Oleh: Ahmad Jilul QF/Peserta PKU Angkatan 14

Di era masifnya teknologi informasi sedikit sekali kiranya manusia yang tidak memiliki media sosial. Media sosial menghadirkan dunia baru berupa dunia virtual dimana peradabannya dibentuk dengan alogaritma. Dan alogaritma-alogaritma dalam media sosial ini berperan sentral dalam membentuk jati diri manusia-manusia yang hadir dan eksis dalam dunia virtual. Terutama generasi millennial dan Gen Z yang lahir belakangan dan biasa disebut sebagai digital native atau telah sejak amat belia menjadi bagian dari dunia virtual.

Baca juga: Mendamba Generasi Baru Sastrawan Muslim

Media sosial menjadikan diri seseorang sebagai pusat dari peradaban, dimana seseorang membagikan apa yang ia pikirkan hingga lakukan untuk kemudian mendapat respon dari orang lain. Dengan alogaritma bernama follower, seorang pengguna medsos didorong mengukur dirinya dari kuantitas orang yang mengikuti akunnya. Dengan alogaritma bernama engagement rate seseorang mengukur dirinya dari kuantitas orang yang menyaksikan dan menanggapi setiap aktivitasnya. Lalu dengan alogaritma micro-targeting, seseorang hanya akan melihat apa yang ia ingin lihat. Peradaban virtual dengan alogaritma demikian tak heran membentuk manusia-manusia narsistik yang mengejar pengakuan dan kekaguman orang lain atas dirinya serta tidak mau menerima kebenaran dari pihak lain.

Narsistik atau narsisme pertama kali dirumuskan oleh Bapak Psikologi Barat bernama Sigmund Freud. Ia mengambil terminologi narsisme dari tokoh mitos Yunani bernama Narcissus yang sangat terpengaruh oleh rasa cinta akan dirinya sendiri sehingga dikutuk mencintai bayangannya sendiri. Saat berkaca di kolam, ia tanpa sengaja menjulurkan tangannya untuk meraih refleksi dirinya tersebut hingga akhirnya tenggelam. Sehingga seseorang bisa disebut narsis adalah ketika seseorang mengglorifikasi dirinya, dimana kekagumannya akan dirinya begitu besar ketimbang kekaguman pada yang lain, ia mengejar pengakuan dan kekaguman orang lain dan selalu merasa seolah dunia berputar mengelilingi dirinya.

Tanpa konsep diri yang kuat, seseorang akan mudah terjebak pada narsisme. Lebih lanjut narsisme dapat membentuk mentalitas merasa diri paling benar sementara yang lain salah. Dalam era postmodern dan pasca-kebenaran, media sosial mempermudah terbentuknya popularitas semu bahkan otoritas semu. Dimana pada akhirnya sandaran seseorang sejatinya bukan lagi kebenaran, tapi hitungan-hitungan virtual jumlah respon banyak orang. Ditambah alogaritma media sosial berperan besar dalam mengepung akal sehat seseorang sehingga terpedaya dari menemukan kebenaran.

Dalam memasuki rimba peradaban virtual yang ditopang oleh postmodernisme, seseorang memerlukan konsep diri – atau yang dalam psikologi disebut sebagai id – yang kuat. Dalam Islam, konsep diri tidak dapat dilepaskan dari aspek teologis, ia menjadi bagian integral dari aqidah seorang Muslim. Konsep diri dalam Islam sejatinya adalah yang Allah sebut sebagai “nafs” dalam Al-Qur’an. Nafs, Nafs – dalam bentuk jamaknya anfus – yang dipanggil dan disumpah Allah untuk mempersaksikan bahwa Allah adalah Rabb-nya.

وَإِذْ أَخَذَ رَ‌بُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِ‌هِمْ ذُرِّ‌يَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَ‌بِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَافِلِينَ

Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa mereka: “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab: “Betul, sungguh kami bersaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tidak ingat terhadap ini.” – Q.S. Al-A’raaf [7]: 172

Relasi konsep diri dalam Islam yakni nafs dengan Tuhan, juga diperjelas dengan sebuah pernyataan dari Imam Yahya bin Muadz Ar Razi yang telah banyak kita tahu:  ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه , yang artinya, Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya. Kutipan tersebut juga dinukil oleh Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas yang tertanam kuat dalam budaya dan benak masyarakat Melayu, yakni: Barang siapa mengenal diri, Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Mengenal diri atau nafs menjadi penting karena ia memiliki berbagai kecenderungan. Dalam Al Qur’an nafs disebut memiliki beberapa kecenderungan seperti Nafsul Muthmainnah ( النفس المطمئنة) yakni diri atau jiwa yang tenang,  Nafsul Lawwamah (النفس اللوّامة) yaitu diri atau jiwa yang tercela dan Nafsu Ammarah bis su’ (النفس الأمارة بالسوء) yakni diri atau jiwa yang mendorong kepada dosa.

Seorang muslim semestinya dapat mengarahkan kecenderungan nafs-nya ke arah yang diridhoi Allah, maka ilmu dalam mengolah jiwa dan mengendalikan nafs yakni Tasawwuf menjadi penting bagi seorang Muslim. Dengan Tasawwuf, seseorang akan sibuk bergulat bahkan berdialog dengan diri dan jiwanya untuk mengendalikannya pada kebaikan. Seorang Hamba akan sibuk bermuhasabah mencari cela dalam jiwanya untuk kemudian ia perbaiki. Sebagaimana Allah serukan dalam firmanNya:

وَفِى اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ

“Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya” – QS Adz Dzariat: 21

Baca Juga: HERMENEUTIKA DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN; MENYOAL METODOLOGI PEMBACAAN KONTEMPORER

Bertolakbelakang dengan konsep diri yang dikonstruksi oleh peradaban virtual dengan berbagai alogaritmanya, dimana seseorang yang konsep dirinya belum tentu kokoh, terus menerus dibuat haus akan perhatian dari luar diri. Pada akhirnya ia tak sempat menengok dan mengevaluasi kondisi dalam diri dan jiwanya yang bisa jadi rapuh. Kondisi ini yang kemudian di beberapa negara Barat hingga Korea Selatan membuat tak sedikit orang terombang-ambing bahkan hingga bunuh diri akibat perundungan di media sosial atau cyberbullying. Sebab acuannya konsep dirinya adalah respon pihak lain, jika respon dari pihak lain sesuai yang ia inginkan maka ia akan Bahagia, sementara jika responnya tak sesuai dengan yang ia inginkan maka ia akan nestapa.

Wallahu a’lam bishshowab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.