Oleh: Gunawan Andi Pranata

Khutbah I


الحمد لله بارئ النسم وخالق اللوح والقلم أحمده تعالى على ماأسدى وأنعم، وأشهد أن لآ إله إلا الله وحده لا شريك له، له الحمد كله، له الحكم كله، له الخلق كله وإليه ترجعون. وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، حبيبه وخليله، أرشده بشيرًا ونذيرًا بين يدى الساعة وكشف باذن ربه الغمّة.
يقول تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران:102). وقال أيضـا: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء:1). وقال أيضـا: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (الأحزاب:70-71) أمّا بعد: فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار. اللهمّ صلّ وسلّم وبارك عليه وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.

Ma’asyirol Muslimin rohimakumulloh

Allah SWT telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang mulia dan sebaik-baiknya ciptaan. Dalam kitab Thariqul Hijratain wa Baabus Sa’adatain dari Ibnu Qayyim al Jauziyah, Allah SWT menciptakan makhluknya dalam beberapa kelompok, diantaranya:

1. Malaikat
Allah SWT menciptakan malaikat dari cahaya yang dilengkapi dengan akal tanpa dilengkapi syahwat. Malaikat merupakan ciptaan Allah yang tidak pernah melakukan maksiat dan selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, tidak makan dan minum, tidak berjenis kelamin, tidak mempunyai keturunan dan tidak ada yang tahu jumlah keseluruhannya kecuali hanya Allah SWT yang dapat mengetahui.

2. Hewan
Allah SWT menciptakan hewan atau binatang yang memiliki syahwat tanpa dilengkapi dengan akal. Hewan diletakan pada kedudukan yang lebih rendah dibandingkan dengan manusia. Meskipun demikian, al-Qur’an menyuruh setiap Muslim untuk memperlakukan hewan dengan rasa belas kasihan dan tidak menganiaya mereka. Hewan berseta makhluk lain dipercayai, senantiasa memuji Tuhan walaupun perkara ini tidak dinyatakan sebagaimana yang manusia lakukan

3. Manusia
Manusia merupakan ciptaan Allah SWT dengan sebaik-baiknya ciptaan. Menciptakan manusia yang dilengkapi dengan akal dan nafsu syahwat sekaligus. Maka Allah mengabadikan sebaik-baiknya bentuk penciptaan manusia dalam al-Qur’an, surat at-Tin ayat 4 yang berbunyi:


لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Yang artinya :
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa terkait perbedaan makhluknya berdasarkan keberadaan akal dan nafsunya, maka tidak heran bila malaikat adalah gambaran makhluk yang patuh dan taat terhadap segala perintah Allah kepadanya, karena ketiadaan syahwatnya. Malaikat juga banyak memiliki ilmu terkait penggunaan akalnya itu.
Sementara itu hewan merupakan kebalikan dari malaikat. Yang tidak memiliki akal, namun hanya memiliki nafsu. Karenanya hidupnya hanya berdasarkan naluri dan insting hanya untuk memenuhi kebutuhan agar hidup dan berkembang biak semata.

Berdasarkan gambaran malaikat dan hewan itu, maka manusia adalah yang paling sempurna memiliki keduanya yaitu akal dan nafsu. Tetapi yang menjadi permasalahan terletak pada sebagaimana cerdas seseorang itu mengelola nafsunya dengan anugerah akal yang diberikan Allah kepadanya. Dalam buku Uddatush shabirin, Qatadah ra menegaskan tentang hal itu dalam riwayatnya, ia berkata :

“Allah menciptakan malaikat dengan akal tanpa syahwat dan menciptakan hewan dengan syahwat tanpa akal, serta menciptakan manusia dan menjadikan baginya akal dan syahwat. Maka barang siapa akalnya mengalahkan syahwatnya, maka dia bersama malaikat, dan barang siapa syahwatnya mengalahkan akalnya maka dia seperti hewan”.

Ma’asiral muslimin hafidzokumullah

Manusia mempunyai derajat kemuliaan yang berbeda-beda di hadapan Allah SWT, derajat kemuliaan seorang manusia dilihat dari ketaqwaanya. Ath Thobari rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia”. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari keturunan kalian”
Dan ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Yang artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dari ayat al-Qur’an dan hadits tersebut, dapat kita ambil pelajaran, bahwa derajat kemuliaan seorang manusia tidak dilihat atas kekayan yang dimiliki, bukan dilihat dari warna kulitnya, bukan dilihat dari keturunnanya, bukan dilihat dari ras atau sukunya dan bukan pula dilihat atas pakian dan perhiasan yang dikenakannya. Melainkan dilihat atas ketaqwaanya terhadap Allah yang maha esa.

Ma’asirol muslimin rohimakumullah

Kita sekarang berada di bulan Dzulhijjah. Bulan ini merupakan salah satu bulan yang dimuliakan. Allah SWT menegaskan dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 36, yang berbunyi:


إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Yang artinya:
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Kemudian Nabi Muhammad SAW dalam satu haditsnya menegaskan bahwa empat bulan haram (suci) yaitu, tiga bulan berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta Rajab yang berada antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban. (HR Al-Bukhari).

Bulan Dzulhijjah dihiasi dengan berbagai macam ibadah, yang dapat meningkatkan ketaqwaan kita terhadap Allah SWT. Diantaranya di bulan ini terdapat kewajiban haji bagi yang mampu, yang merupakan rukun Islam yang ke lima. Kemudian dianjurkan memperbanyak amalan soleh di sepuluh hari pertama dari bulan dzulhijjah, disunahkan puasa tarwiyah pada tanggal 8 dzulhijjah dan puasa arafah tanggal 9 dzulhijjah bagi yang tidak menunaikan ibadah haji. Dan pada tanggal 10 dzulhijjah merupakan hari ‘Idul Adha atau hari raya qurban. Dan banyak amalan lain yang dapat meningkatkan ketakwaan kita terhadap Allah SWT.

Ma’asyirol muslimin hafidzokumullah

Demikian khutbah singkat ini kami sampaikan. Dengan semangat menjadi makhluk yang mulia dihadapan-Nya, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah yang maha esa. Dan marilah kita selalu mencari dan mempersiapkan bekal kehidupan di akherat, karena khidupan didunia hanyalah sementara. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Umar rodiallohu anhu, Rasulullah SAW bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

Yang artinya:
Hiduplah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ))
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَعْوَاتِ يَاقَضِيَ الحَاجَاتِ. اللّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عبادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يأمرُ بالعَدْلِ والإحسانِ وإيتاءِ ذِي القربى وينهى عَنِ الفحشاءِ والمنكرِ والبَغي ، يعظُكُمْ لعلَّكُمْ تذَكَّرون. فاذكُروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكُروهُ يزِدْكُمْ واستغفروه يغفِرْ لكُمْ واتّقوهُ يجعلْ لكُمْ مِنْ أمرِكُمْ مخرَجًا. وَأَقِمِ الصَلاَة.

Penulis adalah peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Angkatan ke XIII Universiatas Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.