pku.unida.gontor.ac.id-Rabu malam (17/10) setelah magrib, salah satu peserta PKU angkatan XIII ditemani oleh staf ikut berpartisipasi dalam kegiatan rutin kelompok pengajian ibu-ibu di desa Brahu, Ponorogo. Acara ini memang diadakan secara terjadwal setiap malam kamis. Rentetan acaranya dimulai dari pembukaan, tahlilan, pembacaan surat Yasin bersama-sama, do’a, tausiyah, dilanjutkan dengan arisan, dan kemudian penutup.  Kehadiran peserta PKU XIII sebagai pengisi tausiyah ini adalah salah satu bentuk kerjasama antara kelompok pengajian ibu-ibu dengan UNIDA.

Rahmat Ardi Nur Rifa Da’i, yang bertugas mengisi kajian pada kesempatan kali ini menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan pemaknaan kembali konsep Islam, Iman dan Ihsan (tingkatan Agama Islam). Ia memulai tausiyahnya dengan kisah singkat Rasulullah yang menyebarkan Islam di Mekkah, “Setelah sekian tahun di Mekkah, beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian hijrah ke Yatsrib,” ujarnya.

Baca juga : Syi’ah Imamiyah; Konsep Ghaibah Imam (Studi Analisis Kritis)

Kemudian, ia menyingggung tingkatan agama Islam. Ketika Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersama para sahabatnya, malaikat Jibril yang menjelma menjadi seorang laki-laki asing datang. Lalu ia bertanya kepada sang Rasul tentang makna Islam, Iman dan Ihsan. Setelah selesai, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar bin Khattab (Khalifah ke dua setelah rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam) mengenai orang tak dikenal tersebut. Namun Umar bin Khattab menjawab bahwa ia tidak mengetahuinya, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, wahai Nabi.” Begitu jawab sang al-Faruq.

Setelah itu, Da’i menguraikan secara lugas makna Islam, Iman dan Ihsan berdasarkan kisah tersebut. Pertama, makna Islam adalah menegakkan rukunnya yang lima. “Lima rukun ini berkenaan dengan amalan-amalan lahiriyyah.” tegasnya. Kedua, Iman adalah berkenaan dengan pokok-pokok kepercayaan yang enam. “Artinya, rukun iman ini berkaitan dengan amalam-amalan batiniyyah,” lanjutnya. Dan ketiga, Ihsan adalah beribadah kepada Allah, seolah-olah kita melihat-Nya. Kalau kita tidak melihat-Nya, maka Allah pasti melihat kita.

Baca juga : MERUNTUHKAN KLAIM BUDAYA ASLI

Setelah memahami makna ketiga hal diatas, Rahmat Ardi Nur Rifa Da’i mengkaitkannya dengan muslim, mu’min dan muhsin. Setiap mu’min pasti muslim. Sebab, jika ia mu’min, beriman akan enam hal itu dan merealisasikannya hingga tertanam hatinya, pasti ia akan melaksanakan amal-amal islam(amalan lahir). Tetapi, belum tentu setiap muslim itu mu’min, bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya.

Di akhir tausiyahnya, ia memberikan kesimpulan bahwa status hamba dalam ajaran Islam itu  memiliki tingkatan-tingkatan. Di mana satu tingkatan lebih tinggi dengan tingkatan yang lain. Tingkatan pertama adalah Islam, lalu Iman dan yang terakhir Ihsan. Wallahu A’lam. []

 

Rep. Gunawan Andi Pranata
Ed. AdminPKU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.