Oleh: Ahmad Jilul Qur’ani Farid/Peserta PKU 14

“Mengapa misalnya dunia dan kehidupan ini selalu kacau saja, padahal agama sudah beribu-ribu tahun dipeluk manusia? Mengapa ketidakadilan dan kelaliman malah sekarang  makin merajalela saja?”

Dialog di atas merupakan kutipan dari sebuah novel kontroversial yang terbit pada tahun 1949 berjudul Atheis. Novel yang ditulis Achdiat Karta Mihardja – salah satu pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia – mengisahkan tentang pergolakan jiwa seorang pemuda Muslim yang taat bernama Hasan. Pertemuannya dengan Rusli, seorang Marxis yang tidak percaya kepada Tuhan dan agama menimbulkan gejolak dalam jiwa Hasan dan akhirnya mengubahnya dari seorang Muslim taat menjadi seorang Atheis. Novel Atheis, menjadi Novel pertama yang mengkritisi agama dan keimanan, ia menjadi pembuka jalan lahirnya karya sastra lain di masa depan yang mengkritisi agama, terutama Islam.

6 Tahun kemudian, pada tahun 1955 terbit kembali karya sastra fenomenal yang juga mengkritisi Islam berjudul Robohnya Surau Kami. Cerita pendek yang ditulis oleh Ali Akbar Navis atau yang akrab disapa AA Navis ini berkisah tentang seorang kakek penjaga surau yang setiap hari hanya mengisi hidup dengan beribadah. Suatu hari seorang bernama Ajo Sidi menemui kakek tersebut dan mengisahkan kisah seorang bernama Haji Soleh yang taat beribadah namun masuk neraka karena mengabaikan berbagai urusan dunia dan manusia lain. Mendengar kisah tentang Haji Soleh, kakek merasa seakan-akan jalan hidupnya selama ini adalah kesia-siaan. Sialnya, karena tak tahan atas sindiran itu, Kakek bunuh diri esok harinya.

Atas cerpen kritisnya terhadap para pelaku ibadah namun abai terhadap persoalan masyarakat dan urusan dunia, AA Navis dianggap menghina Islam dan mendapat panggilan Sang Pencemooh. Padahal dalam otobiografinya, Robohnya Surau Kami diakui Navis sebagai cerpen dengan visi keislaman. Ia merenungkannya dari realitas pemikiran masyarakat Islam di tanah kelahirannya, Minangkabau. Nadanya yang sinis sengaja ia munculkan untuk mewacanakan pembaruan. Bahkan beberapa dialog ia akui terinspirasi dari guyonan dalam ceramah Syaikh Ahmad Surkati, pendiri Al Irsyad Al Islamiyah.

Baca juga: Perempuan dalam Pembangunan

Novel Atheis dan Robohnya Surau Kami, sama-sama menuai gelombang protes yang besar dan keras dari umat Islam di masa itu. Padahal kalau ditelaah lebih dalam lagi, substansi kedua karya sastra tersebut amatlah berbeda. Dimana Atheis berusaha mendekonstruksi keimanan, sementara Robohnya Surau Kami berusaha mengoreksi keimanan yang salah kaprah dan abai terhadap urusan dunia. Jika ditelisik lebih jauh, boleh jadi di masa itu pemahaman kebudayaan dan literasi sastra masyarakat Muslim secara umum masih rendah. Sehingga memukul rata kritik tajam terhadap perilaku beragama, kendati tiap karya sastra punya maksud yang berbeda.

Selain itu, diantara para sastrawan dan budayawan, peran dan dominasi gagasan sastrawan Muslim juga belum signfikan. Ia bisa dilihat dari diskursus di kalangan Pujangga Baru pada tahun 1930an yang berusaha merumuskan arah kebudayaan Bangsa Indonesia. Menurut penuturan Ricklefs, di masa pujangga baru, ada dua perdebatan arah kebudayaan baru, Sutan Takdir Alisjahbana mengusulkan modernisasi menerima ide barat dan mengganti dengan nilai-nilai tradisional yang dianggap tidak relevan. Sementara Sanusi pane menolak mengadopsi Barat dan mengembalikan budaya Asia Pra-Islam. Namun tidak seorangpun secara serius mengusulkan Islam sebagai dasar dari kebudayaan baru, inilah masa di mana Islam mulai terkucil dari perkembangan politik dan budaya.

Meski kita tahu, ada nama-nama sastrawan muslim generasi awal seperti Amir Hamzah, A. Hasjmy, OR Mandank, dan Hamka. Namun dari semua nama tersebut hanya Hamka yang menulis Prosa dalam bentuk Novel sementara sisanya adalah para penyair yang menulis sajak. Hamka muda dalam satu tahun menulis dua roman berjudul di bawah Lindungan Ka’bah (1938) , Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (1938) yang fenomenal dan dibaca banyak orang hingga hari ini.

Tapi tahun-tahun berikutnya, setelah Hamka menerbitkan karya sastranya tak banyak sastrawan muslim lain yang dapat melampaui atau setara dengan Hamka. Bahkan tak muncul satu generasi sastrawan muslim di satu era. Kontras di sisi kiri ada satu generasi sastrawan kiri yang kemunculannya diupayakan dengan serius dan diorganisir dalam naungan LEKRA oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). LEKRA mengklaim memiliki puluhan ribu anggota di seluruh Indonesia. Nama-nama sastrawan Lekra cukup populer di masa itu seperti Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, Hersri Setiawan, Achdiat Karta Mihardja hingga sastrawati Sugiarti Siswandi atau dikenal dengan nama pena Damaira. Bahkan karya Pramoedya Ananta Toer hari ini masih populer, dibaca banyak orang hingga diangkat ke layar kaca.

Meski begitu, harus diakui sedikit diantara sastrawan muslim memang punya peran di masanya, seperti Taufiq Ismail yang pada tahun 1964 bersama sastrawan lainnya membentuk Manifes Kebudayaan (Manikebu) untuk melawan politik sastra dan kebudayaan ala Lekra yang semakin hari semakin destruktif. Dari Manikebu yang kemudian dilarang orde lama, muncul generasi sastrawan yang kemudian lazim disebut Angkatan ’66. Diantara nama yang populer yakni WS Rendra, Taufiq Ismail, AA Navis, Goenawan Mohamad, Umar Kayam, Ramadan KH, NH Dini, Sapardi Djoko Darmono dengan gaya sastra menyuarakan semangat anti tirani, anti kezaliman, menegakkan kebenaran dan keadilan.

Sayangnya pasca Orde Lama runtuh dan naiklah Soeharto dengan Orde Baru, pers dan termasuk karya sastra diawasi dan amat dibatasi. Praktis tak muncul banyak karya sastra berkualitas karena dikekang oleh Orba. Di masa-masa otoriter itu, sastrawan muslim muncul perlahan dari bawah kendati tidak sporadis. Dari pesantren muncul Mustofa Bisri, Zawawi Imron hingga Abdul Hadi WM yang menyajikan sajak yang kontemplatif. Dari jalanan seperti Malioboro di Yogyakarta, di bawah didikan Umbu Landu Paranggi seorang sastrawan sufi misterius asal sumba, lahir sastrawan besar yakni Emha Ainun Nadjib. Walau tak banyak rekan satu generasi, seorang Emha mampu melahirkan ratusan karya berupa sajak, prosa, novel, esai hingga pementasan yang cukup berpengaruh. Karya-karyanya yang Islami, tak lepas dari perhatian dan kritiknya atas realitas sosial dan kezaliman yang terjadi. Pada akhir tahun 80’an Emha Bersama Jamaah Salahuddin UGM menggelar pementasan Lautan Jilbab sebagai bentuk protes atas pembatasan jilbab di masa Orba. Ia juga menggelar pementasan bertajuk Pak Kanjeng untuk memprotes pembangunan waduk Kedung Ombo yang menggusur dan menenggelamkan paksa 6 desa di Boyolali. Lakon Pak Kanjeng ini menjadi awal terbentuknya kelompok musik gamelan bernama Kiai Kanjeng yang dipimpin oleh Emha dan eksis hingga hari ini.

Setelah 32 tahun Orba berkuasa, bak sebuah sumbatan yang kemudian dibuka, di era awal reformasi begitu deras karya sastra lahir dan bermunculan, termasuk sastra Islam. Satu generasi sastrawan muslim yang berhimpun di Forum Lingkar Pena (FLP) cukup dominan muncul pasca reformasi dan mendapat tempat di hati banyak pembaca hingga beberapa tahun setelahnya. Nama-nama seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Afifah Afra, Gola Gong, Tasaro GK, Habiburrahman El Shirazy adalah sastrawan dan sastrawati yang digemari muda-mudi kala itu. Para penulis ini dibibit sejak sebelum reformasi pada awal tahun 1990an dalam naungan Majalah Annida yang merupakan majalah berisi cerpen Islami untuk remaja. Lalu kemudian ketika para penulis cerpen ini telah matang melahirkan banyak sekali karya sastra yang laku keras seperti Ketika Mas Gagah Pergi, Balada Si Roy hingga Ayat-Ayat Cinta.

Gerakan masif sastrawan muslim ini tak luput dari kritik. Okky Madasari, seorang sastrawan juga kritikus sastra dalam tesisnya menyebut karya-karya FLP cenderung bersifat populer dan berorientasi pasar ketimbang berisi sastra yang mendalam. Ia juga tak banyak memunculkan kritik atas realitas sosial dan lebih banyak mengedepankan simbol dan atribusi keislaman saja, bukan dalam ranah substansinya menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Kendati demikian, menurut penulis FLP punya kontribusi besar dalam membentuk kelas menengah muslim yang dominan hingga hari ini.

Sayangnya hari ini regenerasi FLP nampak mandek, belum ada generasi kedua yang muncul setelah lebih dari dua dekade setelah angkatan Helvy dkk. Warna sastra yang islami mulai nampak pudar, dan warna sastra di Indonesia hari ini justru malah banyak dibentuk oleh kader-kader Goenawan Mohamad dalam naungan Salihara yang dibentuk pada tahun 2008. Karya-karya sastra yang kritis dan vulgar banyak muncul dari Ayu Utami, Dewi Lestari, Eka Kurniawan dsb. Bahkan beberapa tak segan mengkritisi agama, sebagaimana Ayu Utami dalam Bilangan Fu mengkritisi agama langit yang cenderung menjauhkan manusia dari alam dan merusak lingkungan ketimbang agama-agama lokal yang menjaga alam.

Baca juga: Membangun Generasi Pejuang dengan Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Sastra, Worldview dan Islamisasi

Okky Madasari dalam tesisnya menyatakan, apa yang dihadirkan dalam karya sastra merupakan gambaran kehidupan. Karya sastra bisa menjadi cermin atas apa yang terjadi dalam masyarakat pada satu periode tertentu. Sehingga karya sastra tidak bisa dipisahkan dari realitas sosial dimana ia dibentuk dan dipengaruhi oleh realita di dalam masyarakat dan kemudian ikut membentuk realita sosial tersebut. Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat akan mempengaruhi karya sastra yang dihasilkan. Sebaliknya, karya sastra juga turut melahirkan perubahan sosial. Idealnya, Tjahjono Widarmanto menjelaskan bahwa karya sastra yang sukses adalah sastra yang berhasil membangun dunia baru berangkat dari penafsiran seorang penyair terhadap realitas kehidupannya.

Oleh karena itu, bagi banyak pihak sastra amatlah penting menjadi medium agar pesan sampai dan terserap ke dalam pandangan hidup atau worldview masyarakat. Sehingga sastrawan terdahulu merasa penting untuk kemana hendak mengarahkan worldview masyarakat, kemana perubahan sosial hendak didorong. Sebagaimana pujangga baru yang berusaha mengarahkan arah kebudayaan baru bangsa Indonesia di akhir masa kolonial, atau Lekra yang mengorganisir ribuan sastrawan untuk menanamkan nilai-nilai kerakyatan yang marxis di benak publik, hingga FLP yang oleh Tempo disebut sebagai ‘Pabrik Penulis Cerita’ dengan atribusi keislaman.

Dalam konteks dakwah dan Islamisasi, peran sastrawan muslim amat sentral, sebab sastrawan muslim bukan hanya seorang sastrawan beragama Islam. Menurut HB Jassin ukuran sastrawan muslim yang mengusung kesusastraan Islam bukanlah identitas keislaman yang dimiliki pengarangnya. Lebih dari itu, yamg dilihat adala cita-cita dan pandangan hidup yang ada dalam buah kesusastraan yang dihasilkan.

Saat Hamka telah tiada. Mustofa Bisri, Zawawi Imron hingga Emha Ainun Najib mulai menua. Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman, Gola Gong tak lagi aktual. Sementara dari sisi lain para sastrawan tanpa pandangan hidup Islam kian masif menguasai ruang baca, benak publik dan generasi muda. Akankah lahir generasi baru sastrawan muslim? Akankah muncul kembali kesusasteraan Islam yang kuat yang bisa meluruskan pandangan hidup masyarakat? Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.