pku.unida.gontor.ac.id- Kajian Cios di hari Senin pekan ini (yaitu pada tanggal 23 September 2019), disampaikan oleh Ust. Syamsul Badi’ dengan judul Klaim agama Asli Indonesia. Materi ini disampaikan, karena ‘keberhasilan’ aliran kepercayaan dalam meyakinkan MK (Mahkamah Konstitusi) untuk dimasukkan sebagai salah satu agama yang diakui keberadaannya di Indonesia. Dengan pertimbangan utama, sebagai agama asli atau agama para leluhur.
Dalam sesi Pembuka, pemateri menyajikan pendapat salah seorang hakim MK dalam suatu berita online. Seorang Hakim MK tersebut menyatakan ‘agama dari luar saja bisa diakui menjadi agama resmi, masak agama dari leluhur sendiri tidak diakui?”. Oleh yang demikian, tujuan utama dari materi ini adalah untuk ‘meruntuhkan’ klaim agama asli, dengan menggunakan kacamata kesejarahan berserta latar belakang munculnya klaim tersebut.
Pemateri kemudian membedakan antara agama lokal dengan aliran kepercayaan. Agama lokal merupakan agama yang memang benar-benar lahir dari kultur suatu daerah. Misalnya Sunda Wiwitan dan Pamalim Batak. Keduanya, menunjukkan adanya keterkaitan erat, dengan agama-agama besar. Misalnya dalam Sunda Wiwitan terdapat ungkapan yang menunjukkan Syahadat Keislaman, yang berbahasa Sunda. Di dalamnya terdapat ikrar kepercayaan kepada Allah, sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, beserta Nabi Muhammad sebagai utusannya. Sedangkan dalam Pamalim Batak, menunjukkan kesamaannya dengan Kristen, terutama dalam hal bentuk rumah ibadat.
Kedua agama lokal ini menunjukkan ‘bukti’ bahwa proses dakwah (misi) tidak selamanya paripurna. Dakwah memerlukan proses yang sangat panjang, untuk sampai pada kesempurnaannya. Adanya kesamaan terhadap agama, bukan lah kebetulan, tetapi merupakan sebuah ‘jejak’ penyebaran dakwah (misi), yang belum ‘tuntas’ di suatu daerah. Sehingga, mereka meneruskan ‘ritual’ sebagaimana alam pikiran mereka.
Sedangkan dalam aliran kepercayaan, tidak lah terjadi secara alamiah. Tetapi, berupa suatu kepercayaan yang dibuat, dan ‘diorganisasikan’ sedemikian rupa, dalam bentuk wadah, peraturan, dogmatika, sistem ritual dan moral yang benar-benar tertulis. Ini lah perbedaan penting antara kepercayaan asli yang belum terkonsepkan, dengan aliran kepercayaan, yang sejak awal mula memang terkonsepkan dan terlembagakan oleh para pendirinya.
Klaim keaslian tersebut berbanding terbalik dengan fakta. Hal ini dapat dilihat dari ratusan variasi aliran kepercayaan, yang menunjukkan bahwa ‘keaslian’ tersebut hanya klaim yang dibuat oleh beberapa gelintir orang Jawa belaka. Dapat dibayangkan, seorang yang sengaja membuat sistem keyakinan, kemudian mengaku-ngaku sebagai keyakinan asli dan represntatif dari suatu kultur. Belum sebuah fakta lainnya, bahwa apa yang dikatakan sebagai ‘asli’ tidak lebih dari campuran dari berbagai kepercayaan, yang diramu sedemikian rupa oleh pendirinya, kemudian diklaim sebagai suatu yang asli. Dalam aliran Permai, misalnya, mereka meyakini keaslian ajarannya dan menghina agama-agama yang berasal dari luar, tetapi menurut Geertz sendiri, aliran ini mengambil banyak intisari ajaran agama Hindu.
Klaim semacam ini juga memiliki jejak yang panjang dari perjalanan sejarah kolonialisme bangsa Eropa. Thomas Raffles misalnya, adalah orang yang pertama kali menggali khazanah kekayaan Hindu, dan membuat buku ratusan halaman dengan judul The History of Java. Sebuah buku yang didalamnya memuat asumsi rekaan, bahwa peradaban Jawa dibangun berdasarkan warisan agama Hindu. Sehingga, ia melakukan ekskavasi terhadap beberapa bangunan Candi utama, seperti Borobudur dan Prambanan, kemudian proyek ini diteruskan oleh Hindia Belanda.
Pemateri juga menyampaikan bahwa Ekskavasi Candi ini tidak mungkin jika tanpa kepentingan politik apapun. Tujuan dari ekskavasi tersebut jelas ingin menampilkan ‘kebudayaan’ alternatif di luar agama Islam. Hal ini juga dilihat dari pendirian Lembaga Bahasa Jawa pada tahun 1832, atau dua tahun setelah Perang Diponegoro. Sebuah perang yang menyita jutaan gulden Belanda, dan tewasnya ratusan prajurit setia Belanda di tangan kaum perlawanan, yang notabene adalah para santri. Yang menjadi pertanyaan, apakah mungkin pembangunan lembaga bahasa Jawa, dua tahun setelah Perang Diponegara ini bersih dari unsur kepentingan politis apapun? Sehingga pemateri menyampaikan slide dengan menampilkan pernyataan bahwa tujuan dari Lembaga Bahasa Jawa itu sendiri adalah untuk mengetahui wilayah jajahannya, sehingga dapat mengambil kebijakan yang ‘sesuai’.
Lembaga Bahasa Jawa ini juga tidak lepas dari kepentingan misi. Karena dalam kepentingan misi, mereka selalu dihadapkan perlawanan dari umat islam. Pendiri dan direktur pertama dari lembaga ini adalah seorang misionaris Kristen. Salah satu karya besar dalam lembaga ini adalah penerjemahan Injil pertama dalam bahasa Jawa. Selain itu, dalam banyak hasil sastra lainnya, mereka banyak menginisiasi penerjemahan kesusastraan Hindu ke dalam bahasa Jawa, sehingga mudah dipahami oleh para priyayi Jawa waktu itu. Sejak saat ini lah berbagai pujangga beserta karya sastra Jawanya terlahir di Nusantara.
Dengan memisahkan antara unsur Islam dan Jawa, semakin memudahkan misi, karena budaya sendiri sudah ter-deislamisasi-kan. Karena waktu itu, banyak kosakata arab yang masuk dalam literatur bahasa Jawa. Praktis hanya istilah arab dan petuah-petuah yang sarat dengan keislaman, yang muncul dalam kosakata bahasa Jawa sehari-hari. Kemudian, pada akhirnya beberapa kata Hindu bermunculan, seiring dengan kemunculan kembali candi-candi mereka di wilayah Jawa. Sehingga John Pemberton menyatakan bahwa Belanda, punya jasa besar dalam menemukan, menafsirkan dan menentukan ‘identitas’ budaya Jawa.
Kebijakan ‘Indianisasi’ kaum kolonial tidak berhenti di sini, pada masa sesudahnya muncul aliran Theosofi (pimpinan Helena Blavatsky) yang dibawa dari India. Dari India, mereka menyerap berbagai ajaran Gnostik, kemudian turut memberikan sumbangan terhadap karya Sastra Jawa, misalnya dalam Babad Theosofi. Kelompok theosofi ini diikuti oleh orang Eropa dan golongan priyayi Jawa. Beberapa pengikut theosofi, juga mendirikan ‘tarekat’ nya sendiri, seperti Subud dan Sumarah. Dan setelah kemerdekaan, para anggota teosofi juga menginisasi terbentuknya Konggres Kebatinan Indonesia, dengan melakukan banyak pertemuan. Sehingga, banyak penganut kepercayaan yang pada awal mulanya murni ‘dunia batin’, kemudian mendapatkan kelembagaannya, sejak berdirinya loge-loge masonry (theosofi) di beberapa kota di Jawa. Dari belum mengetahui berbagai konsep dan sistematika keyakinan, lewat ‘paguyuban’/tarekat mereka mendapatkan sentuhan ‘theologis’ sekaligus mendapatkan basis primordialisme-nya yang baru.[]

Rep. Ahmad Arifin
Ed. Rodhi H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.