Oleh: Akhmad Arifin
pku.unida.gontor.ac.id-Beberapa waktu lalu, salah seorang Hakim MK, Hidayat Arif,  mengeluarkan pernyataan kontroversial. Ia menyatakan sebuah celetukan, ‘Agama-agama yang berasal dari luar aja diterima, masak dari leluhur sendiri tidak diterima?’. Celetukan itu menanggapi maraknya protes disahkannya aliran kepercayaan sebagai salah satu agama yang dianut di Indonesia. Pernyataan tersebut, mendapatkan respon sangat positif di beberapa kalangan, misalnya, Sosiolog UI (Universitas Indonesia), Dr. Thamrin Tomagola, yang sangat menyukai kalimat yang dilontarkan oleh Hidayat Arif.[1] Pernyataan tersebut kemudian disebarkan oleh media Online partisan, seword, dan mendapat beragam tanggapan positif dari ‘like, ‘share’, maupun komentar.

Klaim Budaya Asli, Agama Leluhur, atau sejenisnya, mempunyai jejak rekam yang sangat panjang dalam sejarah Indonesia. Mereka pada umumnya menghadapkan entitas keislaman dengan entitas kebudayaan. ‘Pandangan hidup luar’ dihadapkan dengan ‘pandangan hidup domestik’ yang katanya orisinil. Jejak rekam tertua dapat dilihat pada pemikiran Raffles yang tertuang dalam History of Java, yang menyatakan bahwa Hindu merupakan budaya yang melandasi peradaban Jawa. Kemudian, beberapa etnolog Barat, seperti Van Valenhoeven, mempertentangkan antara hukum syariah, dengan hukum adat yang sudah hidup di tengah masyarakat. Kemudian kelompok misionaris Kristen sejak akhir abad 19 membenturkan keislaman di tengah penduduk dengan ‘agama asli’ yang dianut oleh sebagian besar masyarakat.[2] Di era selanjutnya, digunakan oleh kelompok sosialis (Komunis & Marhaenisme) untuk menunjukkan sikap bahwa mereka anti terhadap kepercayaan asing.[3] Jejak rekam pembenturan inilah yang menjadi salah satu alasan yang digunakan oleh Muh. Natsir untuk menulis sebuah surat terbuka kepada Ketua MPR pada tahun 1978.[4]

Baca juga : Pentingnya Islamisasi Pendidikan Sejarah

Dilihat dari ilmu antropologi, sebenarnya tidak ada sesuatu yang disebut dengan ‘asli’, karena kebudayaan senantiasa berubah. Menurut Muji Sutrisno dalam buku Teori-teori Kebudayaan, unsur dari kebudayaan yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri.[5] Sedangkan dalam ilmu antropologi (Etnologi), dinamika sebuah masyarakat selalu ditentukan oleh berbagai hal, yang berhubungan dengan perpindahan tempat dan persentuhan dengan budaya luar. Hal ini diperkuat dengan munculnya kebudayaan popular, sebuah kebudayaan yang muncul karena semakin derasnya persentuhan dengan budaya luar. Semakin banyak informasi yang diterima dengan keadaan luar teritori, semakin cepat sebuah kebudayaan berubah. Karena salah satu watak dasar dari manusia adalah melakukan imitasi atau peniruan.[6]

Dilihat secara logika, titik tolak untuk menentukan keaslian sebuah budaya merupakan hal yang absurd. Misalnya untuk menentukan ‘leluhur’ atau ‘keaslian’ kebudayaan Jawa, titik tolaknya berasal dari Mataram II, sebagaimana ciri-ciri kebudayaan Jawa yang sering diperlihatkan, seperti kebaya, blangkon, keris, batik, kereta garudha, dst. Atau, jika menilik titik tolaknya kepada kerajaan pra-Islam, maka hanya dijumpai sebuah ‘peradaban’ yang belum mengenal adanya pakaian, sistem kasta yang kaku, dan pengorbanan rakyat yang ditujukan untuk memenuhi selera kaum bangsawan.[7] Jika ‘titik tolak’ keaslian dari budaya, ditentukan pada masa pra Hindu-Budha, maka hanya dijumpai kehidupan manusia Jawa masih nomaden, tidak mengenal huruf, dan kehidupan primitif karena belum bersentuhan dengan budaya mana pun.[8] Karena, lintasan waktu budaya itu membentang sangat panjang sampai ribuan tahun, yang tidak memungkinkan mengambil satu titik dari lintasan sangat panjang ini sebagai bentuk ‘keaslian’.

Pada umumnya, titik pangkal budaya sebuah daerah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pakar antropologi fisik, adalah dengan mengurai asal usul pertama manusia, dengan menggunakan Teori Evolusi.[9] Pada kasus di Jawa, terkenal dengan penemuan nenek moyang Jawa yang ditemukan di daerah Sangiran (10 km di Utara Kota Surakarta), dengan nama Homo Soloensis. Tetapi, teori evolusi yang digunakan untuk menentukan ‘leluhur Jawa’ ini merupakan sebuah Theory in Crisis, sebuah penjelasan yang tidak pernah terbukti kebenarannya, tetapi dirasa ‘paling masuk akal’, daripada mengambil teori ‘penciptaan langsung’ (creation theory), yang tidak mungkin diterima oleh paradigma keilmuan sekuler.[10] Padahal penemuan tengkorak manusia purba di Sangiran sendiri, hanya berupa bagian kepala manusia, yang sudah hilang semua organ lunak (kulit, mata, telinga, dst) sehingga sulit untuk diperkirakan konstruk bentuknya yang asli.

Ketika Teori Evolusi dipertanyakan kebenarannya, perkembangan kontemporer diwarnai dengan  penemuan-penemuan yang memastikan bahwa seluruh umat manusia di dunia, berasal dari sepasang manusia, dengan melacak DNA yang dimiliki oleh semua manusia di dunia. Beberapa penemuan tersebut antara lain adalah Steve Olson, dalam buku best seller–nya, Mappinng Human History: Gen, Ras, dan Asal Usul Manusia,  yang memperkirakan pasangan itu hidup sekitar 150 ribu tahun yang lalu.[11] Selain Steve Olson, penelitian dengan hasil yang hampir serupa dilakukan oleh Mark Stoeckle dan David Tholer, yang mengungkapkan perbedaan ras milyaran manusia, berasal dari satu pasang.[12] Jika teori ini digunakan, maka sangat dimungkinkan untuk mengaitkan pasangan homo sapiens ini dengan Adam dan Hawa.

Tetapi penemuan-penemuan tentang manusia awal ini juga terdapat kelemahan, karena masih berpijak juga dengan paradigma evolusionis. Yaitu perubahan bentuk dari satu ras ke ras lainnya, karena dipengaruhi oleh faktor adaptasi terhadap lingkungan. Kelemahan ini dapat dilihat secara kasat mata, misalnya migrasi orang China dan Arab ke Indonesia dari ribuan tahun lalu, tidak tampak adanya perubahan. Karena hidung mancung, rambut keriting, mata lebar atau sipit, tidak mempunyai hubungan dengan kondisi alam. Orang Jawa masih memiliki tipe fisik yang sama sebagaimana yang tergambar di relief Candi Borobudur, sedangkan etnis keturunan China atau Arab, masih sama seperti ras di daerah asalnya.

Pernah suatu saat Rasulullah saw. ditanya tentang bagaimana asal mula perbedaan ras manusia, maka Rasulullah saw. menjawabnya:

Sungguh, Allah menciptakan Adam dari suatu genggaman yang Ia ambil dari seluruh bumi, lalu keturunan Adam muncul sepenuh bumi, di antaranya ada yang berkulit putih, merah, hitam dan campuran antara semua warna itu, ada yang berwatak lembut dan menurut, dan ada yang berwatak keras, juga ada yang wataknya campuran di antara keduanya, ada yang buruk dan ada yang baik, ada juga campuran di antara keduanya[13]

Baca juga : Problem Pembaruan Pemikiran Islam; Dari Modernisasi ke Sekularisasi

Hadits tersebut jika ditafsirkan secara bil ilmi, maka Adam memiliki ‘kelainan’ genetika yang tidak dimiliki oleh para keturunannya, yaitu mengandung beberapa penurunan sifat bermacam-macam, sehingga melahirkan variasi keturunan, dari hitam, putih, atau campuran. Sehingga, masing-masing ras memiliki satu pasang nenek moyang yang merupakan anak dari Nabi Adam. Penjelasan ‘agama’ ini jauh lebih masuk akal, dibandingkan penjelasan tentang asal-usul manusia dari para antropolog fisik.

Dalam Islam sendiri, hal yang gaib bukan hanya berbentuk makhluk bereksistensi (seperti setan, iblis, malaikat, dst). Hal yang gaib, punya cakupan makna yang sangat luas, yaitu meliputi segala sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia, termasuk sejarah masa lampau dari umat manusia itu sendiri. Dalam Islam, untuk urusan yang tidak diketahui (hal yang gaib), maka wajib mendahulukan wahyu dibandingkan spekulasi-spekulasi yang bersifat pseudo-science (seperti Teori Evolusi). Ilmu pengetahuan hanya bisa menjangkau hal-hal yang nampak. Dalam hal asal mula manusia, ilmu pengetahuan memang bisa membuktikan bahwa manusia berasal dari pasangan manusia, tetapi lewat wahyu, dapat diketahui nama pasangan tersebut (Adam dan Hawa) dan tujuan diciptakannya yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt.

Sehingga dengan wahyu, tidak saja diketahui asal usul keaslian manusia, tetapi juga diketahui hakikat atau keaslian dari tujuan diciptakan manusia itu sendiri. Keaslian manusia diasalkan dari Allah dengan manusia pertama Adam, dan para keturunan Adam diberikan syariat, agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah.[14] Sedangkan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. adalah syariat yang bersifat universal, bukan partikular. Jika teori-teori spekulasi, seperti teori evolusi, demokrasi, Trias Politica (termasuk MK masuk dalam bagan Trias Politica), Nation-State, dianut dan dijadikan landasan sistem bernegara, maka pertanyaan selanjutnya: kenapa prinsip universal yang berasal dari terciptanya langsung umat manusia, harus ditolak dengan tegas, sedangkan konsep dari Barat yang belum terbukti kebenarannya diterima dan dijalankan sepenuh hati?

Dari penjabaran di atas maka, yang disebut budaya asli, jika ditelisik secara mendalam, tidak ada. Jika yang dinamakan budaya asli adalah tentang asal-usul manusia itu sendiri, maka hanya bertemu pada Nabi Adam. Dan terciptanya Nabi Adam dan keturunannya, adalah untuk beribadah kepada Allah. dan untuk beribadah kepada Allah, diperlukan syariat, dan syariat terakhir dibawa oleh Nabi Muhammad saw.. Sifat syariat ini adalah universal, bahkan lebih universal dan tetap, daripada konsep-konsep yang dipercaya universal lainnya, seperti  ‘demokrasi’ , ‘HAM’ ataupun ‘Nation State’. Sebagai suatu konsep yang universal, maka tidak perlu dipertentangkan dengan aspek-aspek lokalitas.

[1] Sosiolog UI: Agama Impor Kita akui, Masa Agama Leluhur tidak? Sebagaimana yang termuat dalam Jawa Pos Online, https://www.jawapos.com/nasional/08/11/2017/sosiolog-ui-agama-impor-kita-akui-masa-agama-leluhur-tidak/  , diakses pada tanggal 13 September 2019

[2] Emanuel Garrith Singgih,  Berteologi Dalam Konteks, (Yogyakarta: Kanisius,  2013), hlm. 121-122

[3] Hal ini dapat dilihat dari catatan Cliffored Geertz tentang perkumpulan acara Permai, tentang pentingnya membuang agama-agama asing, terutama islam. Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa, (terj. Aswab Mahasn & Bur Basuanto, (Jakarta : Komunitas Bambu, 2014), hlm. 159

[4] Mas’oed Abidin, Gagasan Dan Gerak Dakwah Mohammad Natsir, (Yogyakarta: GrePublishing, 2016), hlm. 343

[5] Mudji Sutrisno & Hendar Putranto (Ed, Teor-teori Kebudayaan, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 7

[6] Koentjoroningrat, Pengantar Ilmu Anthropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 114

[7] Tanthra merupakan identik dengan upacaara ritual pada zaman raja Hindhu terdahulu, yang diisi dengan acara minum, pesta seksual, dan beragam bentuk lainnya, termasuk pengorbanan. Dan mencapai puncaknya pada masa Raja Adhityawarman (sebagaimana dilihat dari patung yang ada di museum Nasional, Jakarta).

[8] Menurut catatan Thomas Raffles, sebgaimana yang dinukil oleh Dennys Lombard, jumlah penduduk Jawa pada awal abad ke 19 sebanyak 4 juta orang, dan pada abad ke 16 hanya berjumlah 1-2 juta orang (Dennys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya 1: Batas Pembaratan, (Jakarta: Gramedia, 2008), hlm. 22)

[9] Hal ini juga dapat dilihat dari buku Guru Besar yang sering dijadikan rujukan dalam ilmu Anthropologi di Indonesia, yaitu karya Prof. Koentjoroningrat, Pengantar Ilmu Anthropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 49

[10] Bahkan dalam berbagai fakta sejarah keilmuan, teori evolusi dipenuhi oleh berbagai skandal penipuan, yang seharusnya menurunkan tingkat kepercayaan terhadap teori ini. Amin Setyo Leksono, Sejarah Kehidupan: Perspektif Evolusi dan Kreasi, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2012), hlm. 83

[11] Steve Olson, Mapping Human History: Gen, Ras, Dan Asal Usul Manusia, (Jakarta: Serambi, 2006), hlm. 44

[12] Reza Gunanda, Ilmuwan Temukan DNA Manusia Berasal dari Sejoli Adam dan Hawa,

https://www.suara.com/news/2018/11/26/160618/ilmuwan-temukan-dna-manusia-berasal-dari-sejoli-adam-dan-hawa, diakses pada tanggal 10 September 2019

[13] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Hadits yang berisi matan serupa, jua diriwayatkan oleh beberapa perawi hadits lainnya, seperti Abu Dawin, At Tirmidzi dan Ibn Hibban dalam masing-masing Shahihnya, dengan jalur periwayatan yang berbeda.

[14] Dalam beberapa ayat, mengindikasikan bahwa Allah mengirimkan rasul dan Nabi pada semua umat (Al Isra’ 15, Al Fathir: 24). Dan dalam suatu hadits dikatakan bahwa Allah mengirim 124 ribu Nabi yang disebarkan ke seluruh dunia, di sepanjang sejarah umat manusia, sebelum kedatangan Nabi Muhammad (HR Ahmad).

Penulis adalah peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) XIII
Ed. Rodhi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.