Oleh: Arif Setya

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له، إله الأولين والآخرين، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله صادق الوعد الأمين.

اللهم صل وسلم على سيد الأنبياء والمرسلين، محمد بن عبد الله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه الطيبين الطاهرين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

قال الله تعالى في كتابه المبين: ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلون. أما بعد.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Seminggu yang lalu, kita juga telah menyaksikan sebuah pergantian tahun.

Apabila kita coba perhatikan, pada setiap pergantian tahun baru, di hampir seluruh belahan dunia – termasuk di Indonesia — umat manusia membanjiri pusat-pusat keramaian untuk merayakan pergantian tahun masehi. Guna mengisi menit-menit terakhir menuju tahun yang baru, mereka berpesta ria, bernyanyi, dan menari. Tua, muda, laki-laki, dan perempuan; semuanya larut dalam kegembiraan, melihat ke langit sembari menyaksikan bunga api. Itulah pemandangan tahunan yang selalu kita lihat pada satu Januari.

Akan tetapi, yang mengherankan adalah mengapa kebanyakan umat Islam, ketika terjadi pergantian tahun hijriyah, seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi. Bahkan mungkin sebagian umat Islam tidak mengetahui bahwa tahun Islam sudah berganti. Tidak ada perayaan, tidak ada kegembiraan, dan tidak ada pemandangan, sebagaimana yang kita lihat pada pergantian tahun masehi.

Tentunya bukan perayaan dan foya-foya, atau melakukan segala jenis kemaksiatan, adalah hal yang kita inginkan dalam menyambut tahun baru umat ini. Tapi kita ingin, melihat umat Islam miliki kebanggaan akan identitas mereka sendiri. Atas sesuatu, yang membuat mereka spesial, dibandingkan dengan budaya atau peradaban lain. Tahun baru Hijriyah adalah salah satu syiar dan kebanggaan umat ini. Ia adalah identitas spesial, yang Islam miliki.

Hijrah memiliki kedudukan tinggi di dalam Islam, karena ia merupakan sebuah tindakan historis yang strategis. Sebagai sebuah ajaran Rasul, Hijrah tetap berlaku hingga akhir zaman nanti. Namun sayang, terdapat berbagai kesalahapahaman atau penyempitan konsep, di tengah maraknya berbagai praktik berlabel hijrah pada hari ini.

Ustadz Asep Sobari mengingatkan bahwasannya, terdapat istilah penting yang terikat dengan Hijrah, namun ia kurang populer dan kurang mendapatkan perhatian secara memadai. Istilah tersebut adalah Mahjar. Apa itu Mahjar?

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Ketika kita berbicara hijrah, maka hijrah berarti perpindahan. Berpindah berarti, ia bergerak dari satu titik, menuju titik yang lain. Mahjar, adalah tempat tujuan dalam hijrah tersebut. Seperti Rasulullah SAW yang dahulu hijrah, beliau tidaklah hijrah tanpa tujuan atau tempat yang jelas. Rasulullah sudah mempersiapkan tempat seperti Yatsrib, atau Madinah, sebagai tempat tujuan hijrah. Madinah dengan begitu, adalah mahjar, atau tempat hijrah Rasulullah dan kaumnya.

Maka, tidak ada yang namanya hijrah, tanpa adanya mahjar. Hal ini yang penting, dan harus kita semua pahami. Hijrah tanpa mahjar bukanlah hijrah, namun ia adalah pelarian. Karena sejatinya setiap hijrah butuhkan mahjar. Setiap perpindahan, seperti yang Nabi contohkan, perlukan tujuan yang harus dicapai, kebajikan yang perlu diwujudkan, serta ideal yang akan direalisasikan.

Dalam sejarahnya, Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wasallam melakukan hijrah tidak hanya untuk lari dari Makkah yang menindas umat beriman. Beliau menyiapkan terlebih dahulu lokasi baru yang akan mempengaruhi wajah Arab dan kemanusiaan ke-depan. Pertama beliau mengutus Ja’far bin Abi Thalib beserta rombongan untuk mendatangi Ethiopia yang dipimpin oleh Negus. Negus adalah seorang raja Kristen yang baik, yang mau memberikan pertolongan kepada Ja’far dan para sahabat Nabi.. Disanalah Ja’far mengenalkan Islam, membina umat beriman, serta menyiapkan suaka yang ideal bagi Rasulullah.

Selain Ja’far, Rasulullah juga mengutus Mush’ab bin ‘Umair untuk datang ke Yatsrib. Sebuah wilayah di sebelah utara Makkah. Di sana pemuda berbakat ini juga mengenalkan Islam, membina umat beriman, serta menyiapkan suaka ideal lain bagi Rasulullah. Melalui dakwah Mush’ab inilah, Yatsrib berkembang, menjadi kota yang sekarang kita kenal dengan Madinah. Atau tempat, dimana Din diejawantahkan, diaplikasikan dalam segala lini kehidupan. Disitulah kemudian Rasulullah mewujudkan mahjar, tujuan hijrahnya, sebagai rahmatan lil ‘âlamîn, kâffatan linnâs, liyudh-hirahu ‘aladdîn kullihi, dan berbagai mahjar lain yang disebutkan dalam al-Qur`an.

Melalui contoh yang dilakukan Rasulullah, dapat kita pahami bahwa hijrah bukanlah peristiwa biasa. Ia perlukan persiapan dan perhitungan. Ia butuhkan visi dan impian. Ia perlukan perencanaan yang tepat dan terencana. Ia butuhkan niat yang ikhlas, dan amal yang jelas. Hanya dengan begitulah, tujuan akhir dari hijrah, mahjar, dapat benar-benar terealisasikan. Terwujud dalam kehidupan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Hal ini mungkin berbeda dengan fenomena hijrah hari ini, yang menyerupai pelarian. Terdapat artis yang ketika berhijrah maka performa ibadah dan tampilannya berubah. Tetapi sayangnya, ia tidak menciptakan model hiburan alternatif baru yang edukatif, dan dapat mendekatkan kita kepada keimanan. Ia tinggalkan dunia yang dahulu tanpa pernah menengok kembali, menengok akan kemaksiatan yang pernah dunia sebelumnya hasilkan. Dunia yang mestinya lebih ia pahami, dan bisa ia warnai dengan nilai-nilai Islam.

Contoh lainnya adalah pengusaha-pengusaha yang setelah hijrah tidak menciptakan model ekonomi alternatif yang terbebas dari riba dan harta haram lainnya. Termasuk para bankir yang eksodus meninggalkan pekerjaannya. Mereka justru kemudian menganggur, tidak melakukan perbuatan produktif apapun, dan menjadi beban bagi negara. Akibatnya, posisinya justru kemudian diisi oleh para orang-orang yang tidak menyukai Islam. Orang-orang yang menggunakan segala kesempatan, untuk menyebarkan kepentingan pribadinya. Mungkin, untuk urusan personal mungkin dia telah menyelamatkan dirinya. Tetapi dalam konteks keumatan, dalam kaitannya dengan masyarakat, dan kebermanfaatan, ia berhijrah tanpa mahjar. Ia berpindah tanpa membangun tujuan yang jelas. Hijrah hanyalah sekedar menjadi pelarian.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Dalam konteks hari ini, terdapat berbagai mahjar, atau tujuan hijrah umat yang urgent untuk dijadikan kenyataan. Pertama, adalah mengenai pendidikan. Pendidikan adalah prasyarat utama yang tidak bisa ditawar, apabila kita ingin keluar dari belenggu kebodohan dan kemiskinan. Namun di lapangan tampak bahwa kualitas pendidikan kita belum menggembirakan. Untuk itu, upaya perbaikan yang sistematis mesti dilakukan. Kita bisa memulai dari diri sendiri, mempromosikan pendidikan yang terbaik bagi keluarga atau anak-anak kita. Pendidikan yang dimaksud disini tentu bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan, bukan. Tujuan akhir pendidikan, adalah untuk menghasilkan orang yang beradab. Menjadi orang yang baik, itulah orientasi dari pendidikan.

Apabila menjadi orang yang baik atau beradab menjadi tujuan utama, dimanapun ia beraktivitas, ia akan menjadi manusia yang baik juga. Entah dia akan menjadi guru, PNS, petani, pedagang, politisi, dan berbagai pekerjaan yang lainnya. Namun jika kita sedari awal menuntut diri atau anak-anak kita untuk bekerja, maka nilai-nilai kebaikan, dan adab, bisa jadi akan tersingkirkan.

Baru-baru ini, kita bahkan dikejutkan, oleh adanya disertasi dari calon doktor di UIN Jogja, tempat saya sebagai alumni UGM sehari-hari beraktivitas. Sebuah disertasi yang mengatakan permpuan setara dengan budak, dan menghalalkan perzinahan. Ini adalah contoh dimana, saat adab hilang dari dunia pendidikan.

Kedua, persoalan ketahanan keluarga. Keluarga adalah pilar penting peradaban yang semakin goncang karena berbagai tuntutan kemodernan. Anak-anak semakin dekat dengan teknologi, yang kadang justru menjauhkan mereka dengan keluarga. Sayang, orang tua juga banyak yang acuh, tak peduli dengan keadaan yang ada. Krisis generasi muda, generasi penerus bangsa, akan sulit kita elakkan apabila ini tidak kita perhatikan.

Ketiga, ekonomi, tehnologi, dan riset. Kondisi ekonomi umat ini, salah satu penggerak utama kehidupan, masih sangat mengkhawatirkan. Kesadaran tentang riset umat ini juga masih lemah. Berbagai penelitian abal-abal menuduh umat Islam esktrimis dan intoleran, tapi tidak ada satupun ormas Islam yang membantah hal itu dengan bahan penelitian yang memadai dan dengan izzah. Tentu saja semua ini persoalan.

Adalah tugas kita sebagai seorang Muslim, memberikan kontribusi sedikit apapun yang bisa kita lakukan. Semoga yang sedikit ini, dapat berikan sedikit pemahaman, akan makna hijrah yang sebenarnya.

بارك الله لي ولكم بالقرآن الكريم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. أقول قول هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Pada akhirnya semoga khutbah ini bisa memahamkan kembali pandangan kita mengenai hijrah. Hijrah yang selama ini difahami sebagai “meninggalkan sesuatu” hanya akan menjadi pelarian. Ia hanya akan menjadi pelarian jika tidak berangkat dari niat yang benar, dan dilanjutkan dengan jihad, atau dengan kesungguhan untuk mewujudkan mahjar atau tujuan yang diimpikan. Karena memang begitulah yang dilakukan Nabi Muhammad pasca meninggalkan Makkah.

Beliau mewujudkan berbagai perubahan besar-besaran di 10 tahun usia akhirnya di Madinah. Perubahan-perubahan, yang kemudian menuntun beliau kembali menuju Mekah. Membuat kedua kota tersebut sebagai pusat peradaban Islam hingga hari ini. Adapun dalam konteks hari ini, terdapat PR-PR yang kita hadapi. Terdapat berbagai mahjar yang mendesak untuk diwujudkan umat, dari pendidikan, ekonomi, politik, ataupun sains dan teknologi.

Tentu itu semua tidak bisa terwujud, tanpa ukhuwah, tanpa usaha bersama. Dan yang tak kalah penting, adalah restu, ridho, dari Allah SAW. Maka, pada siang hari ini mari bersama-sama kita berdoa. Berdoa agar Allah memberikan kita semua kekuatan, untuk menjalani masa depan yang akan datang, hingga kita kembali dipertemukan di surga-Nya, di akhirat-Nya kelak.

إن الله وملائكته يصلون على النبي، ياأيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل وسلم وبارك على محمد وعلى آله وأصحابه وقرابته وأزواجه وذرياته أجمعين. اللهم اغفر للمسلين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. إنك سميع قريب مجيب الدعوات، وياقاضي الحاجات.

اللهم لاتدع لنا ذنبا إلا غفرته ولا همّا إلا فرجته ولا دينا إلا قضيته ولا حاجة من حوائج الدنيا والآخرة إلا قضيتها يا أرحم الراحمي

اللهم يا مصرف القلوب، صرف قلوبنا على دينك، اللهم يامصرف القلوب، صرف قلوبنا على طاعتك.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العاليمن.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.