Membangun Generasi Pejuang dengan Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Oleh: Hasan Al-Asy’ari

Jika kita memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an, maka salah satu kesimpulan yang bisa kita tarik adalah bahwa al-Qur’an mengajarkan optimisme. Al-qur’an selalu mendorong dan memotivasi umat Islam untuk berjuang dan tidak pernah putus asa. Salah satunya misalkan pada surah Yusuf ayat 87 yang artinya, “Hai anak-anakku, pergilah, maka cari tahulah tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir”.

Ayat ini berkaitan dengan cerita Nabi Ya’qub as. yang tidak pernah jemu memanjatkan doa kepada Allah supaya dipertemukan lagi dengan Yusuf dan saudaranya Benjamin. Beliau juga terus berusaha mencari Yusuf dan Benjamin dengan berbagai cara, salah satunya dengan meminta anak-anaknya yang masih bersamanya untuk mencari informasi mengenai Yusuf dan Benjamin. Ayat ini mengajarkan bahwa orang beriman itu harus bersikap optimistis dan tidak putus berusaha selama masih ada peluang yang tersedia. Allah swt. kuasa menciptakan sebab-sebab yang memudahkan pencapaian harapan.[1]

Ayat yang lain misalnya surah al-Insyirah ayat 5 yang ditegaskan lagi pada ayat 6, “maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (5), sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Allah swt. dalam ayat 5 dan ini bermaksud menjelaskan salah satu sunnah-Nya yang bersifat umum dan konsisten, yaitu setiap kesulitan pasti disertai atau disusul oleh kemudahan selama yang bersangkutan bertekad untuk menanggulanginya.” [2]Banyak ulama tafsir yang memahami arti ma’a  dalam ayat ini yang arti harfiahnya bersama  dalam arti sesudah. Pakar Tafsir, az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa dekat dan singkatnya waktu antara kehadiran kemudah dan kesulitan yang sedang dialami. Sedangkan pengulangan ayat oleh para ulama’ dipahami sebagai penekanan. [3]

Baca juga: Urgensi Silaturahim Dalam Kitab Tanbihul Ghafilin

Di sisi lain, jika kita perhatikan baik pada ayat 5 dan 6, kata al-usr (kesulitan) berbentuk definite (memakai alif lam).  Ini menunjukkan sebuah kesulitan yang sama. sedangkan kata yusran (kemudahan) tidak berbentuk definite. Ini menunjukkan bahwa kemudahan yang diberikan berbeda. Sehingga kedua ayat tersebut mengandung makna “setiap kesulitan akan disusul/dibarengi dengan dua kemudahan”.[4]

Selain 3 ayat ini, tentu masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang optimisme dan perjuangan.  Hal ini jelas-jelas menunjukkan bahwa sebagai seorang Muslim, kita harus mempunyai mental yang tangguh, tidak mudah menyerah dalam berbagai keadaan, terutama apabila yang kita lakukan adalah memperjuangkan tegaknya agama Allah di muka bumi ini yang jelas-jelas hal ini merupakan sebuah tindakan yang benar dan mulia.

Jika kita membaca dan mempelajari  al-Qur’an, harusnya umat Muslim tidak akan kalah dalam berbagai bidang dengan Barat. Dari ayat-ayat ini kita bisa melihat bahwa kemunduran umat Islam saat ini, karena kita sudah meninggalkan ajaran-ajaran agama kita dan berkiblat pada dunia Barat. Lembaga-lembaga pendidikan dari Barat telah melahirkan manusia-manusia “pekerja” yang bertujuan duniawi semata. Terasa jelas sekali bahwa cara pandang kita digeser dari cara pandang yang sebenarnya akan melahirkan manusia-manusia hebat menuju cara pandang yang materialistis, yang menghargai manusia seharga materi. Jika dilihat dari sisi lain, mengadopsi cara pandang barat ini mengakibatkan umat Islam juga jadi kehilangan identitasnya.

Penulis melihat beberapa hal inilah yang ingin dikembalikan oleh beberapa pemikir kita saat ini, salah satunya prof. al-Attas yang mengusung konsep ta’dib untuk pendidikan.[5]Jadi, menurut al-Attas,  hilangnya adab menjadi masalah utama dalam pendidikan saat ini.

Al-Attas mendefinisikan adab sebagai, “disiplin tubuh, jiwa, dan ruh; disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmaniah, intelektual, dan ruhaniah; pengenalan dan pengakuan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat (maratib) dan derajatnya (darajah)”.[6] Secara sederhana, adab ini diartikan sebagai tindakan yang benar/tepat (right action).

Prof. al-Attas menyatakan bahwa munculnya ketidakberadaban ini dikarenakan ilmu yang salah (false knowledge). Karena ilmu yang salah, akan melahirkan kebingungan mengenai mana yang benar dan mana yang salah. Pada akhirnya, mereka tidak mampu memilih dan melakukan hal yang benar atau yang disebut right action tersebut.

Jika kita amati, kesalahan ilmu (false knowledge) ini erat kaitannya dengan kesalahan cara pandang (worldview). Kita bisa katakan bahwa memperbaiki kerancauan dalam ilmu, berarti memperbaiki cara pandang manusia. Sehingga perbaikan cara pandang ini menjadi dasar untuk mewujudkan manusia yang beradab. Karena cara pandang yang salah pasti akan melahirkan tindakan yang salah (wrong action).

Perbaikan cara pandang dalam umat Islam dari cara pandang Barat menuju cara pandang Islam ini merupakan proses menemukan jati diri umat Islam. Ketika jati diri ini sudah bisa ditemukan, maka umat Islam akan menjadi umat yang paling tinggi seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw. yang artinya, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya” (H.R. Bukhari).

Baca juga: Fenomena Phubbing Generasi Milenial dan Hilangnya Adab

Cara pandang yang benar ini telah melahirkan orang-orang Islam yang hebat seperti misalnya Muhammad al-Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel pada umur yang sangat muda. Semenjak kecil, al-Fatih telah ditanamkan untuk menjadi seorang pejuang dengan dijelaskannya mengenai hadis Nabi tentang akan ditaklukkannya Konstantinopel, yang artinya “Sesungguhnya akan dibuka Kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhari 139). Artinya, hadis Nabi ini telah banyak mempengaruhi cara pandang al-Fatih sehingga ia bisa tumbuh dalam semangat perjuangan ditambah lagi dengan didikan yang tepat.

Pandangan konsep al-Attas mengenai adab ini juga telah memberikan banyak sekali pencerahan terhadap permasalahan umat Islam saat ini, terutama dalam bidang pendidikan. Hal ini karena beliau tidak hanya menjelaskannya secara teoritik, tapi juga mencontohkannya melalui karya riilnya, yaitu ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization). Dalam ISTAC ini beliau menerapkan konsep-konsep adabnya dan terbutkti saat ini, ISTAC melahirkan lulusan-lulusan yang kualitasnya tidak kalah denga sarjana lulusan Barat yang telah lama berdiri seperti Oxford, Cambridge dan sebagainya.[7] Di antara lulusan ISTAC adalah Dr. Ugi Suharto dan Dr. Syamsuddin Arif yang bisa dikatakan saat ini menjadi tokoh pemikiran Islam sekaligus pejuang berbagai konsep prof. al-Attas termasuk konsep adab ini.

[1] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Volume 6, hlm. 163

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Volume 15, hlm. 417

[3] Ibid, hlm. 418

[4] Ibid, hlm. 419

[5] Hamid Fahmi Zarkasyi dkk., Membangun Peradaban dengan Ilmu, hlm.xv

[6] Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, terj., Haidar Bagir (Bandung: Penerbit Mizan, 1990), hlm. 53

[7] Baca lebih lanjut mengenai penerapan konsep adab Syed Muhammad Naquib al-Attas pada buku karangan Muhammad Ardiansyah yang berjudul Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya pada Perguruan Tinggi (Depok: Yayasan Pendidikan Islam at-Taqwa Depok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.