Oleh: Muhammad Syamsul Arifin/Peserta PKU Angkatan 9

Pendahuluan

Setiap manusia yang lahir senantiasa membawa fitrah atau tendensi untuk menyembah sesuatu yang dianggap sakral atau transenden. Fitrah itu mendorongnya untuk beripikir, berusaha, dan berkontemplasi untuk menentukan siapa Tuhannya kemudian bagaimana ia beragama. Dalam Islam, kita mengenal sejarah Nabi Ibrahim dan proses pencarian Tuhan yang akan disembah dan berserah diri pada-Nya. Perjalanannya penuh pelajaran bagaimana dia menggunakan rasionalitas-empiristik yang kemudian berakhir dengan kepasrahan kepada satu Dzat Maha Pencipta.[1]

Kerberserahan diri Nabi Ibrahim kepada Allah merupakan manifesto dari kepercayan (red: iman) kepada-Nya yang transenden dan imanen. Bersifat transenden karena dia meyakini Allah tidak bisa dilogiskan dan dia berserah diri padanya (hanifa wa ana awwalul muslimin). Kemudian kepercayaannya terhadap imanensi Allah setelah dia melakukan upaya penyelidikan indrawi terhadap benda- benda yang dianggap Tuhan oleh kaumnya, namun akhirnya, sampailah keyakinannya bahwa itu semua adalah ciptaan-Nya (lillazi fathara samawati wal ardli). Tauhidisasi Tuhan Ibrahim disempurnakan oleh ajaran tauhid Islam yang meyakini Tuhan dalam kepercayaan transenden (uluhiyyah) dan imanen (rububiyyah).[2]

Dalam tulisan ini, akan dijelaskan secara singkat konsep Tuhan (divine) dalam agama Islam, Kristen dan kepercayan ateisme. Dalam teologi keagamaan, terdapat perbedaan pendapat yang mendasar dalam konsep Tuhan dimana ada yang percaya kepada satu Tuhan (monoteisme), banyak Tuhan (politeisme), dan anti-Tuhan (ateisme).

Baca juga: Antara “clash of civilization” dan Pluralisme

 

Monoteisme dan Politeisme

Lorens Bagus (2005: 857), dalam Kamus Filsafat mendefinisikan monoteisme sebagai satu sistem kepercayan yang meyakini satu entitas yang Maha Tinggi (Allah), dan politeisme yang meyakini banyak Tuhan (dewa- dewi).[3] Selanjutnya, John Hick[4] menggambarkan monoteisme sebagai kepercayaan pada satu eksistensi yang maha tinggi, sebagai individu yang dapat diterima oleh manusia, sedangkan politeisme merupakan satu keyakinan yang umum pada masyarakat kuno yang dilambangkan (di barat dengan kepercayaan dewa- dewi) Yunani kuno dan romawi.[5]

Agama Islam dan Kristen (pra konsili Nicea) adalah agama yang menganut monoteisme. Islam meyakini satu Tuhan yaitu Allah dan Muhammad sebagai Rasul-Nya.[6] Monoteisme Islam jelas dapat diketahui dari sumber firman Allah dalam Al-Quran dengan istilah Allah Ahad, Ilah Wahid, dll[7]. Dalam Kristen sendiri, monoteisme merupakan ajarannya yang otentik sebelum ditambahkan doktrin trinitas hasil dari konsili Nicea 325 yang sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani pada masa itu.[8] Secara ekspilisit, Bibel menguatkan monoteistik kristen seperti dalam surat Daud, 6:4 “Yesus adalah Allah, Tuhan yang satu”.    [9]

Inkonsistensi kristen sebagai agama monoteistik muncul pasca konsili Nicea (sekarang Iznik, Turki) tahun 325 M. Hal ini dipicu dengan kerancuan pandangan tentang Yesus Kristus diantara umat kristen karena adanya pernyatan eksplisit bahwa “Yesus Kristus adalah Allah” atau “Allah adalah Yesus Kristus”. Sehingganya, para Uskup membuat ketetapan prihal relasi Yesus dengan Tuhan dinyatakan dalam rekonsiliasi Nicea bahwa Yesus adalah Tuhan yang harus dipercaya.[10]

Monoteisme dalam Kristen hari ini berubah menjadi politeisme dengan doktrin trinitasnya. Ajaran ini mengajarkan ke-esaan Tuhan yang ditunggalkan dinyatakan melalui wakilnya: Tuhan Bapa, Ibu, dan Roh Kudus (Tritunggal).[11] Doktrin ini diperkuat oleh bibel dalam surat Yohanes (10:30)[12] sebagai berikut: “Aku dan Bapa adalah satu”. Dalam ayat lain, diceritakan ketika Yesus diingkari ketuhanannya oleh Bangsa Yahudi, kemudian menjawabnya bagaimana mereka mengingkari Yesus (anak Tuhan) yang telah dikuduskan dan diutus oleh Bapa ke dunia sebagaimana tertulis dalam Kitab Taurat, dan ayat itu tidak bisa dihapuskan.[13]

Setelah mengetahui inkonsistensi Kristen, lalu bagaimana dengan kepercayaan monoteisme Islam meskipun terdapat beberapa perbedaan. Monoteisme dalam Islam adalah ajaran aqidah tauhid yang tidak hanya meyakini satu Tuhan, tapi Allah-lah Tuhan yang benar (haqq) untuk disembah.[14] Syaikh Islam, Ibnu Taimiyah membagi klasifikasi Tauhid Islam kedalam tiga bagian: 1) tauhid rububiyah: Allah sebagai Maha Pencipta, Pemberi rizki, Pelindung alam semesta, dll; 2) tauhid uluhiyyah: Allah satu- satunya yang wajib disembah dan tidak ada sekutu baginya; dan 3) tauhid asma wa shifat: Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna dan tidak bisa disamai oleh makhluk dalam bentuk apapun.[15]

Tauhidisasi Allah dapat dibuktikan dengan dalil naqli (al-Qur’an dan Hadist) dan logika. Banyak ayat yang menguatkan keesaan Allah SWT dan seruan untuk menyembahnya. Contoh sederhana perhatikan surat al-Ikhlas yang semuanya menjelaskan ketunggalan Allah. Dia Maha Satu, tempat bergantungnya manusia, tidak diperanak atau memiliki anak untuk melanjutkan eksistensinyas sebagaimana manusia.[16] Al-Qur’an dan Hadist juga membenarkan kepercayaan kepada Allah dengan cara yang logis bagi mereka yang benar- benar menggunakan akalnya.[17]

 

Kepercayaan Ateisme

Selain kedua keyakinan diatas, terdapat satu keyakinan yang berbeda secara fundamental. Keyakinan ini adalah kepercayaan akan ketiadaan Tuhan atau anti- Tuhan yang disebut ateis.[18] Selain keyakinan anti- Tuhannya, kaum ateis ada juga yang mempercayai Tuhan menurut fantasi dia sendiri seperti yang dimetaforakan oleh Nietszche (1844-1900) yang memproklamirkan di Barat bahwa “Tuhan telah mati (God is Tot) karena kita telah membunuhnya”.[19] Tuhan menurut Nietszche adalah Tuhan yang ada dalam pikirannya yang membatasi manusia atas nama religiusitas.

Pemikiran Nietszche tentang penghapusan nilai agama mencapai puncaknya pada doktrin Nihilisme. Dalam karyanya, Will to Power Nietszche menggambarkan Nihilisme sebagai situasi dimana “manusia berputar dari pusat kea rah titik X”. Artinya, “nilai tertinggi mengalami devaluasi dengan sendirinya”.[20] Dari doktrin tersebut Nierszche menggambarkan bahwa nilai tertinggi (agama) akan dengan sendirinya ditinggalkan oleh umatnya. Hal ini berdasarkan realita pada zaman modern Barat dimana rasionalitas menguasai manusia sehingga membuat mereka meninggalkan religiusitas gereja.

Alasan lain dikemukakan para pemikir Barat mengenai Tuhan dan menjadikannya seorang ateis. Menurut Charles Kimball, agama monoteis dapat mencelakakan manusia karena menuntut kepercayaan absolut bahwa Tuhan satu- satunya yang mengatur manusia, dan membatasi kebebasannya. Implikasinya, menurut dia manusia terkekang dengan hukum dan menjadikannya tidak bebas.[21] Jadi, agama menurut Kimball adalah kebebasan tanpa Tuhan dan itulah Tuhan baginya.

Baca juga : Problem Pembaruan Pemikiran Islam; Dari Modernisasi ke Sekularisasi

 

Penutup

Dewasa ini wacana keagamaan memulai babak baru dalam perjalanannya. Fitrah manusia untuk menyembah, mengagungkan dan berserah diri kepada sesuatu yang dinamakan Tuhan membawanya pada rasionalitas untuk memenuhi kebutuhan fitrah tersebut. Sebagian mengawali pencarian Tuhan dengan rasionalitasnya yang membawanya kepada keyakian akan hal yang transenden dan mutlak karena mendasarkan rasionalitasnya pada wahyu. Golongan kedua mempunyai kesamaan dengan yang pertama namun terjadi pergeseran yang jauh karena ‘wahyu’ telah mereka dekonstruksi dan tidak lagi menjadi sesuatu sakral. Tindakan dekonstruksi ini yang mengilhami rekonstruksi konsep Tuhan dalam agama mereka.

Sedangkan golongan yang ketiga tetap mempertuhankan rasionalitasnnya. Akibatnya, mereka mereduksi makna Tuhan dengan rasio atau menjadikan rasio sebagai Tuhan yang akhirnya membawa pada keyakinan bahwa Tuhan telah tiada dan memang itulah ‘Tuhan’ bagi mereka. Wallahu A’lam Bisshowab.      

   

 

 

Referensi

al-Qur’an al-Karim

Ahmad, Saiyah Fareeh, et al, 2008, 5 Tantangan Abadi Terhadap Agama, (Bandung: Mizan)

Al- Kitab Perjanjian Baru (Jakarta: Lembaga al-Kitab Indonesia) cetakan 2012   Amal Fathullah Zarkasyi, 2011, Dirasah fi Ilmi al-Kalam: Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah wa Qadhayaha al-Kalamiyyah, (Gontor: Darussalam Press)

Bagus Lorens, 2005, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia)

Chang, Eric H. H., 2012, The Only True God: Sebuah Kajian Monoteisme al-Kitabiyah, Pent: Joanna Cakra, et al, (Semarang: Borobudur)

Hamid Fahmy Zarkasyi, et, al, 2013, Pluralisme Agama: Telaah Kritis Cendekiawan Muslim, (Jakarta: INSIST)

Henry C. Theissen rev. Vernon D. Doerksen, 1997, Teologi Sistematika, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas)

Hick, John, 2009, Philosophy of Religion, (Delhi: Dorling Kindersley)

Kimball, Charles, 2002, Kala Agama Jadi Bencana, pent: Nurhadi, (Bandung: Mizan)

Kristi, Ellen, 2005, Bukan Allah Tapi Tuhan, (Semarang: Sadar Publications)

Parrinder, Geoffrey, 2007, A Concise Encyclopedia of Christianity, (Oxford: Oneworld)

Shihab, M. Quraish, 2009, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera)

Wilkinson, Philip, 2008, Religions, (Delhi: Dorling Kinderslay)

Zarkasyi, Hamid Fahmi, 2012, Misykat: Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam, (Jakarta: INSIST)

[1]  Q.S. Al- An’am: 75 – 80

[2] Lihat Saiyah Fareeh Ahmad, et al, 5 Tantangan Abadi Terhadap Agama, (Bandung: Mizan, 2008), p. 52

[3] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2005), p. 857

[4] Tokoh Relativisme Agama yang mengaplikasikan teori Copernican revolution terhadap teologi sehingga memindahkan konsep Tuhan ‘mengelilingi’ agama- agama menjadi Tuhan ‘dikelilingi agama- agama (Religion-centredness to God-centredness). Lihat Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat, (Jakarta: INSIST, 2012), p. 142

[5] “Monotheism is the belief that there is but one supreme being who is personal and moral and who seeks a total and unqualified response from human creatures. Polytheism is the belief, common among ancient peoples and reaching it classic expression in the west in ancient Greece amd Rome”. Lihat John Hick, Philosophy of Religion, (Delhi: Dorling Kindersley, 2009) p. 15

[6]  Lihat Philip Wilkinson, Religions, (Delhi: Dorling Kinderslay, 2008) p. 56-157

[7]  QS, 114: 1-4, 2: 163

[8]  Lebih lanjut lihat Pengantar dalam Ellen Kristi, Bukan Allah Tapi Tuhan, (Semarang: Sadar Publications, 2005), p. vii-viii

[9] Daud, 6:4 dalam Geoffrey Parrinder, A Concise Encyclopedia of Christianity, (Oxford: Oneworld, 2007), p. 167

[10] Eric H. H. Chang, The Only True God: Sebuah Kajian Monoteisme al-Kitabiyah, Pent: Joanna Cakra, et al, (Semarang: Borobudur, 2012) p. 37-38

[11] Henry C. Theissen rev. Vernon D. Doerksen, Teologi Sistematika, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997), cet. 4, p. 138

[12] Al- Kitab Perjanjian Baru (Jakarta: Lembaga al-Kitab Indonesia, 2012) surat Yohannes (10:30)

[13] Ibid, surat Yohanes (10: 34-36)

[14] Lihat QS. Al- Baqarah: 255

[15] Lebih lanjut lihat Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, Dirasah fi Ilmi al-Kalam: Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah wa Qadhayaha al-Kalamiyyah, (Gontor: Darussalam Press, 2011), p.259

[16] Lebih lanjut lihat M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera, 2009), p. 722-723

[17] Saiyad Fareed Ahmad, et al, 5 Tantangan Abadi Terhadap Agama, (Bandung: Mizan, 2008), p. 58

[18] John Hick, Philosophy of Religion, (Delhi: Dorling Kindersley, 2009), p. 15

[19] Lihat Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat, (Jakarta: INSIST, 2012), p. 64

[20] Nietszche, Will to Power, 8-9 dalam Hamid Fahmy Zarkasyi, et, al, Pluralisme Agama: Telaah Kritis Cendekiawan Muslim, (Jakarta: INSIST, 2013), p. 112

[21] Lebih lanjut lihat Charles Kimball, Kala Agama Jadi Bencana, pent: Nurhadi, (Bandung: Mizan, 2002), p. 23-24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.