulwan,:532-589: 44] Tidak hanya itu, mereka juga membuat kerusakan dimana-mana, merampok di sekitar Kubah Sakhrah empat puluh dua lampu yang terbuat dari perak. Setiap lampu, harganya mencapai tiga ribu enam ratus dirham; merampas satu lampu yang bobotnya empat puluh ritl Syam; dan dua puluh tiga lampu emas. [Ismail bin Umar bin Katsir, al-Bidâyah wa an-Nihâyah: 12/192]

Berbeda dengan penaklukkan Palestina kembali yang dilakukan oleh Shalahuddin al-Ayyubi, setelah penjajahan yang dilakukan oleh Pasukan Salib pada tahun 583 H (1187 M). Shalahuddin mengajarkan kepada seluruh manusia betapa agung dan sempurna agama Islam. Shalahuddin mengajarkan sikap teguh pendirian, berperikemanusiaan, berakhlak mulia dan bersikap toleransi yang benar. Ditambah dengan sikap beliau dalam mengagungkan situs-situs suci pemeluk agama di Baitul Maqdis (Palestina). Tidak heran jika Dr. Ash-Shalabi menukil pendapat Steven Resman, seorang sejarawan Eropa yang mengatakan, “Faktanya kaum muslimin yang menang, terkenal dengan teguh pendirian dan berperikemanusiaan. Sedangkan orang-orang Eropa, sejak 88 tahun, tercebur ke dalam darah korban mereka. Sekarang setiap daerah tidak lagi menjadi korban penjarahan, tidak seorang pun yang terkena musibah, karena para penjaga kota mengikuti langkah-langkah Shalahuddin al-Ayyubi untuk mencegah setiap perlakuan buruk kepada orang-orang kristiani.” [Ali Muhammad ash-Shalabi, Shalahuddin al-Ayyubi wa Wujuduhu…: 489]

Seorang penulis Kristen pernah mencatat bahwa, “Keberhasilan Shalahuddin sebagai cara Tuhan menghukum orang-orang kristiani karena dosa-dosa mereka. Berupa dosa perzinaan, pemborosan menjijikkan dan dosa-dosa terhadap alam yang menjadikan doa-doa mereka tidak sampai kepada Tuhan. Tuhan sangat murka kepada orang-orang kristiani, sehingga Dia mensyucikan kota Baitul Maqdis dari mereka.” [John Man, Shalahuddin al-Ayyubi; hlm. 250]

PALESTINA DALAM JAJAHAN YAHUDI

Sama halnya dengan sikap Pasukan Salib Nasrani, kaum Yahudi yang sekarang menjajah Palestina pun sangat intoleransi dan tidak berperi-kemanusiaan terhadap umat Islam dan selain mereka. Sebagaimana yang kita ketahui tentang pengusiran, pembantaian, dan kekejaman yang mereka lakukan kepada kaum muslimin di negeri tersebut (Palestina). Bahkan sikap-sikap buruk Yahudi ini telah diikrarkan dan dijadikan startegi jauh-jauh hari sebelum berhasil menjajah Palestina seperti saat ini. Z.A.Maulani dalam bukunya, “Zionisme: Gerakan Penaklukkan Dunia” mengatakan bahwa sikap angkuh dan tidak berperi-kamanusiaan kaum Yahudi dapat disimak dari penyataan-pernyataan para hachom (alim-ulama) dan rabbi (guru agama) serta para pemuka yahudi, di antanya, “Usir penduduk yang tak berduit sesenpun itu keluar perbatasan (Palestina) dengan cara menolak lapangan-kerja… Kedua proses, baik meniadakan mereka dari kepemilikan maupun pengusiran kaum melarat itu, harus dilakukan dengan cara sangat hati-hati dan dengan kewaspadaan” [Theodore Herzl, pendiri Organisasi Zionis Dunia, yang berbicara tentang bangsa Arab-Palestina, diangkat dari ‘Complete Diaries of Theodore Herzl’ entri tanggal 12 juni 1895]

Baca Juga: Mendamba Generasi Baru Sastrawan Muslim

“Kita harus melakukan segala upaya untuk menjamin agar mereka (pengungsi Arab-Palestina) tidak akan pernah kembali (ke Palestina)” [diangkat dari buku-harian perdana menteri Ben-Gurion, entri 18 Juli 1948, sebagaimana dikutip dalam Mechael Bin-Zohar, ‘Ben Gurion: The Armed Prophet’, Prentice-Hall, 1967, hlm. 157] “Kita harus menggunakan teror, pembunuhan, intimidasi, penyitaan tanah, dan pemutusan semua pelayanan sosial untuk membersihkan tanah Galilea dari penduduk Arab,” [Israel Koenig, ‘The Koening Memorandum’, 1978]

PENUTUP

Dari pemaparan di atas, terlihat jelas bagaimana toleransi umat Islam terhadap sesama manusia. Toleransi tersebut tidak hanya kepada kaum muslimin, tetapi juga terhadap orang-orang kafir, baik Yahudi maupun Nasrani. Bukti toleransi tersebut, salah satunya adalah dengan melihat dan membandingkan sejarah penaklukkan Palestina baik oleh umat Islam, Nasrani maupun Yahudi. Apapun nasihat dipenghujung tulisan ini, yaitu, mari senantiasa mendoakan saudara-saudara kita, kaum muslimin di Palestina dari kezaliman penjajah Zionis-Israel-Yahudi. Amin ya Rabb al-‘Alamin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.