Oleh: Apriyanti Kartika Agustin (Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Angkatan XIV Tahun 2020)

 

Sastra masih memiliki ruang tersendiri untuk diterima di hati pembaca. Sudah banyak penyair yang menjadikan kandungan puisinya lebih bermakna. Hal tersebut terjadi ketika puisi tidak hanya berisi racauan atau omong kosong penulis, atau kesedihan yang begitu mendalam sehingga puisi hanya menjadi korban pelampiasan; melainkan berisi pesan-pesan yang bernilai kebaikan. Maka dari itu puisi akan selalu mendapat ruang tersendiri bagi pembaca, khususnya yang bertujuan mencari makna di balik kata-kata.

Baca Juga: Membangun Generasi Pejuang dengan Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Semua produk sastra pada dasarnya sarat akan nilai budaya. Sebagaimana Teeuw dalam Sastra dan Ilmu Sastra mengatakan bahwa, “Karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya”. Menurut Saliyo dalam jurnalnya yang berjudul Konsep Diri dalam Budaya Jawa menyebutkan, “Kebudayaan adalah segala hal yang dimiliki oleh manusia yang hanya diperoleh dengan belajar dan menggunakan akalnya. Manusia dapat berkomunikasi, berjalan, karena kemampuan dan nalurinya yang akhirnya terjadi secara alamiah.” Singkatnya, budaya adalah hasil produk akal dan belajar manusia. Sehingga oleh karena puisi bagian dari sastra, dapat disimpulkan bahwa menulis puisi yang berisi pesan-pesan kebaikan juga merupakan wujud dari kebudayaan.

Kemudian satu hal yang menarik, dalam Jurnal At-Tabsyir dijelaskan bahwa dalam kitab Wahyu al Qalam, Musthafa Shadiq al-Rafi’i (2000: 191), sastrawan pengibar panji sastra Islam ternama di Mesir, menulis perbedaan ilmuwan dan sastrawan. Menurutnya, ilmuwan menyampaikan pemikiran, sedangkan sastrawan adalah menyampaikan pemikiran disertai dengan keindahan gaya seninya. Jadi dalam hal ini sastrawan unggul satu langkah dari ilmuwan. Bisa juga dikatakan seorang sastrawan sudah pasti ilmuwan, tapi ilmuwan belum tentu sastrawan.

Sastra dalam Pandangan Kebudayaan Islam

Bagi seorang Muslim, sastra secara umum memiliki akar sejarah yang lekat dengan agama Islam. Al-Attas dalam Risalah Untuk Kaum Muslimin (2001: 124) menjelaskan bahwa Islam adalah ajaran yang melahirkan kebudayaan, bukan sebaliknya. Kehadiran sastra Islam bersamaan dengan turunnya Al-Qur’an. Akan yang tetapi perlu digarisbawahi, kehadiran Al-Qur’an adalah yang menjadi inspirasi utama bagi budaya umat manusia, bukan sebaliknya. Maka dari itu dalam bersastra Al-Qur’an akan terus menjadi sandaran dan rujukan.

Tradisi klasik Islam mengenal adanya ilmuwan (ulama) yang sastrawan dan sastrawan yang sekaligus ilmuwan. Nabi Muhammad SAW. memiliki banyak penyair, yang juga menjadi ulama. Seperti Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., yang puisi-puisinya bertebaran di banyak kitab Arab klasik. Lalu Aisyah r.a. juga banyak memiliki syair atau puisi dan kalimat-kalimatnya sangat bernilai sastra. Kemudian Ali bin Abi Thalib ra., yang tinggi nilai sastranya. Selanjutnya Imam al-Syafi’i, Imam Ibn al-Mubarak, Imam Ibn Hajar al- ‘Asqalani, dan para imam lainnya dari kalangan salaf adalah ulama atau yang juga sastrawan. Selain menyampaikan ajaran Islam dengan tulisan ilmiah, mereka juga menyampaikan dakwah Islam dengan media karya sastra, berupa syair-syair yang indah.

Salah satu media dakwah yang dikenal dalam ajaran Islam adalah dakwah bil qalam (dakwah dengan pena). Sehingga menurut Habiburrahman El Shirazy, ajaran Islam dengan bahasa sastra yang indah menjadi semacam sunnah atau tradisi di kalangan para ulama. Di Indonesia, para pendakwah Islam dari sejak Islam masuk pertama kali sampai sekarang tidak bisa lepas dari tradisi itu. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah sebagaimana Muhammad Quthb dalam bukunya “Manhaj al-Fann al-Islamiy” mengatakan bahwa:

“Dan masalah (kita), sangat memerlukan adanya orang-orang Muslim yang seniman. Orang-orang Muslim yang hidup dengan Islam dengan inderanya secara nyata. Yang menyikapi hidup dengan rasa Islami, dari sudut pandang yang Islami. Yang pada waktu yang sama, mereka juga seniman. Mereka mengekpresikan reliti hidup yang mereka rasakan dengan sentuhan keindahan, yang memenuhi segala standard keindahan estetika. Dua unsur : keislaman dan keindahan, menyatu dalam satu waktu.” (Quthb, 2006 : 181)

Baca Juga: Columbus Bukan Penemu Benua Amerika

Kekhawatiran tersebut tak lain sebagai pengingat bahwa puisi dalam rangka dakwah harus terus dibudayakan. Dari sejarah panjang perjalanan puisi, telah menjadi sarana yang cukup efektif dengan keindahan yang terkandung di dalamnya. Sehingga dalam hal ini jangan sampai kebudayaan itu menjadi hilang. Tak lain dengan cara senantiasa berupaya untuk menuangkan gagasan-gagasan keislaman dalam bentuk puisi.

Kesimpulan

Sastra jika ditinjau dalam ranah historis, tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan Islam. Makna kebudayaan yang berinti pada hasil produk akal dan belajar manusia, cukup menjelaskan bahwa puisi adalah salah satunya. Disebabkan oleh ilmu yang dimilikinya, sastrawan bisa dikatakan selangkah lebih unggul dari ilmuwan. Hal ini karena sastrawan bukan hanya dapat menghasilkan ilmu, tetapi menjadikannya indah untuk disajikan. Dalam hal ini penulisan karya sastra menjadi perlu untuk terus dibudayakan agar senantiasa hidup dalam peradaban.

Selanjutnya akan dilampirkan sebuah puisi yang penulis buat dengan judul Menuntun Peradaban yang sekaligus mengakhiri pembahasan:

MENUNTUN PERADABAN

 

Pada keramaian keluh di kepala kita

Pada segala bentuk tanda tanya: kita masih sedia

Menuntun peradaban dengan lentera kecil di genggaman

Perlahan memasuki belantara luas di hadapan

 

Pada mayat-mayat waktu yang bergelimpangan

Kita senantiasa berburu siang dan malan

Dengan kenyataan yang memaksa kita untuk bertahan

Meski lelah menjadi konsekuensi logis bagi perjuangan

 

Kita telah bertekad taklukan semusim sahara

Memangkas dahaga dan menyiramkannya pada semesta

Misi terbesar kita adalah memancarkan satu cahaya

Kepada umat manusia, benamkan segala gulita

 

(Ponorogo, 14 Juli 2020)

 

Daftar Pustaka

Habiburrahman El Shirazy, Berdakwah Dengan Puisi (Kajian Intertekstual Puisi-Puisi Religius Taufiq Ismail) dalam AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Volume 2, Nomor 1, Januari – Juni 2014.

Heru Subrata, Mengajarkan Budaya Melalui Puisi, pada Prosiding Seminar PGSD

Saliyo, Konsep Diri dalam Budaya Jawa, BULETIN PSIKOLOGI VOLUME 20, NO. 1-2, 2012: 26 – 35.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Damansara Heights: ISTAC, 2001).

Teeuw, A., Sastra dan Ilmu Sastra, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984).

Quthb, Muhammad, Manhaj al-Fann al-Islami, (Kairo: Dar al-Shuruq, 2006).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.