Yusuf Alaidi/ Peserta PKU Angkatan 16

Ilmu dalam Islam merupakan aspek penting yang menjadi dasar bagi manusia untuk mengetahui agama, budaya, dan aspek kehidupan lainya. Eksistensi Ilmu adalah ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan segala sesuatu di alam semesta,  serta menjadi landasan berpikir manusia dalam mengambil tindakan. Oleh karena itu manusia memiliki urgensi untuk mempelajari ilmu-ilmu yang ada pada dunia ini. Menurut Syed Naquib al-Attas definisi ilmu adalah “datangnya ma’na (ilmu) ke dalam diri dan datangnya diri kepada ma;na” artinya dalam diri manusia akan datang sebuah ilmu atau hal-hal yang bersifat dapat menjadi solusi dan manfaat bagi hidup, dan manusia sebagai subjek yang akan menerima ilmu juga harus mempersiapkan diri menerima apa yang hendak diterimanya, sehingga manusia akan sampai kepada ilmu itu sendiri. Namun dalam Islam ilmu tidak hanya sebatas ilmu pengetahuan melainkan dia adalah bentuk adab yang mempunyai sifat harus ditempatkan pada hal yang wajar (seharusnya).[1] Jadi maksud dari wajar ini bukan hanya manusia memproyeksikan dalam akal ilmu tersebut harus digunakan dalam keperluan apa, akan tetapi manusia juga harus memproyeksikan dalam wujud batin (hati) meletakan dan menggunakan sesuai dengan hati nurani bukan hanya emosi dan akal saja. Oleh karena itu agar untuk mendapat ilmu yang benar manusia membutuhkan adab.

Manusia dalam mencari ilmu membutuhkan sarana yang sesuai dan tepat sehingga ilmu tersebut dapat sampai kepada akalnya. Sarana yang dibutuhkan oleh para pencari ilmu (murid) yaitu guru atau dalam bahasa arab akrab disebut dengan Mudaris /Muallim. Tanpa adanya guru sebagai sosok figur yang menyampaikan ilmu kepada seseorang dapat membuat ilmu tersebut menghilang karena ilmu tersebut hanya berhenti kepada seseorang saja, dan tidak ada manusia lain yang mewarisi dan menyebarkan ilmu tersebut sehingga eksistensi ilmu itu sendiri terancam pudar seiring berjalan waktu. Oleh karena itu antara guru dan murid (pencari ilmu) merupakan hubungan yang saling membutuhkan untuk menjaga eksistensi ilmu. Maka peran guru dalam mengajarkan ilmu pun menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Baca Juga: Pendidikan Berbasis Akhlak Dalam Upaya Mengatasi Kerusakan Westernisasi Terhadap Umat Islam – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Konsep kepribadian Guru

Kehadiran guru dalam proses pembelajaran masih memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pembelajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder atau komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan lain-lain yang merupakan hasil dari proses pembelajaran tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.[2] Mengingat peran pentingnya kehadiran seorang guru pada proses pendidikan, maka kemampuan-kemampuan yang seharusnya dimiliki sebagai fondasi profesinya adalah jalan awal bagi keberhasilannya dalam mendidik. Oleh karena itu keberadaan seorang guru secara utuh dalam mendidik murid merupakan aspek yang sangat dibutuhkan.

Kepribadian adalah unsur yang menentukan interaksi guru dengan anak didik sebagai teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola.[3] Apabila Guru memiliki kepribadian maka peserta didiknya pun akan menjadi baik. Dalam  konteks pendidikan Islam, guru adalah semua pihak yang berusaha memperbaiki orang  lain  secara Islami. Mereka ini bisa orang tua, sanak saudara, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat luas. Tentu sebagai figur yang di pandang oleh masyarakat dan murid, guru harus memiliki kepribadian dan kompetensi yang baik. Aan Hasanah menyatakan bahwa kompetensi kepribadian adalah sejumlah kompetensi yang berhubungan dengan kemampuan pribadi dengan segala karakteristik yang mendukung pelaksanaan tugas guru.[4] Guru sebagai pendidik harus dapat mempengaruhi ke arah proses itu sesuai dengan tata nilai yang dianggap baik dan berlaku dalam masyarakat.

Dengan demikian baik-tidaknya citra seorang guru ditentukan oleh tindak kepribadiannya. Dalam urusan lain bagi seorang guru, persoalan-persoalan kepribadian merupakan faktor yang menjadi penentuan terhadap keberhasilan dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik (Mudarris) sebagai sentral figur yang menjadi pusat pendidikan bagi murid, akan menjadi baik ataukah membawa kehancuran bagi masa depan  masyarakat pada masa depan murid. Oleh karena itu kompetensi kepribadian merupakan hal yang bersifat universal artinya harus dimiliki seorang guru dalam menjalankan amanah sebagai Mudarris. dengan hal itu dapat menunjang guru dalam keberhasilan menjalankan tugas/amanah yang diembannya.

Menurut Muhaimin pengertian Mudarris memiliki makna istilah ‘Orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi, serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantasn kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat, minat kemampuan. Profesi dan amanah yang dijalankan oleh seorang guru tidak dapat dianggap sebagai pekerjaan yang murah, remeh, atau pasaran. Karena guru sangat dituntut sebagai pribadi untuk dapat menjadi figur dan Uswatun Khasanah (suri tauladan) bagi murid bahkan masyarakat umum.

Baca Juga: Islam Sebagai Jawaban Problem Kesejahteraan Barat – Program Kaderisasi Ulama (gontor.ac.id)

Dalam dunia pendidikan pesantren, misalnya, guru dan murid memiliki hubungan yang erat. Guru menjadi simbol atau figur yang dapat dicontoh oleh para murid, dan murid melakukan peran sebagai seorang pelajar yang haus akan ilmu. Sehingga munculnya korelasi dan kesinambungan hubungan antara Guru (Mudarris) dan murid (Thalib). Karena guru harus menjadi Uswatun Hasanah bagi para muridnya maka Abd al-Rahman al-Nahlawi menyebut sepuluh sifat yang harus dipenuhi oleh guru yaitu : (a) bersifat rabbani, yaitu semua aktifitas gerak, tingkah laku, ucapan sesuai dengan nilai-nilai Islam; (b) Ikhlas; (c) penyabar; (d) jujur, dan tidak mengingkari apa yang diucapkan kepada murid; (e) selalu berusaha meningkatkan ilmu dan terus mengkajinya; (f) menguasai berbagai metode belajar; (g) mampu mengelola murid, tegas bertindak, serta menyelesaikan persoalan dengan proporsional; (h) memahami perkembangan psikis murid; (i) tanggap dengan berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi murid; dan (j) bersikap adil menghadapi murid.[5] Pondok modern darussalam gontor mempunyai tradisi dalam menjaga keutuhan niat dan perilaku para guru dan santri adalah dengan menanamkan sebuah nilai panca jiwa yang menjadi prinsip kehidupan di pondok diantaranya: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuah islamiyah, dan kebebasan.

Guru pun dituntut untuk menjadi sosok yang adil, dipercaya (amanah), jujur, dan Uswatun Khasanah. Namun demikian jika ditanamkan salah satu panca jiwa pondok yaitu Keikhlasan kepada seorang guru. Keikhlasan tersebut mampu membantu peran seorang Mudarris yang menjadi sentral figur masyarakat dan murid, meringankan amanah yang dipikul, dalam mendidik, menyayangi murid. Sehingga tercipta pribadi guru yang dapat digugu dan ditiru oleh para murid dimana sosok guru dengan kompetensi kepribadian yang ikhlas mengajar. Demikian juga murid akan tertuang dalam hati mereka jiwa keikhlasan yang datang dari guru mereka. Keikhlasan membawa dampak positif yang signifikan kepada guru dan murid dan menciptakan miliu belajar yang efektif dan sehat. Oleh karena itu pendidikan yang diterapkan pada sekolah dapat sampaikan kepada taraf maksimal, dengan memaksimalkan peran guru sebagai muallim, mudarris, dan muaddib.

[1] Syeed Muhammad Naquib al-Attas, “Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandagan Alam”, Ta’dib Internaional, Kuala Lumpur, 2019. Hal. 39-40

[2] Dr. Aaan Hasanah, M.Ed, “Pengembangan Profesi Guru” Pengantar : Prof Dr. Mahmud, M.Si, Pustaka Setia Bandung, Bandung, 2012 hal. 20-21

[3] Arizqi Ihsan Pratama, Mustofa Zahir, “Konsep Kepribadian Guru Menurut Ibnu Sahnun”, Jurnal pendidikan Islam Tawazun, Vol.12 No.1

[4] Dr. Aaan Hasanah, M.Ed, “Pengembangan Profesi Guru” Pengantar : Prof Dr. Mahmud, M.Si, Pustaka Setia Bandung, Bandung, 2012 hal. 22

[5] Abd al-Rahman an-Nahlawi, Usul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, (Beirut : Dar al-Fikr, 1996), hlm 171-176

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.